Featured Post Today
print this page
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Imam Suprayogo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Imam Suprayogo. Tampilkan semua postingan

Dukuh Plapar Yang Menjadi Santri

Logo_UIN_Maulana_Malik_Ibrahim_Malang

Dukuh Plapar ini mengingatkan pada saya bagaimana ayah saya dalam berdakwah melakukan pendekatan dengan masyarakat yang belum mengerti sama sekali tentang Islam, sehingga kegiatan sehari-hari mereka jauh dari nilai-nilai Islam. Mereka sangat biasa mengkonsumsi makanan yang tidak halal seperti daging babi hutan, melakukan judi, minuman keras dan perbuatan haram lainnya. Ayah saya memperlakukan mereka sebagai masarakat yang memerlukan penghormatan, artinya terhadap mereka tidak pernah menyakiti dengan cara menyindir dengan kata-kata, apalagi mengolok-olok. Ayah saya selalu melihat mereka sebagai masyarakat yang belum mengerti tentang Islam, karena itu harus dididik dengan cara sebijak mungkin.

Ayah saya selalu berpendapat bahwa sekalipun yang dilakukan mereka jauh dari ajaran Islam, tetapi bagi mereka sudah dipandang benar. Oleh karena itu, jika kita mencoba menyalahkan dan berusaha mengajak ke jalan yang benar ---menurut kita yakni Islam, mereka pun akan menolak. Sebab, apa yang mereka lakukan selama ini diperoleh dari leluhur mereka yang sangat dicintai dan dihormati. Merubah pandangan hidup mereka, jika tidak dilakukan secara hati-hati atau bilkhikmah, akan dimaknai sebagai tidak menghormati para leluhur mereka.

Kata yang lebih tepat untuk mengubah masyarakat ini adalah alkulturasi. Ayah saya tidak pernah mengubah secara drastic dan total kebiasaan mereka. Justru melalui kebiasaan-kebiasaan mereka, dengan sedikit demi sedikit mengenalkan faham tentang Islam ke dalamnya. Suatu misal, di dukuh ini terdapat kebiasaan melakukan bersih desa, kenduri atau selamatan dengan berbagai sesajen. Ayah tidak pernah menyuruh berhenti dari menjalankan kebiasaan itu. Akan tetapi justru melalui kebiasaan itu, ayah mengenalkan ajaran Islam secara bertahap, sedikit demi sedikit. Dalam sesajen yang terdiri atas berbagai jenis makanan yang dihidangkan, ayah yang selalu diminta tampil untuk memberikan penjelasan maksud kenduru diselenggarakan, selalu menyelipkan pada penjelesannya sesuatu yang mengarah pada ajaran tauhid. Sedemikian lembut dan samarnya penjelasan itu, sehingga mereka tidak terasa bahwasanya alam pikiran mereka sedang dipengaruhi dan diubah.

Ayah saya selalu memberikan penjelasan pada saya, bahwa tidak mungkin mengubah masyarakat dapat berhasil dilakukan dengan cara tergesa-gesa, apalagi secara frontal. Kata dia, yang diubah bukan fisik melainkan kawasan hati atau keyakinan.

Istilah dukuh, menunjuk pada wilayah bagian dari sebuah desa. Desa pada umumnya terdiri atas beberapa dukuh. Dukuh Plapar sendiri masuk Desa Watulimo, letaknya jauh dari jalan besar yang bisa dilewati kendaraan roda empat. Ke padukuhan ini, orang biasa menempuh dengan jalan kaki, berjarak kira-kira 3 km dari kantor kelurahan. Waktu saya masih anak-anak, seumur anak sekolah dasar, biasa orang pergi kemana-mana dengan jalan kaki. Kendaraan baik roda dua apalagi roda empat, masih amat jarang ditemui. Pemilik kendaraan bermotor baru dapat dihitung dengan jari jumlahnya, dan hanya beberapa saja yang memiliki sepeda pancal.

Dukuh Plapar dikenal masyarakat sebagai wilayah yang penduduknya gemar berburu babi hutan. Mereka beragama Islam, tetapi tidak mengenal ajaran Islam, kecuali dalam batas yang sangat sederhana, misalnya jika mereka mau berkhitan, nikah dan tatkala meninggal dunia. Entah darimana ajaran ini diperoleh, tidak ada kejelasan. Karena tidak mengenal agama, maka sehari-hari mereka mengkonsumsi daging babi hutan menjadi biasa, demikian berjudi, mabuk-mabukan, dan bergantian isteri juga dianggap hal yang tidak terlalu aib.

Anehnya masyarakat seperti ini tatkala anak mereka menginjak usia belasan tahun juga dikhitan. Begitu pula ketika melangsungkan pernikahan juga mengikuti ajaran Islam. Mereka mengundang pejabat pencatat nikah yang dipanggil dengan sebutan Naib. Pejabat Kantor Urusan Agama (KUA), yang biasanya berkantor di tingkat kecamatan, dengan disebut Naib juga mengalami kesulitan tatkala menikahkan mempelai berdua. Biasanya sebagai pertanda, mereka beragama Islam agar dapat dilayani prosesi pernikahan secara Islam, maka Naib harus menuntunm mereka mengucapkan dua kalimah syahadah. Namun sebatas mengucap syahadah ini mereka selalu mengalami kesulitan, karena memang tidak terbiasa diucapkan.

Memperoleh gambaran masyarakat Dukuh Plapar seperti itu, umumnya kaum santri yang bertempat tinggal di luar Dukuh Plapar tidak mau mendekat. Kaum santri menganggap orang Plapar sebagai orang yang tidak beragama, pemakan daging babi, penjudi, peminum dan seterusnya. Sekalipun tidak pernah terjadi konflik di antara kedua kelompok yang berbeda ini, mereka tidak saling berkomunikasi secara dekat. Di anatara mereka hanya merasa bukan kelompoknya. Mereka masing-masing memiliki kebiasaan dan adat istiadat yang berbeda. Bahkan jika kaum santri, pada saat-saat tertentu harus datang ke Dukuh Plapar biasanya dsilakukan dengan hati-hati, agar tidak makan makanan yang mengandung daging babi.

Pada umumnya, entah dari mana mereka mendapatkan ajaran ang bagus, di antara kelompok yang berbeda dari intensitas keberagamaan itu, ternata tidak pernah terjadi konflik. Di antara mereka sama-sama memahami atas perbedaan itu. Kaum santri biasanya disebut sebagai kaum putih, sedang masyarakat Plapar disebut sebagai kaum merah. Mungkin, perbedaan itu masih diredam oleh adanya saling membutuhkan, misalnya tatkala ada pernikahan, kematian dan sejenisnya, orang Plapar selalu membutuhkan jasa orang santri.

Kerja ulet dan telaten yang dilakukan oleh para da'i, ternyata sekarang Dukuh Plapar sudah berubah secara total. Di dukuh itu sekarang sudah ada masjid dan madrasah. Tidak ada lagi orang membawa tombak dan anjingnya ke hutan untuk berburu babi hutan. Orang-orang Plapar saat ini kalau sore datang ke masjid sholat berjama'ah. Di sana-sini terdengar suara adzan tatkala waktu sholat tiba. Demikian pula bacaan al Qur'an dengan mudah didengar dari berbagai tempat, baik dari rumah maupun masjid. Perubahan itu terjadi, karena para da'i menempuh cara yang tepat dalam berdakwah. Para da'i tidak menjauh dari masyarakat, tetapi justru mencoba menghargai, menghormati dan cara berpikir orang Plapar. Hasilnya orang Plapar menjadi simpatik dan akhirnya mengikuti seruan para dai, sehingga menjadi muslim taat. Melalui kegiatan diba'an, berzanji dan juga tahlil, lama kelamaan orang Plapar menjadi santri. Apalagi, kegiatan kesenian yang bernafas Islam juga dikembangkan. Dakwah seperti ini kiranya yang justru diperlukan agar berhasil dan bukan menakut-nakuti atau mengancam bahkan juga membuat peraturan.

sumber : Imam Suprayogo

0 komentar

Mendidik Itu Memberi Contoh Dan Membiasakan Secara Istiqomah

Tatkala banyak lulusan lembaga pendidikan dirasakan kurang sesuai dengan harapan, seperti misalnya berperilaku menyimpang, tidak mampu bekerja, suka hura-hura, dan lain-lain, kiranya perlu dilihat kembali tentang bagaimana pendidikan itu dijalankan. Di sekolah, para siswa diajari biologi, kimia, fisika, sosiologi, bahasa inggris, bahasa indonesia, agama, dan lain-lain. Bahan pelajaran itu sudah ditentukan, termasuk cara mengajarkan dan bahkan buku yang harus diajarkan.

Manakala bahan pelajaran itu sudah diterangkan oleh semua guru yang bertugas dan waktu yang disediakan sudah habis, maka dilakukan penilaian melalui evaluasi atau ujian. Para siswa yang mampu menjawab sebagaimana target yang ditentuan dianggap lulus, sebaliknya mereka yang belum mampu menjawab soal-soal yang diberikan dianggap gagal. Pengertian pendidikan menjadi sangat sederhana, yaitu sekedar mengajarkan sekelompok pengetahuan yang dianggap penting itu.

Melihat kenyataan itu, sebenarnya ada sesuatu yang masih dilupakan dan justru merupakan hal penting, yaitu memberi contoh dan membiasakan. Perilaku manusia sebenarnya terbentuk dari contoh-contoh dan kebiasaan itu. Kedua orang tua ketika di pagi-pagi mendengar adzan subuh dan segera bangun, mengambil air wudhu, dan kemudian datang ke masjid, sholat berjama’ah, serta tidak lupa mengajak anak-anaknya, maka orang tua yang bersangkutan telah menjalankan proses pendidikan.

Sebaliknya, manakala orang tua tatkala mendengar suara adzan subuh, mereka tetap saja meneruskan tidurnya dan hal itulah yang menjadi kebiasaannya, maka disadari atau tidak, yang bersangkutan telah memberi contoh negatif kepada keluarganya. Keluarga itu tidak akan mungkin berhasil membentuk perilaku sebagai seorang muslim ideal. Manakala di antara salah seorang anaknya tidak meniru perilaku orang tuanya, melainkan ia segera datang ke masjid, maka bisa jadi, anaknya itu meniru tetangga atau gurunya di sekolah.

Mendidik adalah kegiatan memberi contoh dan membiasakan itu. Pertanyaannya adalah, bagaimana kepala sekolah dan guru-gurunya di sekolah telah menunaikan tugas-tugas itu. Manakala guru hanya sekedar mengajar biologi, dan yang lain mengajar kimia, fisika, sosiologi, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, agama, dan lain-lain, maka sebenarnya, hal itu masih ada sesuatu yang kurang. Dalam kontek pendidikan yang perlu dipertanyakan adalah siapa yang memberi contoh dan membiasakan terhadap para siswa agar berperilaku sebagaimana yang diharapkan itu. Manakala tidak ada, maka pantas saja para siswa setelah lulus masih berperilaku sembarangan. Hal itu disebabkan oleh karena mereka di sekolah tidak mendapatkan contoh dan juga tidak dibiasakan melakukan sesuatu yang diinginkan itu. Artinya, mereka sudah diajar tetapi belum dididik.

Jika demikian itu halnya, maka artinya pada umumnya anak bangsa ini sudah diajar tetapi belum dididik. Para siswa, setelah lulus, sekalipun hingga tingkat sekolah menengah atas, dan bahkan sampai perguruan tinggi sekalipun, tatkala mereka belum mampu bekerja adalah hal wajar. Mereka memang belum mendapatkan contoh dan pembiasaan untuk mampu bekerja dan bahkan juga berperilaku sebagaimana yang diharapkan itu. Mereka sudah lulus IPA, IPS, bahasa, atau apa saja, tetapi belum diberi ketrampilan untuk bekerja atau berperilaku yang seharusnya sehari-hari. Dalam Bahasa sekarang, mereka belum memiliki soft skill.

Alumni pondok pesantren, terkait dengan nilai pendidikan ini memiliki keunggulan. Mereka bertempat tinggal di lingkungan pondok. Sehari-hari oleh kyai pengasuhnya pada waktu shalat lima waktu, mereka diajak shalat berjama’ah, membaca al Qur’an, dan bahkan pada malam hari dibangunkan untuk shalat tahajud dan kemudian mendoakan kepada kedua orang tuanya. Selain itu, beberapa pesantren juga mengajari santrinya berwirausaha, sebagai petani, peternak, atau juga membuka usaha. Konsep pendidikan di pondok pesantren ternyata lebih utuh. Para santri tidak saja diajari tentang pengetahuan yang harus dikuasai, tetapi juga diberikan contoh dan dibiasakan untuk berperilaku sebagaimana yang diharapkan.

Saya pernah datang ke Maroko. Di negara itu terdapat sebuah etnis, bernama Susi. Anehnya, dari etnis itu sulit dicari lulusan sekolah, sekalipun hanya sekedar Sekolah Dasar. Anak-anak ketika sudah mampu berhitung, membaca, dan menulis, banyak yang meninggalkan sekolah. Mereka tidak merasa perlu menunggu ujian sekolah dan juga ijazah. Anak-anak yang meninggalkan bangku sekolah itu selanjutnya segera bergabung dengan orang tuanya untuk berlatih bekerja. Mereka mengikuti pendidikan, contoh dalam pembiasaan, di rumah atau lingkungannya masing-masing. Ternyata dengan cara itu, di masyarakat Susi tidak ada pengangguran dan juga orang miskin. Gambaran itu terasa berbalik dengan di negara kita, yaitu banyak orang memiliki ijazah, dan juga bahkan gelar akademik yang kadang cukup banyak, tetapi menganggur dan juga tidak kaya.

Hal yang menarik lagi, Raja Maroko, sebagai upayanya untuk meningkatkan perekonomian di kerajaannya itu, pernah menunjuk seorang dari etnis Susi menjadi perdana menteri. Oleh karena mencari orang yang berijazah kesulitan, maka ditunjuk siapa saja, asalkan berasal dari etnis dimaksud. Akhirnya, nama yang diajukan sekalipun tanpa berbekalkan ijazah diterima. Ternyata perdana menteri dimaksud berhasil memperbaiki ekonomi di kerajaan itu. Tanpa sekolah, perdana menteri dimaksud sudah melewati proses pendidikan, yaitu diberi contoh dan dibiasakan.

Belajar dari pemikiran dan kenyataan tersebut, sebenarnya untuk memperbaiki pendidikan bangsa ini, kiranya tidak perlu harus meniru Etnis Susi, tetapi sekolah perlu mengembangkan ketauladanan dan pembiasaan perilaku ideal sebagaimana yang diinginkan. Memperbaiki pendidikan hanya sekedar mengambil kebijakan berupa mengubah kurikulum dan mempertahankan ujian nasional, sekalipun harus mengeluarkan dana besar, kiranya tidak banyak hal yang bisa diharapkan terhadap generasi ke depan.

===================

Rekomendasi Bisnis Online Terbaru 2014 klik disini

===================

0 komentar
 
Support : Aditya Nusantara | Berita Terbaru | Berita Kampus
Copyright © 2014. IMAKA MALANG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger