Featured Post Today
print this page
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

5 Hal yang Harus Dilakukan Orangtua Saat Bayi Menangis Tanpa Sebab

anak nangis

Bayi Anda sudah kenyang, sudah tidur, dan sudah mandi sekaligus wangi, lalu mengapa tak juga kunjung berhenti menangis? Jangan-jangan ada yang salah dengan perawatan yang Anda berikan.  

Tenang saja, Anda jangan langsung menyalahkan diri sendiri. Selama tangisan bayi tersebut tidak diikuti dengan keluhan medis yang terlihat pada fisik, maka bisa jadi bayi Anda tengah mencari perhatian. Berikut lima langkah dalam meredam tangisan tanpa sebab bayi yang baru lahir:

Berikan dot
Menurut penelitian, mengedot bisa membuat jantung bayi berdetak stabil, menenangkan perut dan kaki bayi yang bergerak serta menegang saat menangis. Disarankan untuk memberikan bayi dot atau jari Anda sendiri (pastikan dalam keadaan bersih dan steril), ini adalah cara umum untuk menghentikan tangis bayi yang pecah tanpa sebab.

Berikan pelukan dan kehangatan
Bayi yang baru lahir mengalami masa penyesuaian suhu tubuh dengan kondisi sekitar. Ini wajar terjadi, mengingat selama sembilan bulan bayi terproteksi dengan nyaman dalam kandungan ibu. Maka dari itu, saat bayi baru lahir terus menangis, padahal sudah menyusu dan tidur dengan cukup, ini tandanya mereka merasa kurang hangat atau nyaman dengan lingkungan sekitar. Disarankan untuk menyelimuti bayi dengan selimut yang tebal dan hangat agar kembali tenang. Selain itu, menimang sembari mendekapnya di dada dapat menciptakan rasa hangat dan menenangkan bayi dalam seketika.

Perdengarkan musik
Redakan tangis bayi Anda dengan menyalakan musik instrumental yang lembut, menyanyikan lagu nina bobo, dan menggendong bayi sembari ditimang-timang. Cobalah beberapa eksperimen dengan memperdengarkan sejumlah jenis musik untuk mengetahui mana yang dapat segera menenangkan bayi Anda.

Udara terbuka
Terkadang bayi menangis karena merasa bosan, maka dari itu cobalah untuk meredam jeritan tangis bayi Anda dengan cara membuka pintu kamar atau menggendongnya di udara terbuka. Saat melakukan hal itu, jangan lupa sembari bercerita mengenai lingkungan sekitar, entah langit yang berwarna biru, orang yang sedang sibuk berjalan, atau hal-hal lain yang terlihat kasatmata oleh Anda.

Pijatan
Umumnya bayi senang akan sentuhan tulus dan penuh kasih sayang dari orangtua dan saudara dekat lainnya. Anda tak perlu khawatir, apakah ini bakal membuat bayi Anda sakit atau salah urat, karena selama pijatan yang Anda berikan ringan, lembut, dan dilakukan secara perlahan, hal tersebut akan menciptakan rasa tenang pada bayi.

sumber : Kompas.

0 komentar

Di Jepang, Hubungan Orangtua-Anak Semakin Dekat berkat Pekerjaan Rumah Tangga

orangtua dan anak

Tugas rumah tangga atau pekerjaan domestik terkadang hanya dilakukan oleh orangtua atau malah dilimpahkan kepada asisten rumah tangga. Namun, di Jepang, pekerjaan domestik dimanfaatkan sebagai aktivitas yang mempererat hubungan antar-anggota keluarga.

Penulis buku Parenting Without Borders: Surprising Lessons Parents Around the World Can Teach Us, Christine Gross-Loh, mengisahkan mengenai pengalamannya tentang tradisi masyarakat Jepang yang memanfaatkan pekerjaan domestik untuk mempererat hubungan keluarga.

Gross-Loh bertemu dengan sang suami di pedesaan di pegunungan Jepang, saat keduanya menjadi mahasiswa di salah satu universitas di Jepang. Setelah berkeluarga, pekerjaan sang suami menuntut mereka untuk memboyong keluarganya dan menetap selama lima tahun di Negeri Sakura tersebut.

"Salah satu aspek budaya Jepang yang sangat membuat kami terkesan adalah betapa dekatnya hubungan keluarga. Kami menyadari, salah satu cara untuk dekat ialah dengan melibatkan anak-anak kami dalam pekerjaan domestik," ujar Gross-Loh seperti dikutip Parenting.

Lebih lanjut, Gross-Loh menjelaskan, orangtua dan guru di Jepang sangat percaya bahwa anak-anak mereka memiliki banyak kemampuan yang dapat memudahkan hidup kaum renta. Di Jepang, anak usia lima tahun diwajibkan untuk menyiapkan makanan untuk orangtua dan kakek nenek mereka.

"Guru anak saya secara rutin memberi tugas berupa menuliskan lima hal yang dilakukan anak untuk membantu keluarganya hari ini. Anak-anak Jepang menyiapkan bekal sekolahnya sendiri dan menyapu di rumah sepulang sekolah. Ini dilakukan setiap hari," ungkap Gross-Loh.

Menurut Gross-Loh, kedekatan dalam keluarga tidak hanya ditunjukkan dengan pelukan, rangkulan, atau menuliskan pesan pada bekal sekolah. Bagaimana anak mengerjakan tugas domestik adalah salah satu cara dalam membentuk kedekatan tersebut.

"Kami sama-sama memainkan peran untuk saling merawat satu sama lain, di mana pun kami berada," kata dia.

sumber : Kompas

0 komentar

Cucu Petani Jadi Wisudawan Terbaik IPB

Taman IPB

Berhasil menamatkan studi dan meraih gelar sarjana merupakan sebuah kepuasaan tersendiri bagi seorang mahasiswa. Apalagi ditambah dengan gelar lulusan terbaik yang dianugerahkan pada proses wisuda.

Kebanggan tersebut yang dirasakan oleh salah seorang wisudawan terbaik Institut Pertanian Bogor (IPB) pada wisuda periode Juni 2014, yakni Ahmad Solikhin. Lulusan terbaik Fakultas Kehutanan IPB itu mengaku, prestasi yang diraihnya saat ini menjadi bukti jika keterbatasan finansial bukan penghalang untuk memberikan hasil terbaik.

"Sebagai cucu dari seorang petani, keterbatasan finansial selama menempuh kuliah di IPB bukan menjadi halangan untuk mencapai mimpi. Karena di kampus pertanian ini tersedia banyak beasiswa," ujar Ahmad, seperti dikutip dari siaran pers, Senin (30/6/2014).

Selama mengikuti perkuliahan di IPB, dia mendapatkan banyak ilmu. Terutama untuk bidang studi yang digelutinya, yaitu pertanian tropika. Oleh karena itu, Ahmad berharap dapat mengaplikasikan semua ilmu yang diperoleh untuk menghadapi berbagai persoalan di masyarakat kelak.

"Tidak hentinya, ilmu dan teknologi di bidang pertanian tropika terutama kehutanan yang diberikan selama di IPB, telah membuka mata saya lebar-lebar akan eksistensinya di Indonesia dan dunia. Sebagai sarjana, merupakan kesempatan emas untuk mengamalkan ilmu dan skill yang dimiliki kepada masyarakat," ungkapnya.

Kebersamaan dengan segenap civitas academica IPS selama beberapa tahun terakhir merupakan kesempatan berharga bagi Ahmad. Selain itu, wadah untuk mengukir prestasi secara akademik dan non-akademik, lingkungan sosial IPB juga memberikan banyak pengalaman berharga baginya.

"IPB telah banyak memberikan warna dan arti dalam kehidupan saya. Nuansa kampus yang religius, fasilitas belajar mengajar yang memadai, keragaman budaya, dan keaktifan organisasi mahasiswa telah banyak memberikan kesempatan untuk memperoleh ilmu, pengalaman, dan skill yang luar biasa. Selama di IPB, moral saya dididik untuk menerapkan kejujuran, misalnya ujian tidak mencontek dan memiliki integritas yang baik," tutup Ahmad.

0 komentar

Raeni, Wisudawan Terbaik Unnes & Becak Sang Ayah

Raeni

SEMARANG - Datang ke lokasi wisuda bersama orangtua tercinta adalah tradisi bagi para wisudawan di berbagai kampus. Bagi Raeni, ini berarti menumpang becak yang digenjot sang ayah, Mugiyono.

Tidak ada raut malu di wajah wisudawan terbaik di Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu. Raeni tersenyum sumringah di atas becak sang ayah hingga ke lokasi wisuda. Pemandangan ini pun menyita perhatian para keluarga wisudawan dan puluhan wartawan di kampus Unnes.

Gadis berkerudung ini lulus dari jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Unnes. Sejak semester pertama, peraih Bidikmisi ini membuktikan, keterbatasan ekonomi bukan halangan meraih prestasi. Dia beberapa kali meraih nilai indeks prestasi (IP) sempurna, 4,00. Hingga akhir masa studinya, Raeni mempertahankan prestasi tersebut dan mengantongi nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) akhir 3,96.

Lulus kuliah S-1 bukan berarti perjalanan Raeni terhenti. Faktanya, Raeni menunjukkan tekad baja agar bisa menikmati masa depan yang lebih baik dan membahagiakan keluarganya.

"Selepas sarjana, saya ingin melanjutkan kuliah lagi. Penginnya melanjutkan (kuliah) ke Inggris. Ya, kalau ada beasiswa lagi," kata Raeni seperti dinukil dari laman Unnes.

Sang ayah pun mendukung sepenuh hati keinginan Alumnus SMK 1 Kendal yang ingin menjadi guru itu. Bahkan, Mugiyono rela mengajukan pensiun dini dari perusahaan kayu lapis agar mendapatkan pesangon.

Sebagai gantinya, Mugiyono pun mulai mengayuh becak sejak 2010. Setiap hari, dia mangkal di Kelurahan Langenharjo, Kendal; tidak jauh dari rumahnya.

"Sebagai tukang becak, penghasilan saya tidak menentu, sekira Rp10 ribu hingga Rp50 ribu. Karena itu, saya juga bekerja sebagai penjaga malam sebuah sekolah dengan gaji Rp450 ribu per bulan," ujar Mugiyono.

Menurut Rektor Unnes, Prof. Dr. Fathur Rokhman, M.Hum., pencapaian Raeni membuktikan, anak dari keluarga kurang mampu tidak memiliki halangan untuk bisa berkuliah dan berprestasi. Salah satu contohnya adalah Raeni.

Tidak hanya itu, Fathur meyakini, dalam waktu dekat, kaum dhuafa akan bangkit melalui pendidikan. Keyakinan Fathur cukup  masuk akal mengingat setiap tahun ada 50 ribu mahasiswa tidak mampu yang menerima Bidikmisi. Unnes sendiri menyalurkan setidaknya 1.850 Bidikmisi setiap tahun dan menyediakan 26 persen dari total jumlah mahasiswa mereka untuk para siswa dari keluarga tidak mampu.

"Kami sangat bangga dengan apa yang diraih Raeni. Anak-anak dari keluarga miskin akan segera tampil menjadi kaum terpelajar baru. Mereka akan tampil sebagai eksekutif, intelektual, pengusaha, bahkan pemimpin republik ini," kata Fathur.

sumber : Kompas

0 komentar

Lilik, Anak Petani yang Lulus Cumlaude

Lilik

SURABAYA - Semakin banyak pemuda Indonesia yang berhasil mematahkan ungkapan keterbatasan ekonomi menjadi penghambat berprestasi. Lilik Endrawati menambah panjang daftar tersebut. Berasal dari keluarga petani, dia berhasil menambatkan pendidikan sarjana di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Lilik mengaku tidak pernah menyangka bisa mendapatkan peringkat terbaik di tingkat Fakultas Ilmu Sosial (FIS) pada wisuda Unesa kali ini. Dia berhasil meraih gelar S.Sos dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,74 dengan predikat cumlaude.

Meski meraih peringkat terbaik, Lilik justru selalu mengingatkan diri untuk rendah hati dan bersyukur atas prestasi tersebut. "Kunci suksesnya karena usaha dan doa. Terutama doa orangtua saya di sana," kata Lilik, seperti dikutip dari laman Unesa.

Gadis berkulit sawo matang itu meraih gelar sarjana dengan skripsi yang berjudul "Analisis Diskursus Media pada Kasus Hubungan Seks Incest" dengan masa kuliah delapan semester. Sadar penghasilan orangtuanya sebagai petani pas-pasan, mahasiswa asal Tuban itu mencari sendiri biaya untuk perkuliahannya.

Bekerja untuk memenuhi biaya kuliah serta tekun belajar untuk meraih nilai terbaik tidak menghentikan Lilik untuk aktif dalam organisasi. Selama kuliah ia juga aktif dalam beberapa organisasi yakni sekertaris Dewan Legislatif Mahasiswa (DLM) FIS dan pengelolahan jurnal ilmiah tingkat prodi Sosiologi.

Dia percaya, keterlibatan dalam organisasi dapat membentuk karakter diri yang bermanfaat ketika kelak terjun ke dunia kerja. "Kita harus menimba ilmu juga dalam bidang organisasi untuk menambah pengalaman pribadi dan membentuk karakter diri," urai dara kelahiran 17 Juli 1991 itu.

sumber : Okezone

0 komentar

Dari Apem ke Kursi Dokter Gigi

Setyaningsih

YOGYAKARTA - Kalau dilihat dari harganya, Rp1.000, kue apem sangatlah murah. Tapi bagi Setyaningsih, penganan khas yang dibuat dari tepung beras itu menjadi motivasinya dalam meraih gelar dokter gigi.

Ning, begitu dia akrab disapa, akan segera mewujudkan mimpinya tersebut. Saat ini, dia sedang menjalani pendidikan profesi dokter gigi (koasistensi) di Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Gadjah Mada (UGM).

"Sekarang baru jalan delapan bulan, pendidikannya tinggal tujuh bulan lagi," ujar Ning, seperti dilansir laman UGM, Senin (30/6/2014). 

Gadis 22 tahun itu kuliah di FKG UGM melalui jalur Program Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu (PBUTM) UGM tahun 2009. Serupa dengan Bidikmisi, mahasiswa yang diterima lewat PBUTM juga tidak perlu membayar uang kuliah hingga akhir masa studi.

Masykuri (74), sang ayah hanyalah buruh tani. Dan Painem (64), sang ibu, menjual kue apem berkeliling pasar di Salatiga, Jawa Tengah. Penghasilan kedua orangtuanya tentu sangat tidak mencukupi kebutuhan hidup Ning selama kuliah. Ning masih harus dibantu saudara-saudaranya untuk memenuhi biaya makan dan sewa kos.

Gadis berkerudung ini teringang pesan sang ayah agar dia tidak memikirkan biaya, yang penting adalah sekolah. Tidak jarang, kata Ning, orangtuanya harus meminjam uang ke tetangga untuk membiayai kebutuhan sekolah anak-anaknya. Pernah juga sang ayah menebang pohon kelapa di belakang rumah dan dijual untuk membayar uang sekolah.

Kerja keras dan kesungguhan orangtua menyekolahkan anak-anaknya inilah yang memotivasi Ning untuk melakukan yang terbaik. Dia mampu lulus menjadi Sarjana Kedokteran Gigi dalam waktu tiga tahun 10 bulan.

Selain Ning, tiga kakaknya juga berhasil meraih gelar sarjana dan satu orang memegang gelar diploma.

"Hanya satu yang tidak selesai kuliah dan dua orang lainnya hanya tamat SMA," imbuh gadis yang ingin menjadi dokter spesialis itu.

Ning mengaku, beasiswa dari UGM sangat meringankan beban ayah dan ibunya. Namun, Ning tidak hanya mengandalkan beasiswa. Dia juga mengajar les tiga kali seminggu untuk membantu kebutuhan sehari-harinya.

Di usia senjanya, sang ayah pun lebih banyak beristirahat di rumah. Sementara ibunya masih menjajakan ratusan kue apem seharga Rp1.000 per biju di pasar Salatiga.

"Kalo pulang ke rumah, saya sering membantu ibu buat apem," ujar Ning.

sumber : http://kampus.okezone.com/read/2014/06/30/373/1005852/dari-apem-ke-kursi-dokter-gigi

0 komentar

Listrik Hijau dari Limbah Tebu

marss

JAKARTA - Jeli. Itulah kunci inovasi. Satu kata inilah yang mendorong lahirnya teknologi energi terbarukan dari tanah Yogyakarta.

Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) ini jeli melihat potensi dari limbah tebu yang banyak mereka temui. Melalui serangkaian penelitian, Rivandi Pranandita Putra, Agustinus Wahyu Krisnanta dan Latiful Muttaqin pun menyulap limbah tebu tersebut menjadi sumber energi terbarukan dalam bentuk biobriket limbah ampas tebu dengan enceng gondok (Biolatek).

Sang Ketua Tim, Rivandi, memaparkan, jika diolah, limbah ampas tebu masih berpotensi menjadi sumber energi alternatif. Dalam satu kilogram limbah ampas tahu saja masih ada setidaknya 2,5 persen gula senilai 1.825 kkal. Jika mencampurnya dengan sumber biomassa lain, maka nilai kalor ampas tebu tersebut dapat meningkat. Rivandi dkk memilih enceng gondok sebagai campuran.

"Melihat luasnya perkebunan tebu di Indonesia yang akan terus bertambah seiring dengan gerakan swasembada gula nasional,  pemanfaatan limbah ampas gula ini tentu menjadi potensi baru pengembangan energi di tanah air," kata Rivandi, seperti dinukil dari laman UGM, Selasa (29/4/2014).

Menurut Rivandi, biobriket dari ampas tebu dan enceng gondok ini dimanfaatkan sebagai sumber energi rumah tangga dan industri. Dia berharap, suatu saat biobriket dapat juga menjadi sumber energi bagi pembangkit listrik.

"Semoga biobriket ini dapat mengurangi ketergantungan terhadap pemakaian bahan bakar fosil dan mewujudkan Indonesia mandiri energi," tuturnya.

Tidak hanya aplikatif, inovasi Biolatek juga diganjar sebagai juara dalam lomba karya tulis ilmiah tingkat nasional MIPA Road to Scientific Paper and Seminar (MARSS) 2014, belum lama ini. Dalam kegiatan yang dipusatkan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tersebut, Rivandi dkk berhasil meraih juara II dan unggul dari 80 tim lainnya dari berbagai kampus di Tanah Air.

===============
Sudah banyak bisnis online menawarkan hasil melimpah dengan syarat cari downline terlebih dahulu. Bisnis online yang kami tawarkan berbeda dan tidak perlu cari downline. Cukup sekali daftar dan rasakan manfaatnya. Klik disini

0 komentar

Biogas Bisa Jadi Bahan Bakar Kendaraan Bermotor

biogas

JAKARTA - Biogas merupakan sebuah alternatif energi dengan memanfaatkan limbah yang biasa digunakan oleh warga setempat sebagai bahan bakar untuk keperluan memasak. Padahal, jika diproses lebih lanjut, biogas ternyata bisa menghasilkan listrik dan menggerakkan mesin.

Oleh karena itu, sejumlah peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang tergabung dalam grup riset 'Sains untuk Rakyat' melakukan serangkaian riset dan uji coba pengolahan biogas dalam tahapan lebih lanjut. Mereka ialah Wiratni, Aswati Mindaryani, Imam Prasetyo, Teguh Ariyanto, dan Jayan Sentanuhady.
Grup ini didukung oleh Anies Mutiari dari LIPI Bandung untuk pengembangan unit pilot purifikasi biogas dan Daniel Tanto dari UD Santosa Teknik Klaten yang menjadi mitra dalam modifikasi generator listrik dan mesin-mesin industri kecil untuk dioperasikan menggunakan biogas.

Melalui riset tersebut, Wiratni dan kawan-kawan bertekad menjadikan biogas sebagai pengganti bahan bakar konvensional, baik bensin maupun solar untuk menggerakkan mesin-mesin pada industri kecil. Selain itu, tim juga bermaksud untuk mengonversi biogas menjadi listrik dan menjadikan biogas sebagai bahan bakar kendaraan bermotor.

Hal tersebut diwujudkan dengan membuat sebuah sistem purifikasi dan penyimpanan biogas dalam kemasan tabung atau tangki. "Dengan dikemas dalam tabung bisa lebih meningkatkan nilai jual biogas dan mudah dalam pendistribusiannya ke berbagai daerah," ujar Wiratni, seperti disitat dari situs UGM, Jumat (25/4/2014).

Sebelum dilakukan penyimpanan biogas dalam tabung atau penggunaan lain, misalnya sebagai bahan bakar generator listrik, terlebih dulu dilakukan pemurnian atau purifikasi. Mengapa harus dimurnikan dulu?

Wiratni menjelaskan, dalam biogas terkandung sekitar 50-60 persen metana yang merupakan bahan bakar. Sementara 40 persen sisanya adalah senyawa-senyawa pengotor, seperti karbondioksida, uap air, dan hidrogen sulfida.

"Gas-gas pengotor tersebut tidak bisa terbakar dan menurunkan nilai kalor biogas, bahkan menimbulkan korosi (karat) sehingga harus dihilangkan dulu sebelum biogas dipakai untuk pembangkit listrik atau dikompresi untuk disimpan dalam tabung," ungkapnya.

Dia menyebut, kontrol terhadap unsur-unsur dalam biogas sangat diperlukan agar diperoleh kadar metana (CH4) yang maksimal dan kandungan karbondioksida seminimal mungkin. Sistem purifikasi yang dikembangkan oleh grup riset 'Sains untuk Rakyat' mampu memurnikan biogas hingga kadar metana di atas 80 persen.

"Hasil terbaik dari proses pemurnian yang pernah diperoleh menghasilkan kadar metana hingga 95 persen, tetapi kami masih menguji reproducibility dari hasil ini. Efisiensi penyimpanan dan pemanfaatannya mencapai dua kali lipat biogas yang tidak dimurnikan dengan baik," papar Wiratni.

Proses purifikasi biogas, kata Wiratni, dilakukan menggunakan resin yang dapat memisahkan karbondioksida dan hidrogen sulfida dari biogas dengan mekanisme pertukaran ion. Dengan demikian, alat purifikasi dapat dibuat ringkas dan hampir tanpa cairan sehingga dalam melakukan pemeliharaan tidak terlalu sulit atau repot terhadap kemungkinan terjadi kebocoran.

"Perawatan hanya dengan melakukan penambahan air secara berkala untuk sekadar membasahi permukaan resin. Karbondioksida dalam biogas akan terikat secara fisis dan mudah untuk dilepaskan kembali jika resin sudah jenuh (proses regenerasi resin)," urainya.

Kemudian, lanjutnya, resin yang telah dipakai perlu dilakukan regenerasi dengan larutan basa. Jika alat ini dipasang di lokasi peternakan, regenerasi dapat dilakukan dengan mencuci resin menggunakan urin sapi.

"Untuk saat ini masih dilakukan sejumlah pengujian di laboratorium untuk mengoptimalkan unit alatnya supaya dapat dibuat satu paket dengan genset biogas yang sudah banyak beredar di masyarakat," kata Wiratni.

===============
Sudah banyak bisnis online menawarkan hasil melimpah dengan syarat cari downline terlebih dahulu. Bisnis online yang kami tawarkan berbeda dan tidak perlu cari downline. Cukup sekali daftar dan rasakan manfaatnya. Klik disini

0 komentar

"Wine" dari Sirsak dan Nanas

wine

SURABAYA - Wine dikenal sebagai minuman berkelas. Biasanya minuman ini dibuat dari fermentasi anggur. Tetapi di tangan seorang dosen teknologi pertanian di Surabaya, Jawa Timur, wine bisa diolah dari beragam buah lokal. 

Thomas Indarto mengolah sirsak, mangga, nanas dan sawo menjadi minuman serupa wine. Bahkan, dosen jurusan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya ini tidak menggunakan teknologi yang rumit dalam proses pembuatan minuman tersebut.

Wine buah sirsat, misalnya. Pertama-tama, Thomas mencuci bersih buah sirsak yang akan digunakannya, kemudian memisahkan biji dan kulitnya. Tahap selanjutnya, merebus sirsak dengan air gula dengan persentase 15-20 persen hingga mendidih.

Setelah mendidih, rebusan sirsak didingankan dan ditutup rapat dalam persemaian dari toples steril. Fungsinya untuk menumbuhkan bakteri saccharomyces cerevisiae dan mengeluarkan gas CO2.

Pada proses akhir, Thomas tinggal memisahkan buah dan sarinya, kemudian diendapkan sampai didapat warna wine yang bening. Proses ini sendiri bisa berlangsung hingga enam bulan. Seperti halnya wine dari anggur, semakin tua usia wine ala Thomas rasanya juga semakin nikmat dan harganya kian mahal.

"Ide membuat wine dari buah-buah lokal ini berawal dari banyaknya impor wine di Indonesia. Padahal ragam buah di Indonesia seperti sirsak, mangga, sawo dan nanas memiliki cita rasa yang nikmat," ujar Thomas. 

Saat ini Thomas telah membuat wine dari sembilan jenis buah lokal yang ada di Indonesia. Dia menyimpan wine tersebut dalam belasan galon air mineral. Usia pembuatannya sendiri beragam, mulai tahun 2011 hingga 2014.

Untuk saat ini, Thomas tidak memiliki rencana untuk memproduksi wine buah lokal ini secara massal. Dia menggunakan wine buatannya sebagai bahan edukasi di laboratorium jurusan teknologi pangan tempatnya mengajar.

===============
Sudah banyak bisnis online menawarkan hasil melimpah dengan syarat cari downline terlebih dahulu. Bisnis online yang kami tawarkan berbeda dan tidak perlu cari downline. Cukup sekali daftar dan rasakan manfaatnya. Klik disini

0 komentar

Sekarang Sambil Facebook-an Bisa Dapat Uang

1222538-kum----rupiah-menguat-tipis--780x390

Halo sobat Facebooker, jika Anda berminat untuk mencari penghasilan tambahan lewat media internet dan Facebook, maka Anda sudah tepat membaca catatan sederhana ini, luangkan barang 5 menit saja ya, di jamin gak nyesel deh!! hehe..

Saya tulis catatan ini berdasarkan pengalaman pribadi saya dan sudah saya buktikan kebenarannya, jadi jangan berpikir yang tidak- tidak ya sobat...

Pertama saya mendapat info tentang bisnis ini dari seorang teman FB yang tidak saya kenal sebelumnya. Bahkan tinggalnya pun di kota yang sangat jauh dari kota saya. Awalnya saya sempat ragu, apa bisa mendapatkan uang dari Facebook?? Kalau bisa bagaimana caranya ya..??

Setelah beberapa hari mencari info lebih lanjut tentang bisnis ini , akhirnya saya mantapkan niat untuk mencobanya, pikir saya toh modal yang saya keluarkan tidak akan membuat kantong saya jadi kering, hehe . . .

Dag dig dug, 1 hari , 2 hari , 3 hari hasilnya belum kelihatan, tapi di hari ke 7 wow luaaaar biaasa!! Modal saya kembali + saya dapat untung yang berlipat-lipat!!!

Akhirnya terjawab sudah keraguan saya! Bisnis ini benar- benar terbukti bisa menghasilkan uang lewat Facebook dengan sangat mudah!! Sobat penasaran gimana rahasianya?? Langsung aja deh JOIN! Pertama KLIK DISINI , isi formulir pengunjung nya, klik MASUK HALAMAN UTAMA, trus klik MENU JOIN di halaman utama. Saya tunggu kabar baik dari Sobat, sukses selalu!
0 komentar

Dukuh Plapar Yang Menjadi Santri

Logo_UIN_Maulana_Malik_Ibrahim_Malang

Dukuh Plapar ini mengingatkan pada saya bagaimana ayah saya dalam berdakwah melakukan pendekatan dengan masyarakat yang belum mengerti sama sekali tentang Islam, sehingga kegiatan sehari-hari mereka jauh dari nilai-nilai Islam. Mereka sangat biasa mengkonsumsi makanan yang tidak halal seperti daging babi hutan, melakukan judi, minuman keras dan perbuatan haram lainnya. Ayah saya memperlakukan mereka sebagai masarakat yang memerlukan penghormatan, artinya terhadap mereka tidak pernah menyakiti dengan cara menyindir dengan kata-kata, apalagi mengolok-olok. Ayah saya selalu melihat mereka sebagai masyarakat yang belum mengerti tentang Islam, karena itu harus dididik dengan cara sebijak mungkin.

Ayah saya selalu berpendapat bahwa sekalipun yang dilakukan mereka jauh dari ajaran Islam, tetapi bagi mereka sudah dipandang benar. Oleh karena itu, jika kita mencoba menyalahkan dan berusaha mengajak ke jalan yang benar ---menurut kita yakni Islam, mereka pun akan menolak. Sebab, apa yang mereka lakukan selama ini diperoleh dari leluhur mereka yang sangat dicintai dan dihormati. Merubah pandangan hidup mereka, jika tidak dilakukan secara hati-hati atau bilkhikmah, akan dimaknai sebagai tidak menghormati para leluhur mereka.

Kata yang lebih tepat untuk mengubah masyarakat ini adalah alkulturasi. Ayah saya tidak pernah mengubah secara drastic dan total kebiasaan mereka. Justru melalui kebiasaan-kebiasaan mereka, dengan sedikit demi sedikit mengenalkan faham tentang Islam ke dalamnya. Suatu misal, di dukuh ini terdapat kebiasaan melakukan bersih desa, kenduri atau selamatan dengan berbagai sesajen. Ayah tidak pernah menyuruh berhenti dari menjalankan kebiasaan itu. Akan tetapi justru melalui kebiasaan itu, ayah mengenalkan ajaran Islam secara bertahap, sedikit demi sedikit. Dalam sesajen yang terdiri atas berbagai jenis makanan yang dihidangkan, ayah yang selalu diminta tampil untuk memberikan penjelasan maksud kenduru diselenggarakan, selalu menyelipkan pada penjelesannya sesuatu yang mengarah pada ajaran tauhid. Sedemikian lembut dan samarnya penjelasan itu, sehingga mereka tidak terasa bahwasanya alam pikiran mereka sedang dipengaruhi dan diubah.

Ayah saya selalu memberikan penjelasan pada saya, bahwa tidak mungkin mengubah masyarakat dapat berhasil dilakukan dengan cara tergesa-gesa, apalagi secara frontal. Kata dia, yang diubah bukan fisik melainkan kawasan hati atau keyakinan.

Istilah dukuh, menunjuk pada wilayah bagian dari sebuah desa. Desa pada umumnya terdiri atas beberapa dukuh. Dukuh Plapar sendiri masuk Desa Watulimo, letaknya jauh dari jalan besar yang bisa dilewati kendaraan roda empat. Ke padukuhan ini, orang biasa menempuh dengan jalan kaki, berjarak kira-kira 3 km dari kantor kelurahan. Waktu saya masih anak-anak, seumur anak sekolah dasar, biasa orang pergi kemana-mana dengan jalan kaki. Kendaraan baik roda dua apalagi roda empat, masih amat jarang ditemui. Pemilik kendaraan bermotor baru dapat dihitung dengan jari jumlahnya, dan hanya beberapa saja yang memiliki sepeda pancal.

Dukuh Plapar dikenal masyarakat sebagai wilayah yang penduduknya gemar berburu babi hutan. Mereka beragama Islam, tetapi tidak mengenal ajaran Islam, kecuali dalam batas yang sangat sederhana, misalnya jika mereka mau berkhitan, nikah dan tatkala meninggal dunia. Entah darimana ajaran ini diperoleh, tidak ada kejelasan. Karena tidak mengenal agama, maka sehari-hari mereka mengkonsumsi daging babi hutan menjadi biasa, demikian berjudi, mabuk-mabukan, dan bergantian isteri juga dianggap hal yang tidak terlalu aib.

Anehnya masyarakat seperti ini tatkala anak mereka menginjak usia belasan tahun juga dikhitan. Begitu pula ketika melangsungkan pernikahan juga mengikuti ajaran Islam. Mereka mengundang pejabat pencatat nikah yang dipanggil dengan sebutan Naib. Pejabat Kantor Urusan Agama (KUA), yang biasanya berkantor di tingkat kecamatan, dengan disebut Naib juga mengalami kesulitan tatkala menikahkan mempelai berdua. Biasanya sebagai pertanda, mereka beragama Islam agar dapat dilayani prosesi pernikahan secara Islam, maka Naib harus menuntunm mereka mengucapkan dua kalimah syahadah. Namun sebatas mengucap syahadah ini mereka selalu mengalami kesulitan, karena memang tidak terbiasa diucapkan.

Memperoleh gambaran masyarakat Dukuh Plapar seperti itu, umumnya kaum santri yang bertempat tinggal di luar Dukuh Plapar tidak mau mendekat. Kaum santri menganggap orang Plapar sebagai orang yang tidak beragama, pemakan daging babi, penjudi, peminum dan seterusnya. Sekalipun tidak pernah terjadi konflik di antara kedua kelompok yang berbeda ini, mereka tidak saling berkomunikasi secara dekat. Di anatara mereka hanya merasa bukan kelompoknya. Mereka masing-masing memiliki kebiasaan dan adat istiadat yang berbeda. Bahkan jika kaum santri, pada saat-saat tertentu harus datang ke Dukuh Plapar biasanya dsilakukan dengan hati-hati, agar tidak makan makanan yang mengandung daging babi.

Pada umumnya, entah dari mana mereka mendapatkan ajaran ang bagus, di antara kelompok yang berbeda dari intensitas keberagamaan itu, ternata tidak pernah terjadi konflik. Di antara mereka sama-sama memahami atas perbedaan itu. Kaum santri biasanya disebut sebagai kaum putih, sedang masyarakat Plapar disebut sebagai kaum merah. Mungkin, perbedaan itu masih diredam oleh adanya saling membutuhkan, misalnya tatkala ada pernikahan, kematian dan sejenisnya, orang Plapar selalu membutuhkan jasa orang santri.

Kerja ulet dan telaten yang dilakukan oleh para da'i, ternyata sekarang Dukuh Plapar sudah berubah secara total. Di dukuh itu sekarang sudah ada masjid dan madrasah. Tidak ada lagi orang membawa tombak dan anjingnya ke hutan untuk berburu babi hutan. Orang-orang Plapar saat ini kalau sore datang ke masjid sholat berjama'ah. Di sana-sini terdengar suara adzan tatkala waktu sholat tiba. Demikian pula bacaan al Qur'an dengan mudah didengar dari berbagai tempat, baik dari rumah maupun masjid. Perubahan itu terjadi, karena para da'i menempuh cara yang tepat dalam berdakwah. Para da'i tidak menjauh dari masyarakat, tetapi justru mencoba menghargai, menghormati dan cara berpikir orang Plapar. Hasilnya orang Plapar menjadi simpatik dan akhirnya mengikuti seruan para dai, sehingga menjadi muslim taat. Melalui kegiatan diba'an, berzanji dan juga tahlil, lama kelamaan orang Plapar menjadi santri. Apalagi, kegiatan kesenian yang bernafas Islam juga dikembangkan. Dakwah seperti ini kiranya yang justru diperlukan agar berhasil dan bukan menakut-nakuti atau mengancam bahkan juga membuat peraturan.

sumber : Imam Suprayogo

0 komentar

Susah Gak Sih Cari Duit Di Internet ?

internet-marketing-tips

Cari Duit Di Internet itu SEBENERNYA MIRIP Kaya anda CARI DUIT Diluaran sana. Hanya kalo DI INTERNET Itu Media PROMOSINYA GLOBAL. Sehingga Kenapa Di Internet itu PENGHASILANNYA Lebih BESAR Dan LEBIH CEPAT.

Secara KONSEPNYA Sama. Anda bisa menjual PRODUK. Produk itu bisa berupa BARANG atau INFORMASI Seperti TRAINING ONLINE, PANDUAN BELAJAR ONLINE, Dan lainnya. Atau Anda juga bisa menjual JASA Seperti DESIGN WEB, SEO, Pasang Iklan dan lainnya bisa!..

Jadi Secara UMUM Hampir sama dengan DUNIA OFFLINE.. Jadi Jangan ANEH Lagi kalo misalkan di INTERNET Bisa hasilin UANG Itu rasanya JANGGAL Dan ANEH.

PADAHAL Sama-sama aja… Toh yang JUAL / BELI Sama-sama ORANG. Bukan MENDADAK UANG Tiba-tiba Ada di REKENING Kita TANPA ALASAN!..

Tapi Memang Ada CARA / TEKNIKNYA Supaya MEMAKSIMALKAN PROFIT yang Didapat.. Tapi Secara Garis Besar, PROSESNYA Hampir sama dengan DUNIA OFFLINE.

Silahkan klik disini

0 komentar

Pertanyaan Anda Adalah TAKDIR Anda

Tanya

Banyak orang yang GAK SADAR Akan Pertanyaan yang SERING Diajukan kepada DIRINYA Sendiri dan lebih SERING BERTANYA Ke HAL yang NEGATIF Dan GAK NGUNTUNGIN!…

Contohnya Seperti Apa ? ..

  • Gimana ya Kalo Gw GAGAL ?
  • Gimana ya Kalo Gw Ditolak ?..
  • Seandainya Gw Diabetes Gimana ? ..
  • Kenapa ya TUHAN Ga Ngabulin Doa Saya ?
  • Saya Rasa Dia Ga Suka Sama Saya..
  • Bisnis ini gw pikir ga akan jalan..
  • Dan Seterusnya!…

Apa pun yang Anda TANYAKAN kepada diri Anda, Itu yang akan di FOKUSKAN Oleh PIKIRAN Anda dan Anda pun akan Segera Mendapatkan JAWABANNYA..

Sebagai Contoh Gini :

” Kenapa Ya Ga ada yang mau sama gw ? ” .. Dan saat itu PIKIRAN Anda akan TERFOKUS Kepada KEKURANGAN Diri Anda.. Dan Tanpa Sadar Pikiran anda akan menjawab Sesuai PERTANYAAN yang anda ajukan :

” Ya Karena Lu JELEK ” , ” Karena Lu Miskin “, ” Karena Lu PENDEK “, Dan seterusnya… Akibatnya Apa ?? .. Anda akan merasa DOWN, Makin PESIMIS, Makin STRESS Dan JUSTRU Malah BENER-BENER JADINYA Memang GA ADA YANG Suka Kepada Anda karena anda jadi GA NGERAWAT DIRI, Anda HIDUP ya PASRAH Sekali, Anda Makan Seenak-Enaknya dan lain-lain..

Apakah ini karena SALAH Pikiran Anda ? .. No, Pikiran anda hanya MERESPON Pertanyaan Anda..

Padahal Anda seharusnya bisa BERTANYA yang MENGUNTUNGKAN Anda Sehingga PIKIRAN Anda akan BERFOKUS kesana dan MENJAWAB PERTANYAAN Anda.. Contohnya Gini :

” Gimana ya Supaya Dia Tertarik sama gw ? ” … Dan Seperti yang anda tanyakan maka PIKIRAN Akan Segera MENCARI JAWABANNYA.. Dan Akan Muncul JAWABAN-JAWABAN di PIKIRAN Anda Seperti :

” RAPIKAN RAMBUT, Coba FITNESS Biar Badan Lebih ATLETIS, Belajar yang RAJIN biar Paling PINTER Di KELAS, Beli PARFUM Biar MANTAP Wanginya ” dan seterusnya..

See ?? Ngerti Ga Bedanya dimana ?? … Disaat anda BERTANYA HAL POSITIF Maka PIKIRAN Pun Akan MERESPON dan MEMBERI JAWABAN Positif!..

Tapi Jika Anda Bertanya NEGATIF maka PIKIRAN Pun Akan MENCARI JAWABAN Atas PERTANYAAN Anda yang NEGATIF!..

Jadi Mulai Sekarang COBA PRAKTEKKAN Lho ya!.. Malam-malam sebelum Anda tidur anda Pikirkan :

  • ” Apa ya yang saya SYUKURI Hari ini ? ” …
  • ” Apa yang saya PELAJARI dari Hari ini ? ” …
  • ” Apa yang saya PERLU PERBAIKI hari ini supaya BESOK jadi Lebih DAHSYAT, Lebih BAIK dan Lebih Luar Biasa ? ” …

Nanti Pikiran anda akan mencari JAWABANNYA!.. Luar biasa bukan Pikiran kita ?? …

Nah BESOK PAGINYA ketika BANGUN Pikirkan

  • ” Apa yang saya SYUKURI Saat ini ? ” …
  • ” Apa yang harus saya lakukan saat ini supaya saya bisa jauh lebih KAYA, SEHAT ? ” …
  • ” Kalo Saya BANGUN Sekarang, Apa yang perlu saya lakukan supaya OMSET MELEDAK ? “.. dan seterusnya PERTANYAAN Itu FLEKSIBLE Saja.. Tapi Tipe-tipenya Seperti Diatas!…

Jika Anda Ingin BERHASIL dan MAJU, Saya HARAP Anda PRAKTEKKAN Langkah Diatas… Saya JAMIN hidup Anda akan SANGAT-SANGAT BERUBAH!…

Saya Sudah MENGALAMINYA Sendiri.. Anda pun PASTI BISA!

BUKTIKAN Sendiri disini

0 komentar

Kekaguman Prof. Siraje Terhadap Pesantren

Sekamanya Siraje Abdallah adalah seorang intelektual Islam asal Uganda dan merupakan Associate Professor Institute Education (INSTED), International Islamic University atau Universiti Islam Antarabangsa (UIA) Malaysia yang diundang Pascasarjana UIN Maliki Malang menyampaikan materinya bertema "New Paradigm on Islamic Education" pada 14 Desember 2013. Kebetulan beberapa hari sebelum beliau datang ke Indonesia saya berada di Malaysia dalam misi mengantarkan pejabat Pemda Lombok Tengah melakukan kunjungan studi banding dibidang pendidikan di Kuala Lumpur, yang kemudian oleh Pascasarjana UIN Maliki Malang saya diminta untuk menghubungi Prof. Siraje terkait dengan undangan memberikan kuliah tamu tersebut diatas. Memang beliau beberapa waktu lalu pernah berdiskusi dengan saya tentang pendidikan Islam di Indonesia dan salah satunya terkait dengan pesantren. Beliau juga pernah beberapa kali mengunjungi Indonesia (Jakarta, Bogor dan Padang) untuk berseminar dan berdiskusi tentang pendidikan Islam, kemudian setelah mendapat pengayaan tentang keunikan kekhasan pendidikan di negeri ini beliau menyampaikan ketertarikannya juga untuk mengunjungi UIN Malang.

Dalam sejumlah bagian materi presentasinya di Auditorium Pascasarjana UIN Maliki Malang beliau menyampaikan kekaguman atas pendidikan di Indonesia khususnya pendidikan di pesantren yang semestinya menjadi acuan bagi pengembangan pendidikan Islam tidak hanya di Indonesia tetapi juga bagi masyarakat Islam diibelahan penjuru dunia yang lain. Dunia Islam selayaknya lebih memerhatikan keberadaan pesantren ini sebagai suatu model pendidikan Islam yang diperkuat dengan kekayaan metode pembelajaran, tidak terpaku pada poor method belaka yakni sekedar "menghafal" (rote memorization) tetapi mampu memperkaya metode pembelajarannya secara dinamis. Dengan demikian diharapkan pendidikan Islam tidak lagi membiarkan dirinya menjadi bagian dari "knowledge consumption" melainkan beranjak ke orientasi baru yakni masuk dalam kategori "knowledge productions".

Sehari sebelum menyampaikan kuliah tamu beliau kami ajak mengunjungi beberapa pesantren di Malang dan berdialog dengan kami cukup intensif mengenai pendidikan Islam di pesantren pada khususnya. Selama ini mungkin banyak orang (termasuk umat Islam) menganggumi pendidikan Barat dan di negara-negara maju lainnya. Sebut misalnya jepang yang memiliki sistem pendidikan dasar cukup baik dalam meembentuk karakter anak didik. Di Jepang pendidikan dalam membentuk dan mengembangkan karakter anak didik disebut sebagai "Tokatsu" yang menaruh perhatian pada peningkatan interaksi sosial dan lingkungan. Melalui Tokatsu para siswa diajarkan menghargai dan menghormati orang lain, menjaga lingkungan tetap bersih, aman dan nyaman serta menempatkan diri secara baik dalam lingkungan sekitar yang membutuhkan perannya.

Apa yang dipraktekkan dalam pendidikan karakter ala Jepang itu sudah lama sebenarnya dilaksanakan oleh pesantren-pesantren di Indonesia. Hanya saja di Jepang pendidikan Tokatsu itu diterapkan disekolah-sekolah di Jepang secara masif dan merata sehingga gema dan dampak positifnya demikian terasa dalam kehidupan masyarakat sekitar, sementara di Indonesia sistem pendidikan pesantren cukup lama masih dianggap sebagai bagian pendidikan non formal terbatas hanya di lingkungan pedesaan. Sedangkan pendidikan formal di Indonesia masih dikuasai sistem persekolahan yang langsung atau tidak langsung bisa dikatakan amat terikat dengan perkembangan pendidikan di Barat. Dalam konteks inilah dialog kami dengan Prof. Siraje cukup menarik untuk dikembangkan agar suatu saat nanti pendidikan model pesantren ini bisa menjadi acuan dan bermanfaat bagi pengembangan pendidikan pada masyarakat dan dunia Islam. Diskusi lebih lanjut yang lebih serius memang diperlukan untuk membawa pendidikan ala pesantren menjadi andil bagi pendidikan tidak hanya di Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya beraga Islam, tetapi juga masyarakat muslim internasional yang tengah mencari jati diri pendidikan Islam. 

Kita memang menyaksikan sejumlah lembaga persekolahan di Indonesia mulai meniru model pesantren ini sebagai bagian dari sistem pendidikannya. Namun, apabilah "ruh" pendidikan pesantren tidak dipahami dengan baik maka dikhawatirkan sekolah umum dan pendidikan formal yang mengadopsi pendidikan pesantren tersebut tidak mengalami perubahan signifikan dalam keluaran pendidikan. Pola pikir dan paradigma pemahaman tentang nilai-nilai Islam yang diakomodasi dalam pendidikan formal mesti bebas dari penjiplakan worldview selain Islam, oleh karenanya fondasi dan landasan pendidikan Islam harus kuat dan berada dalam koridor ajaran Islam yang bersumber pada al Quran, Hadist, Sirah Nabawiyyah dan berbagai tradisi Islam yang tercerahkan. 

Prof. Siraje kami bawa ke toko buku di Malang dan memborong banyak buku terkait pesantren seraya beliau mengatakan kepada saya bahwa memahami buku-buku berbahasa Indonesia lebih mudah daripada buku berbahasa Malaysia karena dalam bahasa Indonesia banyak istilah-istlah ilmiah yang tetap dipertahankan (tidak diterjemahka) sebagaimana buku-buku Malaysia, sehingga ia lebih senang membaca buku berbahasa Indonesia. Selama tinggal di Malaysia dan juga berinteraksi dengan banyak orang Indonesia dan buku berbahasa Indonesia ditambah lagi istrinya yang berasal dari Malaysia membuat kecakapannya memahami buku Indonesia menjadi lebih mudah. Istrinya adalah juga dosen senior di Institut Aminuddin Baki, suatu lembaga yang melatih dan mengembangkan manajer-manajer sekolah di Malaysia. Selama berada di Malang istrinya juga diminta memberikan materi metode riset dihadapan mahasiswa S2 Bahasa Arab UIN Maliki Malang.

Berbagai ide, gagasan dan rencana muncul setelah Prof. Siraje berdiskusi dengan kami, mempelajari dan mengambil hikmah tentang pesantren. Riset terkait pesantren merupakan bagian dari perhatiannya termasuk dalam membimbing mahasiswa pascasarjana di INSTED UIA Malaysia. Demikianlah pula negara asalanya yakni Uganda melalui jaringan yang dimiliki akan diupayakan untuk belajar dan mengikuti model penddidikan pesantren Indonesia. Paradigma baru pendidikan Islam tidak perlu jauh-jauh belajar ke negara Barat yang sarat dengan propaganda dan juga dunia lain yang tidak mencerminkan kekuatan nilai Islam tetapi cukup mendalami ruh pesantren yang ada di Indonesia, meski tidak serta merta anti Barat atau peradaban non Islam lainnya.

Dalam hal propaganda kita mengetahui media Barat memang terkenal jagonya. Prof. Siraje yang warganegara Uganda ini memberikan contoh betapa konspirasi internasional berupaya melancarkan propaganda buruk terhadap Presiden Idi Amin yang memimpin negara Uganda beberapa dekade silam, sehingga masyarakat dunia dikelabui pemberitaan media Barat yang membuat seolah Presiden Idi Amin memiliki citra jelek. Hal dikarenakan Idi Amin seorang Muslim yang amat berjasa bagi umat Islam di Uganda yang jumlahnya minoritas disana. Akibat propaganda yang demikian kuat kehebatan dan kemajuan yang dicapai Idi Amin selama memimpin Uganda tidak diberitakan, justeru sebaliknya media Barat berhasil memutar balikkan fakta dengan menganggap Idi Amin sebagai penjahat perang, pembunuh dan berbagai citra negatif lain. Padahal, Presiden Idi Amin sangat besar jasanya bagi negara bahkan beliau Muslim yang baik berkontribusi besar bagi pengembangan Islam di Uganda. Sisi-sisi positif ini bahkan tidak diketahui dengan baik oleh dunia Islam itu sendiri dikarenakan pengusaaan informasi dan pemberitaan didominasi media Barat.

Sumber : UIN Malang

0 komentar

Paradigma Baru Pendidikan Islam di Pesantren

Kecenderungan pesantren pada umumnya dalam mengembangkan pendidikan umum adalah dengan membuka sekolah-sekolah baik tingkat dasar menengah maupun menengah atas. Sebenarnya tidak ada yang salah pesantren membuka sekolah umum berbasis ajaran Islam dan yayasan sekolah ini pun masih tetap dimiliki oleh pesantren. Namun arah pendidkan dengan berbagai perangkat lunak sekolah mulai dari perizinan hingga persoalan kurikulum mesti mengikuti aturan pemerintah. Padahal diketahui pesantren tidak terbiasa diatur oleh pemerintah karena pesantren lahir dan berkembang pesat secara berdikari mandiri, berdiri diatas kaki sendiri.

Sementara itu sepanjang sepengetahuan saya kebijakan-kebijakan pendidikan yang diluncurkan pemerintah masih bersifat dikotomik yakni membedakan pengajaran ilmu agama dari ilmu pengetahuan umum, sehingga sesungguhnya kedua ilmu tersebut (agama dan pengetahuan umum) terpisah satu sama lain meski seakan-akan keduanya berseiringan sejalan padahal tidak demikian. Hal ini karena paradigma yang dimiliki masih paradigma lama yang masih menganggap pembelajaran agama terbatas pada persoalan syariah, fiqih, aqidah dan sejenisnya. Pada titik ini memang murid atau pelajar di sekolah madrasah (sekolah umum berbasis Islam karena didirikan yayasan umat Islam) diarahkan untuk menghafal dan berusaha memahami ayat-ayat qawliyyah, tetapi pendalamannya dengan melakukan pengamatan ayat-ayat kauniyyah nyaris tidak mendapat perhatian sebagaima mestinya.

Disisi lain matapelajaran umum dibiarkan diajarkan secara sekuler tanpa terkait dan terinspirasi sedikit pun dari ayat-ayat qawliyyah yang banyak menyiratkan kekayaan "ilmu Allah" itu. Tak pelak bahwa tata pandang seperti ini masih masif menjelma pada perilaku dan keyakinan para pemangku beserta pelaku pendidikan mulai dari pejabat pengambil kebijakan hingga praktisi pendidikan di Indonesia. Alhasil, patut dipertanyakan apakah pendidikan Islam di Indonesia memang "Islami" atau hanya sekedar pendidikan yang dikelola oleh umat Islam dengan tata cara dan paradigma "orang lain" yang bersifat dikotomik. Dengan demikian pendidikan yang dikelola umat Islam langsung atau oun tidak langsung dikitari oleh sudut pandang yang belum tercerahkan.

Pada tataran konsep para tokoh dan cendekiawan Muslim menyadari bahwa Islam tidak mendikotomikan antara sains dan agama, sehingga banyak konsep preskriptif yang muncul seperti Islamisasi sains, integrasi sains dan agama, pendidikan Islam terpadu, serta beberapa istilah/konsep lainnya, namun dalam tataran praksis jika kita simak secara seksama ternyata tidak ada perbedaan signifikan dari konsep-konsep pendidikan Barat. Jika boleh mengatakan beda, maka perbedaan itu hanya pada "penempelan" ayat-ayat qawliyyah pada ilmu modern yang telah ada dan dikembangkan oleh Barat pada umumnya. Belum munculnya inisiatif sendiri menemu-kenali sains Islam yang berasal dari perenungan saintis Islam terhadap ayat-ayat Allah mungkin dikarenakan sudah demikian lamanya konsep dan paradigma non Islam melekat, menjangkiti kehidupan umat Islam, sehingga kemauan menjauhkan esensi ajaran agama (Islam) dari dunia nyata juga merasuki sebagian umat Islam itu sendiri dengan beranjak pada pemikiran-pemikiran liberal, sekuler dan tanpa batas dibimbing oleh kekuatan akal manusia (aqliyyah) tanpa perlu masuk landasan teks keagamaan (naqliyyah).

Mencermati situasi diatas menurut hemat saya pesantren tidak perlu membuka sekolah-sekolah umum yang memungkinkannya mendapat pengakuan dari pemerintah tetapi tetap dalam kehidupan pembelajaran ala pesantren dengan memulai insiatif menemu-kenali ilmu-ilmu Allah dari jabaran ayat-ayat qawliyyah, didukung khasanah ayat-ayat kauniyyah dengan menjalankan prinsip-prinsip ilmiah yang terbimbing wahyu Allah. Jadi, pendidikan Islam sudah terintegrasi dengan sendirinya manakalah orientasi pembelajaran di pesantren sudah diniatkan untuk mendalami kekayaan ilmu Allah yang terbentang secara qawliiyah dan kauniyyah. Dalam bahasa lain pesantren akan memperkuat daya aqliyyah dengan dukungan penuh kekuatan naqliyyah untuk menemu-kenali dan meumbuh-kembangkan sains dan teknologi Islami.

Jika inisiatif ini dilakukan, maka menurut saya tidak perlu lagi susah-susah mengenalkan konsep dan kegiatan Islamisasi dan atau integrasi sains  di dalam pendidikan kita karena dari awalnya parah pendidikan pesantren sudah Islami. Sudah barang tentu pemahaman ini bukan memiliki makna anti Barat atau anti ilmu dari Barat, Timur atau dari mana pun, tetapi mencoba menguak rahasia ilmu-ilmu Allah, mempelajari dan mendalaminya dengan landasan yang telah diberikan Allah yakni al Quran, Hadist, Sirah Nabawiyyah serta berbagai tradisi keislaman yang tercerahkan.

Paling tidak ada tiga langkah kegiatan yang dilakukan untuk mengembangkan pendidikan Islami ini, Pertama, pada tahap awal setiap pelajar diharapkan mampu membaca, mengenali, menghafal al Quran, Hadist  dan mempelajari bahasa Arab dalam konteks mendalami ayat-ayat yang terkandung dalam Kitab Suci tersebut.  Kegiatan ini bisa dilakukan pada masa usia awal anak didik atau Ali RA membatasinya hingga usia 7 tahun. Lalu tujuh tahun berikutnya yakni disekitar usia sekolah dasar dan menengah pertama, siswa mulai dibekali daya analisis dan menemu-kenali tanda-tanda sains ilmu pengetahuan yang terbentang pada ayat-ayat qawliyyah, kauniyyah dan tradisi keislaman yang tercerahkan.  Paga kegiatan ketiga, yakni pada 7 tahun berikutnya yakni pada tataran menengah atas dan perguruan tinggi, pelajar dibiasakan untuk mengkaji obyek sains yang menjadi minat dan ketertarikannya untuk didalami dengan prinsip-prinsip ilmiah yang dibimbing wahyu Allah.

Apabila menggali ilmu pengetahuan dengan cara tersebut diatas dianggap tidak lazim oleh penguasa negeri sehingga tidak akan mendapat pengakuan negara yang memang gemar untuk melakukan standarisasi (akibat paradigma globalisasi), maka pesantren mesti "kekeuh" bahwa pengakuan yang diperlukan bukanlah pengakuan dunia seperti itu tetapi keberkahan Allah lah yang sangat diharapkan. Bukankah pengalaman di Indonesia membuktikan ada pesantren yang tidak turut, tidak mau mengikuti sistem standarisasi yang ditentukan pemerintah, akhirnya pesantren itu malah dikenal dan berhasil "diakui" internasional, lalu baru pemerintah mulai mengakuinya. Nah, jati diri seperti ini perlu terus ditanam-suburkan di kalangan pesantren Tanah Air, tidak semata-semata memperoleh "sesuatu" dari penguasa, karena secara historis pesantren berkembang kuat disebabkan peran masyarakat sekitar bukan dari para penguasa negeri baik pada masa kolonialisme dahulu maupun masa moderen sekarang ini. 

Pendidikan terpadu yang tidak mendikotomikan antara sains dan agama bisa dimulai dari pesantren karena pesantren sudah membuktikan diri sebagai lembaga pendidikan Islam yang mandiri bebas dari campur tangan pemerintah. Pesantren yang dilengkapi pondok ini bisa menjadi model pendidikan Islam yang sesungguhnya, mengembangkan sains dan teknologi dengan landasan dan inspirasi al Quran, Hadist, Sirah Nabawiyyah dan tradisi-tradisi peradaban Islam zaman dulu yang tercerahkan. ngga tidak akan mendapat pengakuan negara yang memang gemar untuk melakukan standarisasi (akibat paradigma globalisasi), maka pesantren mesti "kekeuh" bahwa pengakuan yang diperlukan bukanlah pengakuan dunia seperti itu tetapi keberkahan Allah lah yang sangat diharapkan. Bukankah pengalaman di Indonesia membuktikan ada pesantren yang tidak turut, tidak mau mengikuti sistem standarisasi yang ditentukan pemerintah, akhirnya pesantren itu malah dikenal dan berhasil "diakui" internasional, lalu baru pemerintah mulai mengakuinya. Nah, jati diri seperti ini perlu terus ditanam-suburkan di kalangan pesantren Tanah Air, tidak semata-semata memperoleh "sesuatu" dari penguasa, karena secara historis pesantren berkembang kuat disebabkan kekhilasan sang kyai dan peranserta peran masyarakat sekitar, bukannya bantuan dari para penguasa negeri baik pada masa kolonialisme dahulu maupun masa moderen sekarang ini.

Sumber : UIN Malang

0 komentar

Perjuangan hidup sang TKI di Malaysia

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2013 ini angka pengangguran hingga saat ini di Indonesia sebesar 7,39 juta orang dari total angkatan bekerja 118,19 juta orang. Sementara orang Indonesia yang bekerja mencapai 110,80 juta orang. Ini berarti Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia pada Agustus 2013 mencapai 6,25 persen. Secara prosentase tampaknya kecil tetapi secara nominal angka 7 juta lebih tersebut bukanlah hal yang sedikit. Pemerintah masih berupaya keras menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya agar TPT menurun.

Ditengah kesulitan mencari lapangan pekerjaan di Indonesia dengan gaji yang memadai sejumlah pencari kerja Indonesia mencoba peruntungan untuk bekerja di negeri jiran seperti Malaysia. Negara ini dilirik para pemburu kerja dikarenakan faktor kedekatan baik secara kultural maupun wilayah. Oleh karena itu berbondong-bondong rakyat kebanyakan yang berasal dari desa dan pelosok Tanah Air menuju Malaysia untuk mencari kerja. Akhirnya, banyak warga negara Indonesia yang berada di Malaysia untuk bekerja di sektor-sektor riel dan informal seperti bekerja dirumah sebagai pembantu rumah tangga, tukang kebun, penjaga rumah dan lain-lain. Meski kita ketahui bahwa di Malaysia tidak hanya diohuni oleh warga Malaysia keturunan Melayu tetapi juga keturunan India dan Cina yang secara kultur berbeda dan secara prosentase hampir seimbang jumlahnya dengan warga Malaysia keturunan Melayu. 

Mungkin banyak yang menganggap bahwa jutaan warga Indonesia (WNI) bekerja di Malaysia hanya sebagai tenaga kerja tingkat bawah seperti yang disebut diatas tetapi kenyataannya terdapat ratusan ribu WNI di Malaysia menempati posisi tenga ahli (expatriate) di banyak perusahaan dan dilingkungan akademik (kampus perguruan tinggi dan sekolah). Belum lagi mereka yang memiliki perusahaan dan mengembangkan usaha di Malaysia, singkat cerita TKI kita bukan hanya berada level bawah dari jenis-jenis pekerjaan yang ada tetapi TKI asal Indonesia sangat banyak yang berada di jenjang pimpinan, pelaku bisnis dan tenaga ahli. Namun sayang yang selalu menjadi pemberitaan hanya persoalan TKI dan TKW di level bawah, padahal di level atas TKI/TKW kita tidak kalah banyaknya.

Terkait TKI kita di level bawah ada satu cerita menarik yang saya dapatkan ketika bertemu seorang TKI Indonesia diatas pesawat dari Kuala Lumpur ke Surabaya. Tenaga kerja kita ini telah lebih 3 tahun bekerja mengurus makam kuburan orang keturunan Tionghoa di Malaysia. Tiap hari bekerja melebihi jam kerja pada umumnya dari pagi hingga sore bahkan malam dan tidak memiliki hari libur yang pasti. Diatas semua itu hal yang amat menyedihkannya adalah kesulitan menjalankan ibadah sholat 5 waktu karena sang majikan Tionghoa non Muslim itu tidak peduli akan persoalan ibadah ini. Fasilitas kerja dan gaji yang mereka terima pun amat jauh dari layak, apalagi paspor para pekerja asal Indonesia di tahan sang majikan sehingga sulit bagi mereka untuk pindah kerja atau kabur dari tempat pekerjaannya. Ia tinggal dalam satu kamar kontrakan yang diisi bersama rekan-rekan senasib, makan apa adanya dan perlakuan tidak manusiawi sebagai pekerja yang memiliki izin resmi merupakan perbuatan biasa sang majikan.  

Kisah pilu sang pekerja ini tidak cukup disini, ia dan kawan-kawannya pernah menceritakan perlakuan yang diterimanya ke KBRI, mereka urunan untuk bisa datang ke perwakilan bangsa Indonesia tersebut dengan mencuri-curi waktu, namun pihak KBRI menurutnya berjanji akan mendatangi tempat kerja dan menemui sang majikan tetapi ternyata janji itu sampai pertemuan kami di pesawat hanya tinggal janji. Singkat cerita, setelah 3 tahun bekerja ia berhasil mendapatkan paspornya kembali dengan alasan ingin kembali sebentar ke Indonesia dan ia dibolehkan cuti meski hanya sebentar. Kesempatan emas ini tidak disia-siakan, ia pun kembali kekampung halamannya di Bondowoso, Jatim. 

Dalam obrolannya dengan saya ia sudah bertekad bulat tidak kembali ketempat kerjanya sebagai petugas penjaga dan kebersihan makam pekubuiran Cina. Ia ingin mencari bekerja dengan majikan Muslim dan kebetulan sebelum kembali ke Indonesia dia telah menemukan calon tempat kerjanya yang baru di sebuah restoran yang dimiliki seorang Melayu Islam. Kawan-kawannya sesama TKI yang bekerja disana menceritakan bahwa majikannya sangat baik dan menuruh pekerjanya sholat 5 waktu. Majikan seperti ini yang dicarinya, oleh karena itu ia bertekad sekembali dari liburan di kampung halaman ia akan bekerja ditempat itu.

Selamat bekerja 3 tahun di Malaysia ternyata ia hanya dapat sekedar membeli olah-oleh untuk anaknya yang ketika ditinggalkan masih bayi. Demikian berat perjuangan sang Bapak dalam mencari sesuap nasi di negeroi orang sampai-sampai mengorbankan anak istrinya ditinggalnya bekerja di rantau.  Meski hanya membawa pulang sedikit ringgit tetapi pada raut wajahnya tampak cerah dan terkesan bisa "nrimo" apa yang dialaminya itu karena pemerintah Indonesia saat ini masih belum mampu membuka lapangan pekerjaan yang memadai untuk orang-orang sepertinya. Keceriannya ini makin tampak manakala pesewat air asia yang diterbangkan dari bandara khusus LCCT KUala Lumpur mendarat di bandara Juanda Surabaya, dan kepadanya saya ucapkan selamat jalan selamat berlibur bersilaturahmi dengan anak istri dan handai taulan sanak kerabat, semoga mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dan manusiawi.

Sumber : UIN Malang

5 komentar

Belajar dari kejayaan Ilmuwan Islam masa lalu

Kaum ilmuwan atau sejarahwan sejati dari dunia Barat tentu mengetahui betapa dahulu kala umat Islam pernah berjaya memimpin bangsa-bangsa lain dimuka bumi ini, baik dalam pemerintahan maupun terkait kemajuan peradaban dunia. Sejarah Islam menunjukkan keunggulan umat Islam dibidang paradaban dalam arti luas termasuk pesatnya perkembangan sains, ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa lalu. Tidak sedikit ilmuwan Islam yang berhasil meletakkan dasar-dasar ilmu baru yang kemudian dalam perjalanan sejarahnya menjadi acuan ilmuwan Barat untuk lebih mengembangkan ilmu-ilmu yang dirintis oleh ilmuwan Islam tersebut.

Jasa saintis Islam Ibnu Sina (Avicenna) sebagai contoh yang telah berhasil memosisikan dirinya sebagai pelopor lahirnya ilmu kedokteran modern. Ilmuwan Islam lain yang berjasa sekaligus perintis pengembangan keilmuwan, sebut saja misalnya Ibnu Rushd (Averroes), al Biruni, Jabir Ibnu Hayyan (Ibnu Geber), Ibnu Ismail al Jazari, penemu ilmu robot modern, al Mawsili, ahli musik klasik, al Ghazali ahli dibidang ilmu tafsir, fiqih, filsafat dan akhlak,  Ibnu Haitham, ilmuwan optik dari Basrah yang teorinya digunakan para saintis Itali untuk menemukan kaca pembesar pertama di dunia, serta masih banyak lagi ilmuwan Islam yang telah meletakkan fondasi bagi pengembangan ilmu modern sebagaimana yang kita rasakan dan alami sekarang ini. Albert Einstein ilmuwan fisika yang lahir jauh setelah Al Khawarizmi dan Abul Wafa meletakkan dasar-dasar ilmu matematika, trigonometri, algoritma bahkan astronomi, sehingga perkembangan IPTEK diawali oleh rumus-rumus temuan yang diciptakannya. Rumus Einstein tentang enersi yang terkenal itu juga didahului oleh penemuan mereka (ilmuwan Muslim).

Sungguh hebat ilmuwan Islam pada masa lampau yang bisa menghasilkan karya-karya besar, fenomenal dan manfaatnya terasa hingga sekarang, dinikmati umat manusia dimuka bumi ini. Keunggulan para intelektual Islam tersebut nyaris tidak pernah dipublikasikan secara masif terutama agar diketahui oleh umat Islam itu sendiri. Sengaja atau tidak sengaja kita merasakan betapa informasi mengenai suksesnya tokoh sains tersebut tertutupi dengan semaraknya propaganda dan publikasi Barat yang gencar mendunia, sehingga kita tidak mengetahui secara gamblang akan keberhasilan sejumlah saintis Islam masa lalu.

Kini, mari cermati mengapa para ilmuwan Islam zaman dahulu berhasil menunjukkan kinerja cemerlang? Coba tengok sejenak kebelakang perjalanan kehidupan mereka sebelum akhirnya mereka berhasi melahirkan temuan dan karya spektakuler yang diakui dunia. Tentu ada sesuatu hikmah yang dapat dipelajari bagi kita umat Islam masa kini agar zaman kejayaan Islam dalam peradaban, ilmu dan kehidupan dunia dapat berulang kembali. Bukankah melalui sejarah kita bisa mengambil hikmah dan dari sana kita akan mampu meraih masa depan yang lebih baik?    

Hal yang menarik untuk dibahas disini adalah bahwa ternyata masa kecil para ilmuwan tersebut diatas tidak bisa dilepaskan dari pemahaman tentang keagamaan. Pada usia Balita mereka sudah terbiasa dan dibiasakan dengan ayat-ayat suci al Quran bahkan banyak dari mereka yang hafal al Quran semasa kecil. Pemahaman mereka terhadap bahasa Arab dan ketekunan mendalami ajaran Islam yang bersumber dari al Quran dan Hadist membuat mereka bersemangat untuk lebih meneliti obyek-obyek yang menjadi minat dan kajiannya. Bisa jadi dan merupakan suatu keniscayaan bahwa kompetensi naqliyyah para ilmuwan itu membimbing daya aqliyyah dan emosi mereka dalam mewujudkan karya spektakuler.

Rata-rata dari para ilmuwan Islam memulai kajian ilmu setelah mendekati (dalam arti mempelajari) ayat-ayat qawliyyah dan kemudian diteruskan dengan melakukan uji coba, riset dan penyelidikan mendalam untuk memahami lebih lanjut ayat-ayat kauniyyah. Perpaduan pemahaman kedua ayat (qawliiyah dan kauniyyah) ini membawa mereka pada keunggulan unjuk kerja optimal yang menghasilkan karya-karya agung dan mendasar. Ini mungkin bisa disebut berkah yang diberikan Allah disebabkan kecintaan mereka dalam mempelajari tanda-tanda kekuasaan Allah baik yang bersifat qawliyyah dan kauniyyah serta merupakan perpadauan kedua kekuatan yang ada dalam aqilyyah dan naqliyyah. Keberhasilan mendapatkan hikmah dari kegiatan memahami agama (Islam) semenjak usia dini merupakan kata-kata kunci terpenting bagi tumbuh-kembangnya ilmu pengetahuan di dunia ini.

Pada masa kecil ilmuwan Islam tersebut disiplin, tekun dan giat menggali ilmu melalui al Quran dan Hadist. Tiada hari tanpa membaca dan mengkaji al Quran dan Hadist serta terus berupaya untuk meningkatkan pemahaman dari apa yang tersirat dan tersurat dalam ayat-ayat qawliyyah tersebut. Ketertarikan mereka pun berlanjut pada ayat-ayat Allah yang lain (kauniyyah) sehingga mereka berhasil melakukan perenungan, uji coba, penyelidikan dan pendalaman lebih lanjut terhadap apa yang dikaji. Semangat mereka tak dapat dipungkiri berasal dari hati tercerahkan setelah sekian lama mendalami secara sungguh-sungguh ayat-ayat Allah, seraya berharap memperoleh keberkahan dari apa yang ditekuninya dari Allah SWT. Mengapa umat islam Indonesia tidak mempelajari cara ilmuwan Islam menekuni ilmu yang dimulai dari penguasaan ayat-ayat qawliiyah? Dalam kaitan ini maka sesungguhnya program pendidikan anak usia dini (PAUD) apabila mencontoh kehidupan Balita para saintis Islam masa lalu yakni dengan memperkuat penguasaan Bahasa Arab, al Quran, Hadist yang dimulai dari menghafal al Quran, diharapkan keberkahan Allah bukan mustahil  menghampiri program PAUD. Kemudian, pada gilirannya diharapkan akan lahir ilmuwan-ilmuwan besar dari kalangan kaum muslimin sebagaimana dahulu kala ilmuwan-ilmuwan termasyhur berangkat dari tingkat pemahaman agama yang mendalam.

Sumber : UIN Malang

0 komentar

Belajar 4 Hal Dari Pendidikan di Negara Maju

Saya beruntung diberikan Allah kesempatan untuk mengarungi kehidupan di luar Indonesia khususnya di Eropa dan Amerika Serikat meski cuma sekitar dua-tiga tahun. Dari sana banyak sekali hikmah yang saya peroleh baik ketika berada di dalam ruang-ruang kuliah maupun saat berinteraksi dengan masyarakat setempat di luar tembok pendidikan formal. Saya merasakan dan mencatat sejumlah hal yang menurut hemat saya merupakan kekuatan aktivitas pendidikan di Eropa, Amerika dan negara-negara maju pada umumnya. Catatan dan pengalaman saya selama berada di negara-negara yang sering disebut sebagai negara maju akan saya ungkapkan secara ringkas dan sederhana dalam tulisan ini.

Paling tidak ada empat fenomena menarik yang dimiliki oleh masyarakat Eropa dan Amerika, sehingga menjadikan mereka dalam berbagai hal ditiru oleh negara/kelompok masyarakat lain. Pertama, hubungan antara dunia pendidikan dan kehidupan masyarakatnya amat berkaitan. Contoh-contoh yang dipraktekkan di sekolah atau institusi pendidikan juga berlangsung di dalam kehidupan masyarakat, artinya kebiasaan yang mereka lakukan di dalam gedung maupun diluar gedung persis sama.

Siswa/pelajar dilatih disiplin, antri, menghargai pendapat orang lain yang ternyata fenomena itu juga yang dapat kita lihat dalam kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu kesopanan, tata pergaulan yang dibentuk di sekolah dengan baik juga terjadi diluar sekolah. Manakala mereka memperoleh sesuatu dari orang lain secara otomatis kata terima kasih selalu meluncur dari bibirnya, demikian pula mereka sering menyampaikan kata-kata pujian kepada pelajar yang menyelesaikan tugas sehingga membuat pelajar itu tambah bersemangat.

Ternyata kebiasaan mengucapkan terimakasih dan memuji orang yang telah mengerjakan sesuatu dengan baik juga biasa dilakukan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Singkatnya, semua kebiasaan baik yang dilakukan di sekolah/universitas juga dapat kita temui di ruang-ruang publik, ini berarti tidak ada perbedaan kualitas interaksi manusia antara sekolah dan luar sekolah. Kehidupan masyarakat yang disiplin, patuh/taat hukum, menyenangi perbuatan baik, mengormati orang lain, tepat jani dan sebagainya ternyata juga merupakan fenomena yang biasa berlangsung di lembaga pendidikan mereka. Sehingga dapat dikatakan kualitas peradaban masyarakat di negara maju mencerminkan pula kualitas peradaban di sekolah dan begitu sebaliknya.

Kedua, keteladanan dan contoh nyata oleh guru amat diperhatikan terutama dalam pembentukan watak dan karakter anak. Pelajar dibiasakan untuk memosisikan segala sesuatu sesuai ketentuan, misalnya guru akan mengambil sampah tercecer dikelas untuk kemudian memasukkannya ke tempat sampah, lalu jika disekitar pelajar masih terdapat sampah berserakan serta merta guru mengingatkan pelajar untuk membersihkan.

Namun oleh karena sudah menjadi kebisaan yang melekat pada umumnya sebelum guru mengingatkan dengan sendirinya sang pelajar sudah tahu apa yang mesti dilakukan terhadap sampah itu. Inisiatif tinggi mereka untuk menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang diwujudkan langsung dalam bentuk perilaku. Praktek-praktek ini akhirnya menjadi "darah daging" dan tertanam kuat pada diri pelajar, sehingga dalam kehidupan masyarakat kebiasaan baik tersebut diejawantahkan dengan baik. Peran guru dalam mengarahkan perilaku pelajar menjadi begitu penting melalui berbagai keteladanan, sehingga guru disana adalah manusia pilihan yang berkarakter baik. Jika seorang guru menampakkan perilaku negatif yang disaksikan banyak orang serta merta ia akan mendapat sanksi keras karena dianggap tidak tepat menjadi seorang guru sekolah.

Ketiga, pendekatan learning by doing senantiasa dilakukan dalam memberikan pemahaman terhadap murid tentang berbagai subyek. Untuk melatih mengekspresikan pesan-pesan verbal guru menyuruh murid menyampaikannya secara lisan di depan kelas. Guru juga mengarahkan mengungkapkan pesan-pesan yang dimiliki murid dalam bentuk tulisan. Latihan-latihan langsung ini dibiasakan dalam setiap pembelajaran dan inilah yang disebut dengan pendekatan learning by doing itu.

Setiap unjuk kerja murid selalu memperoleh penilaian positif sehingga membuat murid tetap bersemangat melakukan unjuk kerja dan selalu berupaya menjadi yang terbaik. Membangkitkan motivasi murid diperlukan, oleh karena itu pujian dari guru atas apa yang telah dilakukan murid mutlak diperlukan. Tidak ada satu murid pun yang tertinggal untuk tidak menyampaikan pesan-pesan yang ingin disampaikan, ini berarti semua murid mulai tingkat sekolah dasar diberikan kesempatan sama (equal opportunity) dalam menyampaikan pesan lisannya di depan kelas.

Disisi lain kecakapan verbal lain dalam bentuk menulis atau mengarang juga diperhatikan sama baiknya, yakni pelajar diminta mengungkapkan pengalaman atau ide, gagasan dalam bentuk tulisan. Pemikiran dan perenungan yang dilakukan anak didik dibiarkan menjelajah memperkaya tulisan mereka sehingga tulisan mereka mengalir panjang dan terkesan mendalam. Kedua latihan verbal ini (lisan dan tulisan) biasa dipraktekkan dalam konsep learning by doing tersebut.

Keempat, pendekatan indiividu (individualized approach). Meski kegiatan pembelajaran dilakukan dengan cara klasikal namun tetap terbuka ruang dalam memerhatikan murid secara perseorangan. Bisa jadi dalam hal-hal tertentu ada saja murid yang tidak mampu mengikuti materi yang disampaikan dan jika hal ini terjadi sang guru dengan cermat dan cekatan akan melakukan pendekatan personal untuk mengetahui persoalan yang dialami siswa tersebut.

Kesediaan guru untuk memerhatikan murid tertentu lebih dari yang lain dimungkinkan sepanjang dijumpai masalah dalam diri anak tersebut. Singkatnya, guru tidak hanya sekedar mengajar tetapi juga berupaya bagaimana 'membelajarkan' siswa agar tetap terus terjaga minatnya untuk meningkatkan kualitas unjuk kerja. Pendekatan individu semacam ini tidak hanya berlangsung di sekolah tetapi juga biasa dilakukan di dunia perguruan tinggi. Dosen dengan senang hati akan menolong mahasiswa yang mengalami kesulitan memperoleh pemahaman atas suatu subyek atau memiliki kendala personal dalam mengikuti perkuliahan. Dosen dalam konteks ini berperan sebagai sahabat mahasiswa.

0 komentar

Nelson Mandela dan Kemandirian Bangsa

Dunia berduka manakala tokoh HAM internasional, mantan Presiden kulit hitam Afrika Selatan pertama meninggal dunia. Tidak dipungkiri Nelson Mandela adalah tokoh HAM internasional terkemuka di abad 20-21 ini. Perjuangannya menghapus politik diskiriminasi apartheid di Afrika Selatan amat dikenal di seantero jagad raya. Kegigihan dan keteguhannya dalam menegakkan HAM sudah tidak diragukan lagi, ia pun dicintai banyak orang dari berbagai kalangan dari kulit manapun.

Ketika Nelson di penjara di negerinya sendiri atas upayanya membebaskan Afrika Selatan dari politik Apartheid masyarakat internasional membela dan berjuang agar dilepaskan dari penjara, Saya teringat tatkala berada di Inggris pada tahun 1985-1987, masyarakat internasional di London melakukan unjuk rasa 24 jam non stop tanpa henti hingga Nelson Mandela dibebasakan oleh rezim apartheid di Afrika Selatan. Demikian kuatnya dukungan masyarakat internasional atas perjuangan Nelson Mandela dalam membela kaum tertindas yakni warga kulit hitam di Afrika Selatan, sehingga membuat pemerintah rezim apartheid akhirnya membebaskan Mandela bahkan rezim tersebut tumbang dengan sendirinya.  

Nelson Mandela sendiri di tahun 1955 bahkan pernah datang ke Indonesia menghadiri konferensi Asia Afrika di Bandung kala itu sebagai aktivist pejuang HAM di Afrika Selatan. Beliau amat kagum terhadap Bung Karno dan mengakui terinspirasi oleh pidato-pidato Bung Karno yang banyak mengupas soal kemerdekaan dan kemandirian bangsa. Semangat perjuangan Mandela bertambah besar manakala mengenal sosok Bung Karno yang teguh dalam menegakkan kemandirian bangsa.    

Singkat cerita, setiap perjuangan yang membebaskan rakyat dari kediktatoran, perlakuan diskriminasi, pekastaan atau pengkotak-kotakan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara selalu didukung dunia internasional. Dahulu di Tanah Air ini tatkala Bung Karno memimpin perjuangan dalam merebut dan menegakkan kemerdekaan, masyarakat internasional pun serta merta mendukung rakyat Indonesia. Rakyat dan pemimpin berserta masyarakat internasional yang tidak menyukai penjajahan bersatu padu menentang bentuk-bentuk penjajahan fisik yang mengksploitasi tidak hanya sumber daya alam tetapi juga kedzholiman penjajah terhadap rajyat setempat.

Penentangan terhadap penjajahan satu bangsa terhadap bangsa lain di zaman dahulu memang amat jelas kasat mata dan dialami langsung oleh masyarakat yang terjajah. Dunia sekarang tidak lagi sepakat dengan penjajahan fisik tersebut, oleh karenanya zaman sekarang bisa dikatakan tidak ada lagi penjajahan fisik dimaksud. Akan tetapi esensi dari penjajahan sebenarnya masih saja ada di dunia ini. Jika secara fisik tidak dijajah tetapi secara non fisik tetap saja dijajah. Kedaulatan fisik mungkin sudah dapat diraih tetapi kedaulatan politik, ekonomi, ideologi dan sejenisnya hingga hari ini masih kita saksikan dan alami.

Bung Karno sendiri di berbagai pidatonya terutama setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya di tahun 1945 seringkali mengingkatkan rakyatnya akan penjajahan gaya baru yang beliau sebut dengan neo-kolonilaisme dan neo imperialisme. Penjajahan bentuk baru ini menurut beliau amat halus memang tidak tampak secara fisik tetapi amat dahsyat pengaruhnya sehingga negara tak lagi merdeka secara substansi. Menurut Bung Karno penjajahan di bidang ekonomi, budaya, politik dan ideologi masih menjadi bagian mereka yang memiliki jiwa ekspansif untuk menuasai dunia. Sasaran tembak Bung Karno saat itu amat jelas siapa lagi kalau bukan Amerika dan sekutunya yang menurut beliau mempunmyai agenda neo kolonialisme dan imperialisme dengan menguasai sektor ekonomi, poliitk dan mempengaruhi rakyatnya dengan budaya-budaya Barat.

Oleh karena itu dulu Bung Karno sangat marah apabila ada musisi-musisi (artis) Indonesia yang amat menyanjung musik, kesenian dan kebudayaan Barat, sementara kekayaan budaya kita tidak dijaga dan dikembangkan. Politik bebas aktif juga merupakan pengejawantahan para pendiri republik ini yang tidak suka dengan campur tangan Barat dalam kemandirian berpolitik. Demikian pula di bidang ekonomi, dulu dikenal konsep berdikari, berdiri diatas kaki sendiri. Pada masa itu Indonesia mampu membangun simbol-simbol kemandirian seperti mendirikan Monumen Nasional, Gelora Olahraga, dan berbagai gedung-gedung besar lain secara mandiri dan gotong royong.

0 komentar

Pelayanan Customer Win-Win Solution

Suatu waktu di dalam pesawat terbang dari Surabaya, Indonesia menuju Johor Bahru Malaysia ada peristiwa menarik yang dapat diambil hikmah. Sepasang orang tua warga Malaysia ingin membeli makanan yang dijajakan pramugara dan pramugari maskapai penerbangan itu diatas peswat terbang. Setelah pesanan diberikan lalu Bapak tua itu membayarnya dengan mata uang ringgit Malaysia dalam pecahan RM 50. Spontan pramugara mengingatkan agar membayarnya dalam bentuk mata uang rupiah sesuai ketentuan pembelian yang tertulis dalam daftar menu, sehingga mata uang ringgit tidak berlaku.

Sang pembeli tidak bisa menerima ketentuan itu karena menurutnya jual beli diatas pesawat terbang tujuan luar negeri melibatkan antarabangsa khususnya negara Indonesia-Malaysia sehingga semestinya berbelanja dengan menggunakan kedua mata uang negara itu bisa dimaklumi. Tetapi pramugara dan pramugari tersebut tetapi bertahan dengan pendapatnya bahwa pembelian diatas pesawat itu menggunakan rupiah. Hanya saja anehnya sang pramugara mengatakan bila tetap ingin membayar belajaannya dalam bentuk ringgit maka uang kembalinya dalam bentuk rupiah. Tawaran pramugara itu ditolak mentah-mentah dengan alasan yang cukup masuk akal, menurutnya untuk apa diberikan rupiah padahal ia akan pulang ke negaranya sehingga kembalian uang rupiah yang tidak seberapa itu tidak dapat digunakan. 

Sampai disini masing-masing pihak bersikeras dengan pendapatnya pihak pramugara/pramugari tetap pada pendirian bahwa uang ringgit bisa diterima tetapi kembalian dalam bentuk rupiah, sang pembeli juga bertahan bahwa ia tidak memiliki rupiah dan membayar dalam ringgit Malaysia. Ketika tidak terjadi kesepakatan lalu pembeli itu tidak jadi membelinay dan mengembalikan makanan khas Malaysia yang telah dipesan berikut  2 gelas minuman hangat. Makanan yang dibungkus dalam wadah kotak alumunium yang dikembalikan bisa diterima tetapi untuk kedua minuman hangat itu sang pramugara tidak menerimanya karena minuman panas itu berasal dari kemasan saset sehingga sang pembeli mesti membayarnya. Lagi-lagi sang pramugara tidak cepat tanggap bahwa si pembeli sudah mengatakan tidak punya uang rupiah tetapi ia tetap minta dibayar. Pembeli tidak mau membayar karena ia hanya punya ringgit dan tidak akan bisa dikembalikan uang RM50 nya itu dalam ringgit.

Dengan nada kesal sang pramugara akhirnya mengatakan....'ok  sir, I'll take it....I pay for it.....Thank you". Pramugara lalu mengambil kedua minuman hangat itu dan menaruhnya di troli penjualan makanan minuman yang ada diatas pesawat tersebut. Pembeli pun bersikap dingin tidak merespon tindakan pramugara karena pembeli tampaknya merasa benar dan tidak ingin dirugikan dalam kasus jual beli makanan dan minuman diatas pesawat itu.  Ia bersikukuh bahwa jual beli diatas pesawat dengan tujuan Malaysia seharusnya juga menyediakan ringgit Malaysia, sehingga membuat nyaman baginya. 

Apa hikmah yang dapat dipetik dalam kasus ini? Paling tidak ada empat pelajaran yang diperoleh dari kerumitan dalam kasus pembelian makanan minuman diatas pesawat itu bisa terjadi. Pertama, pihak maskapai penerbangan amat kaku dalam menetapkan ketentuan pembelian makanan minuman diatas pesawat yang mengharuskan menggunakan uang rupiah, padahal perjalanan pesawat itu meski dari Indonesia tetapi menuju luar negeri (Malaysia) yang sudah tentu bisa jadi penumpangnya tidak memiliki uang rupiah, oleh karena itu semestinya pihak maskapai penerbangan perlu memberlakukan juga ketentuan pembayaran dalam ringgit.

Kedua, sebenarnya penumpang tersebut tidak keberatan jika harga rupiah pada makanan dan minuman yang dibeli kemudian dikonversikan kedalam ringgit, asal saja pengembalian dari pembeliannya dalam bentuk ringgit juga, sehingga sebenarnya maskapai tidak dirugikan bahkan bisa lebih untung dari selisih kurs mata uang, namun persoalannya ternyata maskapai tidak menyiapkan ringgit.

Ketiga, pramugara-pramugari yang menjajakan barang dagangan perlu diajarkan cara-cara bernegosiasi yang baik dan cara mengatasi masalah secara kreatif dan win-win solution. Dalam kasus diatas sebenarnya harga makanan dan minuman yang dibeli kedua orang tua itu cukup besar nilainya, sehingga kembalian uang untuk pembeli itu hanya beberapa ringgit saja. Mungkin akan aneh kedengarannya  jika keempat pramugara-pramugari yang bertugas di pesawat yang rutin terbang antara Indonesia Malaysia itu tidak memiliki uang ringgit. Para awak kabin itu bisa saja saling pinjam meminjam uang ringgiit apabila terjadi kasus seperti ini.

Keempat, sang pramugara bisa saja menawarkan makanan minuman dan barang lain yang dijual dipesawat hingga nilai total pembeliannya sebesar RM 50 sehingga tidak memerlukan uang kembali dalam bentuk ringgit. Nanti apabila pramugara memang benar-benar tidak punya ringgit bisa menukarkannya agar uang rupiah yang terkumpul atas hasil penjualan barang makanan dan minuman dapat disetorkan ke pihak maskapai penerbangan. Saya kira hal-hal kreatif seperti ini penting diajarkan kesemua awak kabin.

Tujuan suatu aktivitas bisnis yang melibatkan kastemer pada intinya adalah bagaimana meempatkan kastemer sebagai orang penting Very Important Person (VIP) sehingga orang-orang yang berhadapan langsung dengan kastemer mesti diajarkan cara-cara menyelesaikan masalah dilapangan secara tepat (tactfully) dengan landasan win-win solution. Kastemer yang senang tentu akan bermanfaat bagi perusahaan karena kepuasan kastemer sesungguhnya merupakan promosi gratis perusahaan atau unit bisnis apapun yang bersinggungan dengan jual beli barang.

0 komentar
 
Support : Aditya Nusantara | Berita Terbaru | Berita Kampus
Copyright © 2014. IMAKA MALANG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger