Featured Post Today
print this page
Latest Post

Saintek Gelar Workshop Kompetensi Meneliti Bagi Mahasiswa

penelitian-mahasiswa

IMAKA MALANG - Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) UIN Maliki Malang memberi perhatian lebih terhadap penelitian. Tidak hanya penelitian yang dilakukan oleh dosen tetapi juga mahasiswa. Salah satunya yaitu melalui ajang kompetisi meneliti bagi mahasiswa. Sementara untuk membekali mahasiswa bagaimana memecahkan persoalan dalam meneliti, Fakultas Saintek gelar Workshop Kompetensi Meneliti Bagi Mahasiswa 2014 (23/4).

Acara yang bertempat di Aula gedung C lt.3 itu dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Dr. Ahmad Barizi, dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk membangun jiwa kompetisi, serta menumbuhkan jiwa akademisi terutama dalam ketrampilan meneliti. “Tak tanggung-tangung dana yang disediakan yaitu 285 juta untuk dana penelitian bagi mahasiswa yang terpilih untuk masing-masing jurusan sebanyak 30 judul penelitian,” terangnya.

Materi pertama disajikan oleh Dekan Fakultas Saintek, Dr. Bayyinatul Muchtaromah, menerangkan pengembangan riset di Fakultas Saintek. Beliau mengatakan bahwa kemajuan suatu universitas 30% bisa dilihat dari hasil risetnya, selanjutnya 30% dari hasil publikasi riset. “Sehingga perlu adanya peningkatan baik kuantitas maupun kualitas penelitian, salah satunya melalui kegiatan kompetisi meneliti untuk mahasiswa” paparnya. Lanjutnya, sehingga output yang dihasilkan dari kegiatan tersebut yaitu sesuai dengan roadmap penelitian tiap jurusan masing-masing. “Sehingga didapatkan penelitian yang bertahap dan berkelanjutan tiap tahun yang nantinya bisa dipatenkan dan memberikan kontribusi terhadap masyarakat untuk mengatasi masalah global,” harapnya.

Sementara pemateri kedua, Agung Murti Nugroho, Ph.D, Ketua Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Brawijaya  menjelaskan tentang strategi dan teknik membuat proposal penelitian yang kompetitif. Beliau menjelaskan bahwa penelitian yang kompetif yaitu penelitian yang memiliki originalitas dan memberikan kontribusi yang signifikan. Sementara format penulisan proposal yang baik diantaranya yaitu ringkasan yang sistematis, latar belakang yang logis, metode yang skematis, dan pembiayaan yg realistik. “Selain itu, mengetahui unsur-unsur yang ditetapkan oleh pemberi dana penelitian itu juga penting. Yaitu terkait spesifikasi dan tujuan, kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi dan format tulisan,” terang dosen yang menyelesaikan S3nya di Universitas Teknologi Malaysia itu. Diakhir penjelasnya beliau mengatakan bahwa mahasiswa indonesia bukan yang bertumpuh pada dana penelitian melainkan pada hasil penelitian.

===============
Sudah banyak bisnis online yang menawarkan jasanya dengan tawaran hasil melimpah tapi harus cari downline terlebih dahulu. Tapi, bisnis online yang kami tawarkan tidak perlu cari downline. Cukup sekali daftar dan dapatkan manfaatnya. Klik disini

1 komentar

Indosiar Cari Dai Handal di UIN Maliki

aksi

IMAKA MALANG - Menjelang bulan Ramadan yang akan jatuh pada akhir bulan Juni ini, tim Akademi Sahur Indonesia (Aksi) hari ini (24/4) melakukan seleksi dai Aksi di UIN Maliki. Dari 67 pendaftar, tim Aksi Indosiar hanya mengambil dua delegasi dari UIN Maliki yang akan tampil dalam Aksi tersebut di Jakarta.

Ketua Humas UIN Maliki Dr. H. Sutaman menjelaskan bahwa, tim Aksi Indosiar meyakini bahwa UIN Maliki memiliki banyak bibit-bibit unggul yang mampu tampil di kancah nasional. Untuk itu, kata dia, tim Aksi hari ini melakukan seleksi dai Aksi di UIN Maliki selama satu hari.

“Hal ini juga tidak luput dari sejumlah prestasi mahasiswa UIN di Jakarta yang seringkali memenangkan lomba. Baik lomba debat bahasa Arab, ataupun lomba karya ilmiah lainnya,” ungkapnya.

Masih kata Sutaman, usai seleksi Aksi ini. Para dai yang dinyatakan lolos oleh tim Aksi Indosiar diwajibkan mengukuti program karantina selama satu bulan setengah di Pesantren al-Aksi Jakarta. Pemilihan dai Aksi tidak hanya dari UIN Maliki saja. Melainkan juga diambil perwakilan dari muda mudi di seluruh Indonesia. Tim Aksi Indosiar hanya mengambil 42 orang saja  dan selanjutnya akan diseleksi lagi menjadi 32 orang untuk tampil dalam audisi Aksi yang rencananya akan tayang pada 15-29 Ramadan.

“Seperti biasanya, dari 32 peserta nantinya hanya akan diambil 3 pemenang saja. Bagi yang lolos akan mendapatkan hadiah umroh plus uang binaan,” pungkasnya.

===============
Sudah banyak bisnis online yang menawarkan jasanya dengan tawaran hasil melimpah tapi harus cari downline terlebih dahulu. Tapi, bisnis online yang kami tawarkan tidak perlu cari downline. Cukup sekali daftar dan dapatkan manfaatnya. Klik disini

0 komentar

Yogi Sugianto: Kepemimpinan, Pengembangan Lembaga

rektor yogi

IMAKA MALANG - ”Kreatif, Kompetitif, dan berani mengambil spekulasi merupakan hal-hal yang harus dimiliki dalam sebuah kepemimpinan,” ujar Yogi Sugianto dalam kuliah tamunya. Kuliah tamu dalam momentum penandatanganan MoU antara Fakultas Hukum UB dan Fakultas Syariah UIN Maliki angkat tajuk Kepemimpinan dan Pengalaman Pengembangan Kelembagaan. Kegiatan ilmiah tersebut mengacu terhadap pengembangan lembaga yang berkulitas dan peserta didik berkulitas. Sehingga dengan hal itu pula terwujud lulusan yang berkulitas (17/4).

Rektor UB yang telah menjabat selama dua periode tersebut menuturkan bahwa, sebuah kepemimpinan yang tidak kreatif, tidak kompetitif dan tidak berani mengambil spekulasi dapat dipastikan akan beku. Hal tersebut berlaku untuk semua hal. Baik sebuah kepemimpinan, lembaga, dan mahasiswa dalam masa pendidikan sekalipun. Misal, ketertinggalan Indonesia dengan Negara Singapura. Indonesia tertinggal karena tidak berani mengambil spekulasi untuk membangun pelabuhan di pulau-pulau yang strategis dalam lintas perdagangan internasional. “Singapura maju karena dijadikan lintas perdagangan Internasional,” katanya.

Rektor berkacamata tersebut juga mengatakan bahwa, sesuatu akan menjadi fakum jika terbelenggu dengan sebuah rutinitas. Rutinitas yang dianggap sangat melelahkan dan dianggap cukup dalam menunaikan kewajiban sehari-hari menjadikan seseorang pasif. Akreditas A dan program Internasionalisasi lembaga jangan sampai menjadikan UIN Maliki lalai untuk lebih maju. “Jangan terjebak dengan rutinitas yang membuat anda tidak kreatif,” tegasnya.

Dalam hal pengembangan lembaga, lanjutnya, Perguruan Tinggi harus  melakukan ekspansi kapasitas. Baik kapasitas mahasiswa dan sarana prasarana. Hal itu harus dilakukan untuk mensikapi kebijakan pemerintah dalam hal wajib belajar dua belas tahu. Sebuah lembaga Perguruan Tinggi harus senantiasa membuat perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik. “Jika ingin maju, sering-seringlah melakukan perubahan. Meskipun dalam sebuah perubahan akan muncul pertentangan dan meskipun perubahan tersebut tidak menghantarkan kepada keberhasilan,” anjurnya.

sumber : http://uin-malang.ac.id/blog/post/read/140401/yogi-sugianto-kepemimpinan-pengembangan-lembaga.html

0 komentar

Lounching Double Deegre: Pembiayaan Terjangkau, Tempo Pendidikan Cepat

lounching-double-deegre

IMAKA MALANG - Memorandum of Understanding (MoU) antara  Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (UB) dan Fakultas Syariah UIN Maliki resmi ditandatangani. MoU ditandatangani langsung oleh Rektor UB Prof.Dr.Ir. Yogi Sugianto dan Rektor UIN Maliki Prof.Dr.Mudjia Rahardjo. Acara berlangsung di Aula Gedung Rektorat Lt-5. Segenap sivitas akademika Fakultas Syariah turut hadir dalam momentum penting tersebut. Penandatanganan dilakukan selepas kuliah tamu yang disampaikan oleh Rektor UB, Yogi Sugianto (17/4).

Realisasi program Double Deegre beri keuntungan banyak bagi kedua belah pihak. Mahasiswa Fakultas Syariah berkesempatan lanjutkan pendidikan hukumnya di UB. Biaya terjangkau dan waktu tempuh yang relatif cepat bisa diikuti oleh semua alumni Fakultas Syariah. Uang Rp. 2.400.000.00, untuk biaya per semester dan tempo pendidikan berkisar dua hinga tiga semester. “Mahasiswa sangat diuntungkan dengan adanya program ini, baik dari sisi  pembiayaan dan tempo pendidikan yang relatif cepat.” Ujar Mudjia Rahardjo dalam sambutannya.

Selain itu, lanjut Mudjia, Mahasiswa Fakultas Hukum UB dapat menempuh pendidikan Hukum Islam di kampus Ulul Albab. Integrasi keilmuan dari masing-masing Fakultas dapat dilakukan. Tukar menukar wawasan hukum akan menghasilkan integrasi keilmuan yang saling melengkapi satu dengan yang lain. Setelah mahasiswa mendapat wawasan hukum dari kedua fakultas, mahasiswa bisa menjadi lulusan yang berkualitas. Kedua lembaga tentunya akan selalu terpacu melakukan perkembangan menuju lembaga yang berkualitas pula “Patutlah program ini dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa dengan baik. Sehingga dengan hal itu, terbentuklah mahasiswa yang dapat berkompetisi dan bermanfaat di masyarakat,” anjur Rektor kelahiran Blitar tersebut.

0 komentar

UIN-UB Sepakati Kerjasama

mou uin-ub

IMAKA MALANG - Usai melakukan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Kejaksaan Negeri (Kejari) Malang, kali ini Rektor UIN Maliki Malang melakukan MoU dengan Universitas Brawijaya (UB) Malang. Penandatangan MoU itu juga dimanfaatkan untuk kuliah tamu yang langsung diisi Rektor UB Prof. Dr. Ir. Yogi Sugito yang berlangsung meriah di gedung pertemuan Rektorat Lt.5 (17/4).

Dalam sambutan singkatnya, Prof. Mudjia sangat berterimakasih kepada UB yang telah berkenan untuk terus melakukan kerjasama dengan UIN Maliki. Sebenarnya, kata Prof. Mudjia, kerjasama UIN dengan UB sudah lama dilakukan. UB telah banyak membantu atas perkembangan UIN Maliki Malang. Sejak beralihnya IAIN cabang Sunan Ampel Surabaya ini menjadi UIN Maliki, Rektor UB telah membantu meminjamkan tenaga pengajarnya Prof. Dr. Bambang Sumitro untuk memimpin Fakultas Saintek UIN Maliki. “Alhamdulillah, mulai tahun 2013 kemarin Dekan Fakultas Saintek sudah bisa diambil dari UIN Sendiri, tanpa harus meminjam ke UB lagi,” jelasnya.

UB selama ini telah banyak memberikan keuntungan bagi UIN Maliki, dalam pengembangan Pascasarjana pun UB masih berkenan meminjamkan pejabatnya. Dengan adanya MoU UIN Maliki dengan UB ini diharapkan kedepan akan lebih banyak lagi memberikan peluang kepada UIN Maliki.

“UB adalah salah satu universitas terbesar di Indonesia, jadi pertemuan kali ini tidak hanya Mou saja. Melainkan Prof. Yogi saya minta untuk bagi-bagi pengalamannya kepada sivitas akademika UIN Maliki dalam kepemimpinan dan pengalamannya dalam mengembangkan lembaganya,” harapnya.

0 komentar

UIN Tandatangani MoU dengan Kejari Kota Malang

kejari

IMAKA MALANG - UIN Maliki kembali memperkuat kerjasama dan jaringannya. Kali ini Kejaksaan Negeri Kota Malang yang menjadi mitra kerjasama kampus ulul albab ini. Kemarin (15/4) penandatangan MoU dialakukan oleh Rektor UIN Maliki Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo dan Kepala Kejaksaan Negeri kota Malang Munasim, SH. MH.

Acara yang berlangsung di gedung Home Teater Fakultas Humaniora ini dihadiri oleh unsur pimpinan Universitas, Fakultas, dan Jurusan, staf karyawan di lingkungan UIN Maliki, serta mahasiswa. Penandatangan MoU ini memperkuat kerjasama antara dua lembaga negara dalam hal pendampingan hukum dan pendidikan. Selain itu, kepala Kejari Malang didaulat untuk memberikan kuliah umum dengan tema “Eksistensi kejaksaan Negeri dalam Membangun Indonesia Bermartabat”.

Dalam sambutannya, Rektor UIN Maliki mengungkapkan terimakasih kepada pihak Kejaksaan yang telah bersedia hadir dalam rangka meberikan wawasan terkait hukum kepada civitas akademika UIN Maliki. “Ini kesempatan bagi civitas akademika UIN Maliki dalam memahami persoalan hukum dan harapannya kita semua menjadi orang-orang yang  taat hukum dan bekerja sesuai dengan aturan yang berlaku,” ujar Prof Mudji.

0 komentar

Dukuh Plapar Yang Menjadi Santri

Logo_UIN_Maulana_Malik_Ibrahim_Malang

Dukuh Plapar ini mengingatkan pada saya bagaimana ayah saya dalam berdakwah melakukan pendekatan dengan masyarakat yang belum mengerti sama sekali tentang Islam, sehingga kegiatan sehari-hari mereka jauh dari nilai-nilai Islam. Mereka sangat biasa mengkonsumsi makanan yang tidak halal seperti daging babi hutan, melakukan judi, minuman keras dan perbuatan haram lainnya. Ayah saya memperlakukan mereka sebagai masarakat yang memerlukan penghormatan, artinya terhadap mereka tidak pernah menyakiti dengan cara menyindir dengan kata-kata, apalagi mengolok-olok. Ayah saya selalu melihat mereka sebagai masyarakat yang belum mengerti tentang Islam, karena itu harus dididik dengan cara sebijak mungkin.

Ayah saya selalu berpendapat bahwa sekalipun yang dilakukan mereka jauh dari ajaran Islam, tetapi bagi mereka sudah dipandang benar. Oleh karena itu, jika kita mencoba menyalahkan dan berusaha mengajak ke jalan yang benar ---menurut kita yakni Islam, mereka pun akan menolak. Sebab, apa yang mereka lakukan selama ini diperoleh dari leluhur mereka yang sangat dicintai dan dihormati. Merubah pandangan hidup mereka, jika tidak dilakukan secara hati-hati atau bilkhikmah, akan dimaknai sebagai tidak menghormati para leluhur mereka.

Kata yang lebih tepat untuk mengubah masyarakat ini adalah alkulturasi. Ayah saya tidak pernah mengubah secara drastic dan total kebiasaan mereka. Justru melalui kebiasaan-kebiasaan mereka, dengan sedikit demi sedikit mengenalkan faham tentang Islam ke dalamnya. Suatu misal, di dukuh ini terdapat kebiasaan melakukan bersih desa, kenduri atau selamatan dengan berbagai sesajen. Ayah tidak pernah menyuruh berhenti dari menjalankan kebiasaan itu. Akan tetapi justru melalui kebiasaan itu, ayah mengenalkan ajaran Islam secara bertahap, sedikit demi sedikit. Dalam sesajen yang terdiri atas berbagai jenis makanan yang dihidangkan, ayah yang selalu diminta tampil untuk memberikan penjelasan maksud kenduru diselenggarakan, selalu menyelipkan pada penjelesannya sesuatu yang mengarah pada ajaran tauhid. Sedemikian lembut dan samarnya penjelasan itu, sehingga mereka tidak terasa bahwasanya alam pikiran mereka sedang dipengaruhi dan diubah.

Ayah saya selalu memberikan penjelasan pada saya, bahwa tidak mungkin mengubah masyarakat dapat berhasil dilakukan dengan cara tergesa-gesa, apalagi secara frontal. Kata dia, yang diubah bukan fisik melainkan kawasan hati atau keyakinan.

Istilah dukuh, menunjuk pada wilayah bagian dari sebuah desa. Desa pada umumnya terdiri atas beberapa dukuh. Dukuh Plapar sendiri masuk Desa Watulimo, letaknya jauh dari jalan besar yang bisa dilewati kendaraan roda empat. Ke padukuhan ini, orang biasa menempuh dengan jalan kaki, berjarak kira-kira 3 km dari kantor kelurahan. Waktu saya masih anak-anak, seumur anak sekolah dasar, biasa orang pergi kemana-mana dengan jalan kaki. Kendaraan baik roda dua apalagi roda empat, masih amat jarang ditemui. Pemilik kendaraan bermotor baru dapat dihitung dengan jari jumlahnya, dan hanya beberapa saja yang memiliki sepeda pancal.

Dukuh Plapar dikenal masyarakat sebagai wilayah yang penduduknya gemar berburu babi hutan. Mereka beragama Islam, tetapi tidak mengenal ajaran Islam, kecuali dalam batas yang sangat sederhana, misalnya jika mereka mau berkhitan, nikah dan tatkala meninggal dunia. Entah darimana ajaran ini diperoleh, tidak ada kejelasan. Karena tidak mengenal agama, maka sehari-hari mereka mengkonsumsi daging babi hutan menjadi biasa, demikian berjudi, mabuk-mabukan, dan bergantian isteri juga dianggap hal yang tidak terlalu aib.

Anehnya masyarakat seperti ini tatkala anak mereka menginjak usia belasan tahun juga dikhitan. Begitu pula ketika melangsungkan pernikahan juga mengikuti ajaran Islam. Mereka mengundang pejabat pencatat nikah yang dipanggil dengan sebutan Naib. Pejabat Kantor Urusan Agama (KUA), yang biasanya berkantor di tingkat kecamatan, dengan disebut Naib juga mengalami kesulitan tatkala menikahkan mempelai berdua. Biasanya sebagai pertanda, mereka beragama Islam agar dapat dilayani prosesi pernikahan secara Islam, maka Naib harus menuntunm mereka mengucapkan dua kalimah syahadah. Namun sebatas mengucap syahadah ini mereka selalu mengalami kesulitan, karena memang tidak terbiasa diucapkan.

Memperoleh gambaran masyarakat Dukuh Plapar seperti itu, umumnya kaum santri yang bertempat tinggal di luar Dukuh Plapar tidak mau mendekat. Kaum santri menganggap orang Plapar sebagai orang yang tidak beragama, pemakan daging babi, penjudi, peminum dan seterusnya. Sekalipun tidak pernah terjadi konflik di antara kedua kelompok yang berbeda ini, mereka tidak saling berkomunikasi secara dekat. Di anatara mereka hanya merasa bukan kelompoknya. Mereka masing-masing memiliki kebiasaan dan adat istiadat yang berbeda. Bahkan jika kaum santri, pada saat-saat tertentu harus datang ke Dukuh Plapar biasanya dsilakukan dengan hati-hati, agar tidak makan makanan yang mengandung daging babi.

Pada umumnya, entah dari mana mereka mendapatkan ajaran ang bagus, di antara kelompok yang berbeda dari intensitas keberagamaan itu, ternata tidak pernah terjadi konflik. Di antara mereka sama-sama memahami atas perbedaan itu. Kaum santri biasanya disebut sebagai kaum putih, sedang masyarakat Plapar disebut sebagai kaum merah. Mungkin, perbedaan itu masih diredam oleh adanya saling membutuhkan, misalnya tatkala ada pernikahan, kematian dan sejenisnya, orang Plapar selalu membutuhkan jasa orang santri.

Kerja ulet dan telaten yang dilakukan oleh para da'i, ternyata sekarang Dukuh Plapar sudah berubah secara total. Di dukuh itu sekarang sudah ada masjid dan madrasah. Tidak ada lagi orang membawa tombak dan anjingnya ke hutan untuk berburu babi hutan. Orang-orang Plapar saat ini kalau sore datang ke masjid sholat berjama'ah. Di sana-sini terdengar suara adzan tatkala waktu sholat tiba. Demikian pula bacaan al Qur'an dengan mudah didengar dari berbagai tempat, baik dari rumah maupun masjid. Perubahan itu terjadi, karena para da'i menempuh cara yang tepat dalam berdakwah. Para da'i tidak menjauh dari masyarakat, tetapi justru mencoba menghargai, menghormati dan cara berpikir orang Plapar. Hasilnya orang Plapar menjadi simpatik dan akhirnya mengikuti seruan para dai, sehingga menjadi muslim taat. Melalui kegiatan diba'an, berzanji dan juga tahlil, lama kelamaan orang Plapar menjadi santri. Apalagi, kegiatan kesenian yang bernafas Islam juga dikembangkan. Dakwah seperti ini kiranya yang justru diperlukan agar berhasil dan bukan menakut-nakuti atau mengancam bahkan juga membuat peraturan.

sumber : Imam Suprayogo

0 komentar

Membangun Institusi Tidak Akan Pernah Selesai

malik-f

IMAKA MALANG - “Banyak yang bertanya apakah perubahan STAIN lalu IAIN hingga institusi perguruan tinggi itu menjadi Universitas dinilai sudah selesai?” Itulah penggalan kalimat pertanyaan yang disampaikan  Prof. Dr. H. A. Malik Fadjar mantan Mendiknas era Gusdur itu pada acara Forum Pimpinan PTAIN Eks-Sunan Ampel Surabaya di aula Rektorat Lt. 5 (12/4).

Sampai kapanpun, kata Malik, pengembangan institusi tidak akan pernah selesai. Karena, zaman terus berkembang dan institusi pendidikan pun juga harus mampu mengikuti perkembangan zaman. Meski begitu, perlu diingat bahwa, perkembangan institusi itu harus tetap menyandang bobot akademik yang mengandung unsur  sistematis.

Masih kata Prof. Malik, perkembangan institusi tidak hanya persoalan upaya menjaga mengembangkan dan meningkatkan kualitas akademik saja, lebih dari itu, antara PTAIN pun harus bisa menjalin komunikasi yang baik. Sehingga perkembangan kelembagaan PTAIN di Indonesia ini bisa merata dan bisa dirasakan secara bersama. “Untuk menjaga keharmonisan antar lembaga tersebut salah satu caranya bisa dilakukan dengan mengadakan pertemuan rutin sepert ini,” ungkapnya.

Pertemuan para pimpinan PTAIN seperti ini, kata dia, juga dapat dijadikan sebagai ajang tukar ide dan gagasan, sehingga hal itu bisa saling melengkapi dan menciptakan harmoniasasi dalam kebersamaan membangun negeri ini. Percepatan dan responsibility terhadap fenomena global saat ini, seorang pimpinan dituntut harus bisa menyiapkan mahasiswanya untuk masa yang akan datang.

“Membangun peradaban setidaknya ada tiga fase. Yaitu, image building, trust building, dan institutional building tiga hal tersebut juga harus diberengi dengan semangat untuk membangun dan jangan sampai saling menjatuhkan antara PTAIN yang satu dengan yang lainnya,” ungkapnya tegas.

0 komentar

Tari Topeng dan Reog PGMI

tari topeng

IMAKA MALANG-Sebanyak Sembilan pimpinan perguruan tinggi Eks-Sunan Ampel Surabaya atau pimpinan PT jebolan IAIN Sunan Ampel Surabaya yang kini telah berubah nama menjadi Universitas Sunan Ampel Surabaya melakukan pertemuan di UIN Maliki (12/4).

Forum pimpinan yang dimulai pukul 15.30 itu semakin meriah saat empat puluh mahasiswa PGMI UIN Maliki menunjukkan kemampuannya melalui penampilan tari Topeng Malang, Saman Aceh dan Reog asal Ponorogo. Jurusan yang tergolong baru di UIN Maliki itu sudah mampu menelurkan mahasiswa yang kreatif khusunya dalam menjaga tradisi budaya lokal.

Rektor UIN Maliki Prof. Dr. Mudjia Rahardjo dibuat terkesima melihat kreativitas mahasiswanya itu. Apalagi, komunitas seni mahasiswa PGMI itu telah mampu menghibur tamu penting UIN Maliki dalam forum pimpinan tersebut. Prof. Mudjia sengaja meminta mahasiswa PGMI untuk bisa menampilkan tari Topeng, Saman dan Reog tersebut dalam acara silaturahim tahunan itu. “Saya senang sekali mahasiswa PGMI UIN Maliki menampilkan kreativitasnya. Penampilan Topeng, Saman dan Reog tersebut juga untuk menyambut Ketua IAIN Ponorogo juga,” ungkapnya sembari bercanda.

0 komentar

Kembangankan Islam dengan Syiar dan Ilmu Pengetahuan

riyadul

IMAKA MALANG - Sholawat kembali bergemuruh di langit UIN Maliki. Hadir Majelis Sholawat Riyadul Jannah dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1434 H (5/3).

Turut hadir Habib Taufiq dan Syekh Abdul Qodir, serta Rektor UIN Maliki Prof. Dr. Mudjia Rahardjo, M. Si. Menariknya, kedatangan rektor beserta jajaran pimpinan diiringi oleh grup sholawat banjari Ma’had Sunan Ampel al Aly.

Setelah sholawat berkumandang, Habib Taufiq menyampaikan tausiyahnya. Sejalan dengan peringatan Maulid Nabi, ia menyampaikan risalah tentang akhlak mulia Rasulullah SAW.

“Rasul mengajarkan kita untuk senantiasa jujur, tawadhu’, berani dalam hal kebaikan, dan bagaimana bersikap dalam bergaul dengan orang lain, baik kepada sanak keluarga, tetangga, maupun  masyarakat,” jelas pimpinan Riyadul Jannah Malang tersebut kepada para jama’ah.

Rasul tidak pernah mengikuti pelatihan leadership, imbuhnya lagi. Namun, keluasan ilmu dan kecerdasan Nabi dalam memimpin patut kita contoh.

Sedangkan, Syekh Abdul Qodir memaparkan mengenai sholat jamaah. Menurutnya kita harus membiasakan sholat jamaah. “Kalau ingin bahagia, biasakanlah sholat 5 waktu berjamaah,” begitu nasehatnya.

Banyak hikmah yang bisa didapatkan dengan sholat jamaah, antara lain tidak akan fakir di dunia, diselamatkan alam kuburnya, Allah akan memberikan catatan amal kita dengan tangan kanan, dan lain sebagainya.

“Saya merasa senang berada dalam satu majelis bersama, terutama di UIN ini,” ujar tokoh agama asal Sumedang itu.

Tak ketinggalan, Prof. Mudjia memberikan sambutannya kepada segenap jamaah yang hadir. “Semoga dengan adanya majelis ini di UIN Maliki, kita semua lebih mendekatkan diri kepada Allah, serta membawa barokah bagi warga kampus,” ungkap rektor dengan diamini oleh para jamaah.

Menurut lelaki yang pernah menjabat sebagai dosen Fakultas Humaniora tersebut, majelis dzikir merupakan tradisi dan bagian dari kegiatan kampus sebagai universitas berbasis Islam.

Sehingga, kehadiran majelis Riyadul Jannah sangat bermakna untuk mengembangkan keIslaman di UIN Maliki. Riyadul Jannah mengembangkan Islam dengan syiar dan dakwah, sedangkan UIN Maliki mengembangkan Islam melalui ilmu pengetahuan.

“Atas nama sivitas akademika, rektor mengucapkan terima kasih telah menyirami UIN dari kekeringan iman,” pungkasnya di akhir sambutan.

0 komentar
 
Support : Aditya Nusantara | Berita Terbaru | Berita Kampus
Copyright © 2014. IMAKA MALANG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger