Belajar dari kejayaan Ilmuwan Islam masa lalu

Kaum ilmuwan atau sejarahwan sejati dari dunia Barat tentu mengetahui betapa dahulu kala umat Islam pernah berjaya memimpin bangsa-bangsa lain dimuka bumi ini, baik dalam pemerintahan maupun terkait kemajuan peradaban dunia. Sejarah Islam menunjukkan keunggulan umat Islam dibidang paradaban dalam arti luas termasuk pesatnya perkembangan sains, ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa lalu. Tidak sedikit ilmuwan Islam yang berhasil meletakkan dasar-dasar ilmu baru yang kemudian dalam perjalanan sejarahnya menjadi acuan ilmuwan Barat untuk lebih mengembangkan ilmu-ilmu yang dirintis oleh ilmuwan Islam tersebut.

Jasa saintis Islam Ibnu Sina (Avicenna) sebagai contoh yang telah berhasil memosisikan dirinya sebagai pelopor lahirnya ilmu kedokteran modern. Ilmuwan Islam lain yang berjasa sekaligus perintis pengembangan keilmuwan, sebut saja misalnya Ibnu Rushd (Averroes), al Biruni, Jabir Ibnu Hayyan (Ibnu Geber), Ibnu Ismail al Jazari, penemu ilmu robot modern, al Mawsili, ahli musik klasik, al Ghazali ahli dibidang ilmu tafsir, fiqih, filsafat dan akhlak,  Ibnu Haitham, ilmuwan optik dari Basrah yang teorinya digunakan para saintis Itali untuk menemukan kaca pembesar pertama di dunia, serta masih banyak lagi ilmuwan Islam yang telah meletakkan fondasi bagi pengembangan ilmu modern sebagaimana yang kita rasakan dan alami sekarang ini. Albert Einstein ilmuwan fisika yang lahir jauh setelah Al Khawarizmi dan Abul Wafa meletakkan dasar-dasar ilmu matematika, trigonometri, algoritma bahkan astronomi, sehingga perkembangan IPTEK diawali oleh rumus-rumus temuan yang diciptakannya. Rumus Einstein tentang enersi yang terkenal itu juga didahului oleh penemuan mereka (ilmuwan Muslim).

Sungguh hebat ilmuwan Islam pada masa lampau yang bisa menghasilkan karya-karya besar, fenomenal dan manfaatnya terasa hingga sekarang, dinikmati umat manusia dimuka bumi ini. Keunggulan para intelektual Islam tersebut nyaris tidak pernah dipublikasikan secara masif terutama agar diketahui oleh umat Islam itu sendiri. Sengaja atau tidak sengaja kita merasakan betapa informasi mengenai suksesnya tokoh sains tersebut tertutupi dengan semaraknya propaganda dan publikasi Barat yang gencar mendunia, sehingga kita tidak mengetahui secara gamblang akan keberhasilan sejumlah saintis Islam masa lalu.

Kini, mari cermati mengapa para ilmuwan Islam zaman dahulu berhasil menunjukkan kinerja cemerlang? Coba tengok sejenak kebelakang perjalanan kehidupan mereka sebelum akhirnya mereka berhasi melahirkan temuan dan karya spektakuler yang diakui dunia. Tentu ada sesuatu hikmah yang dapat dipelajari bagi kita umat Islam masa kini agar zaman kejayaan Islam dalam peradaban, ilmu dan kehidupan dunia dapat berulang kembali. Bukankah melalui sejarah kita bisa mengambil hikmah dan dari sana kita akan mampu meraih masa depan yang lebih baik?    

Hal yang menarik untuk dibahas disini adalah bahwa ternyata masa kecil para ilmuwan tersebut diatas tidak bisa dilepaskan dari pemahaman tentang keagamaan. Pada usia Balita mereka sudah terbiasa dan dibiasakan dengan ayat-ayat suci al Quran bahkan banyak dari mereka yang hafal al Quran semasa kecil. Pemahaman mereka terhadap bahasa Arab dan ketekunan mendalami ajaran Islam yang bersumber dari al Quran dan Hadist membuat mereka bersemangat untuk lebih meneliti obyek-obyek yang menjadi minat dan kajiannya. Bisa jadi dan merupakan suatu keniscayaan bahwa kompetensi naqliyyah para ilmuwan itu membimbing daya aqliyyah dan emosi mereka dalam mewujudkan karya spektakuler.

Rata-rata dari para ilmuwan Islam memulai kajian ilmu setelah mendekati (dalam arti mempelajari) ayat-ayat qawliyyah dan kemudian diteruskan dengan melakukan uji coba, riset dan penyelidikan mendalam untuk memahami lebih lanjut ayat-ayat kauniyyah. Perpaduan pemahaman kedua ayat (qawliiyah dan kauniyyah) ini membawa mereka pada keunggulan unjuk kerja optimal yang menghasilkan karya-karya agung dan mendasar. Ini mungkin bisa disebut berkah yang diberikan Allah disebabkan kecintaan mereka dalam mempelajari tanda-tanda kekuasaan Allah baik yang bersifat qawliyyah dan kauniyyah serta merupakan perpadauan kedua kekuatan yang ada dalam aqilyyah dan naqliyyah. Keberhasilan mendapatkan hikmah dari kegiatan memahami agama (Islam) semenjak usia dini merupakan kata-kata kunci terpenting bagi tumbuh-kembangnya ilmu pengetahuan di dunia ini.

Pada masa kecil ilmuwan Islam tersebut disiplin, tekun dan giat menggali ilmu melalui al Quran dan Hadist. Tiada hari tanpa membaca dan mengkaji al Quran dan Hadist serta terus berupaya untuk meningkatkan pemahaman dari apa yang tersirat dan tersurat dalam ayat-ayat qawliyyah tersebut. Ketertarikan mereka pun berlanjut pada ayat-ayat Allah yang lain (kauniyyah) sehingga mereka berhasil melakukan perenungan, uji coba, penyelidikan dan pendalaman lebih lanjut terhadap apa yang dikaji. Semangat mereka tak dapat dipungkiri berasal dari hati tercerahkan setelah sekian lama mendalami secara sungguh-sungguh ayat-ayat Allah, seraya berharap memperoleh keberkahan dari apa yang ditekuninya dari Allah SWT. Mengapa umat islam Indonesia tidak mempelajari cara ilmuwan Islam menekuni ilmu yang dimulai dari penguasaan ayat-ayat qawliiyah? Dalam kaitan ini maka sesungguhnya program pendidikan anak usia dini (PAUD) apabila mencontoh kehidupan Balita para saintis Islam masa lalu yakni dengan memperkuat penguasaan Bahasa Arab, al Quran, Hadist yang dimulai dari menghafal al Quran, diharapkan keberkahan Allah bukan mustahil  menghampiri program PAUD. Kemudian, pada gilirannya diharapkan akan lahir ilmuwan-ilmuwan besar dari kalangan kaum muslimin sebagaimana dahulu kala ilmuwan-ilmuwan termasyhur berangkat dari tingkat pemahaman agama yang mendalam.

Sumber : UIN Malang

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Aditya Nusantara | Berita Terbaru | Berita Kampus
Copyright © 2014. IMAKA MALANG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger