Featured Post Today
print this page
Latest Post

BAHASA DAN TRANSFORMASI SOSIAL (part 2)

B. Bahasa dan Transformasi Sosial

Tak seorang dapat menyangkal bahwa sejak diproklamirkan sebagai bahasa persatuan, bahasa Indonesia telah mengalami dinamika historis politis yang cukup panjang. Bahasa Indonesia telah berkembang dari bahasa politik untuk menggalang kekuatan mengusir penjajah dan sebagai pernyataan keyakinan dan tekad bangsa Indonesia untuk hidup sebagai sebuah bangsa yang merdeka menjadi bahasa negara yang akhirnya juga terjerat menjadi bahasa penguasa, khususnya Orde Baru. Sebagai bahasa persatuan, bahasa Indonesia mampu menjadi perantara dan bahasa pergaulan antarsuku dan antardaerah. Bahasa Indonesia juga berkembang seiring dengan lahirnya sastrawan-sastrawan terkemuka di negeri ini, seperti Marah Rusli, Ahdijat Kartamihardja, S. Takdir Alisjahbana, Chairil Anwar dan sebagainya. Bahasa Indonesia telah menjadi piranti handal para penyair untuk memperkaya kemampuan ekspresif dan imaginatif mereka sehingga melahirkan karya-karya sastra berbobot yang dapat memperkaya khasanah kebudayaan Indonesia. Tak pelak, bahasa Indonesia telah berhasil menjadi bahasa kebudayaan nasional.

Masyarakat terus berubah, pun juga bahasa, sehingga bahasa dan realitas sosial tidak bisa dipisahkan. Karena itu, perubahan bahasa terjadi karena perubahan sosial baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Sebaliknya, perubahan sosial berimplikasi pada perubahan bahasa. Karenanya, bahasa tidak hanya dibentuk dan ditentukan, tetapi juga membentuk dan menentukan realitas sosial. Bahasa bukan sekadar alat untuk mengungkapkan pikiran, tetapi wahana komunikasi umat manusia.

Kehadiran bahasa dalam kehidupan manusia tidak bisa dianggap secara tiba-tiba, tetapi melalui proses sistem kode atau lambang yang disepakati oleh warga suatu masyarakat atau kelompok secara bersama-sama. Karenanya, bahasa juga dianggap berdimensi sosial. Sebab, bahasa merupakan aspek kegiatan kehidupan sosial manusia.

Tidak banyak yang menyadari bahwa perkembangan bahasa—tentu saja termasuk perubahannya---mengungkapkan banyak tentang keadaan masyarakat tempatnya bahasa digunakan. Masalah-masalah yang berkaitan dengan perkembangan bahasa memang dapat ditinjau semata-mata dari sisi teknis, misalnya bagaimana menyebarluaskan kosa kata, ejaan, pemenggalan kata dan pola kalimat yang benar. Tetapi dari sisi lain, bahasa dapat ditinjau berkaitan dengan perkembangan dalam masyarakat yang lebih mendasar, misalnya mengenai dinamika perubahan sosial, pembentukan dan pergeseran nilai-nilai sosial, bahkan dalam perubahan politik. Semua yang terjadi di masyarakat terungkap sejelas-jelasnya dalam bahasa. Dengan kata lain, bahasa merupakan cermin paling jelas keadaan masyarakat penggunanya.

Situasi yang terjadi di masyarakat hampir selalu tercermin di dalam praktik berbahasa. Sebab, salah satu peran bahasa adalah untuk membangun dan memelihara hubungan sosial, untuk pengungkapan peranan-peranan sosial, termasuk peranan komunikasi yang diciptakan oleh bahasa itu sendiri (Paina, 2000). Karenanya, situasi yang aman dan damai akan melahirkan simbol-simbol kebahasaan yang mantap dan stabil atau konstan dalam kosa katanya. Sebaliknya, situasi yang bergejolak dan tidak menentu juga akan tercermin dalam ungkapan-ungkapan bahasa yang bersifat ambigu dan makna yang simpang siur. Kesimpangsiuran dan keambiguan makna yang demikian ini merupakan fenomena kebahasaan yang timbul karena adanya gejolak kehidupan di masyarakat.

================
Bisnis Online yang Paling Banyak Bonusnya klik disini
================

0 komentar

BAHASA DAN TRANSFORMASI SOSIAL (part 1)

A. Pengantar

Menyusul kelahiran post-modernisme dan post-strukturalisme dalam filsafat modern, tidak bisa dipungkiri bahwa perbincangan tentang bahasa, lebih-lebih pada satu dasawarsa terakhir, menarik minat banyak kalangan dari berbagai disiplin. Mereka juga mengaitkan bahasa dengan berbagai disiplin atau bidang lainnya, seperti politik, hukum, sosial, budaya, filsafat dan sebagainya. Seakan-akan tidak mau ketinggalan, sekarang kita membicarakan bahasa kaitannya dengan transformasi sosial.

Peminat studi bahasa meyakini bahwa sebagai realitas simbolik, bahasa menempati posisi sentral dalam kehidupan manusia. Sebab, ia memperlihatkan aspek majemuk yang mencakup aspek psikologis, politis, kultural, biologis, sosial dan sebagainya. Bahasalah yang menjadi pembeda antara manusia dan makhluk ciptaan Tuhan yang lain. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi atau sebuah sistem kode atau nilai yang secara sewenang-wenang menunjuk sebuah realitas monolitik, tetapi bahasa adalah suatu kegiatan sosial. Secara sosial ia terikat, dikonstruksi, dan direkonstruksi dalam kondisi khusus dan setting sosial tertentu, ketimbang tertata menurut hukum yang diatur secara ilmiah dan universal (Latif, 1996: 18).

Begitu besar peran bahasa bagi kehidupan manusia, sampai-sampai Confucius pernah mendapatkan pertanyaan, apa yang akan dilakukan seandainya diberi kesempatan memimpin negara. “Membenahi bahasa”, demikian jawaban Confusius singkat. Bahasa menurut filsuf Timur ini bukan sekadar cermin keteraturan berpikir, tetapi bahkan akan menentukan keteraturan dan malah ketidak-teraturan sosial (Rahardjo, 2001: 5).

Namun sebelum berbicara lebih jauh tentang tema tersebut, perlu dipertegas dulu judul tulisan ini. Tema yang diberikan panitia kepada saya adalah Bahasa dan Sastra dalam Konteks Transforamasi Sosial. Agar pembicaraan lebih terfokus, tema tersebut perlu dibatasi pada bahasa dalam transformasi sosial. Saya sengaja tidak memasukkan sastra dalam pembicaraan ini, sebab selain agar terfokus, sastra merupakan bidang tersendiri yang layak untuk dibicarakan tersendiri pula. Terdapat dua kata kunci yang menurut saya perlu diberi konsep yang jelas, yakni bahasa dan transformasi sosial. Bahasa yang dimaksudkan di sini adalah bahasa Indonesia.

Meminjam Sturtevant (1947), Masinambow (2000: 7) mendefinisikan bahasa sebagai “... a system of arbitrary vocal symbols by which members of a social group cooperate and interact.” Dalam definisi tersebut terdapat dua perangkat konsep penting yang dalam sejarah teori linguistik telah mengalami batasan-batasan yang berbeda baik di dalam masing-masing perangkat itu sendiri maupun hubungan antara perangkat pertama dan yang kedua. Perangkat pertama adalah “ system of arbitrary vocal symbols” dan yang kedua adalah “by which members of a social group cooperate and interact”. Perkembangan linguistik modern bersumber dari konsep pemikiran teoritis dan metodologis dari perangkat konsep pertama. Sedangkan perhatian para ahli bahasa pada konsep kedua baru muncul menyusul kelahiran sosiolinguistik, sebagai disiplin baru yang terpisah dari linguistik sekitar pertengahan abad ke-20.

Sedangkan transformasi sosial diartikan sebagai perubahan yang menyangkut berbagai aspek kehidupan, seperti tata nilai, pranata sosial, wawasan, cara berpikir, atau kebiasaan yang telah lama terjadi di masyarakat dan sebagainya (Dahlan, 1994: 1). Perubahan tersebut ada kalanya sangat mendasar, tetapi bisa juga bersifat umum. Transformasi sosial bukan sekadar perubahan seperti disebutkan di atas, melainkan juga perubahan mutu kehidupan sosial, budaya, politik, dan ekonomi masyarakat. Tulisan ini akan membahas bagaimana kaitan bahasa dengan transformasi (baca: perubahan) sosial.

================
Bisnis Online yang Paling Banyak Bonusnya klik disini
================

0 komentar

Perguruan Tinggi Unggulan Bermoral Pesantren (PTU-MP)

TERUS terang, lermbaga pendidikan tinggi kita saat ini belum mampu memenuhi tuntutan pendidikan nasional secara utuh sebagaimana yang diamanatkan GBHN: terciptanya kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertaqwa dan berilmu pengetahuan tinggi.Di samping, juga demi memenuhi keinginan orang tua wali murid, agar anak-anaknya mampu menguasai Iptek dan sekaligus mempunyai modal keimanan dan ketaqwaan yang kuat kepada Allah.

Padahal, masyarakat kita sangat membutuhkan adanya lembaga pendidikan ideal seperti itu. Yaitu, lembaga pendidikan yang mampu memberikan ilmu pengetahuan dan teknologi maju (Iptek) sekaligus menubuhkan keimanan dan ketaqwaan. Hal ini bisa dibuktikan dengan membludaknya calon mahasiswa yang igin masuk IAIN ketika masih terbuka program tadris, matematika dan bahasa Inggris. Di situ mereka bisa mendapatkan dua keuntungan, menguasai ilmu-ilmu umum (matematika dan bahasa Inggris) dan sekaligus ilmu-ilmu agama.

Kondisi Perguruan Tinggi.

Perguruan tinggi kita saat ini telah banyak memberikan andil bagi pembangunan SDM nasional. Amat banyak sarjana dan ilmuwan dilahirkan dari sana. Akan tetapi, jika dilihat dari segi kualitas keilmuan dan pembinaan moralnya, masih sangat jauh ketinggalan dan kita patut prihatian.

Untuk soal kualitas, bisa dilihat dari segi relevansinya dengan dunia kerja. Pada tahun 1989, angka partisipasi pendidikan tinggi kita 2,3%, sedang Malaysia telah mencapai 5,1% dan Taiwan 10,1%. Tahun 1991 ada kenaikan, menjadi 10%. Namun, itu juga belum bisa dibanggakan, karena angka itu telah dicapai Korea pada tahun 1975. Sebagai perbandingan, angka partisipasi pendidikan tinggi 38% dicapai Filipina tahun 1985, Thailand 20% tahun 1985, Singapura 12% tahun 1983.
Rendahnya partisipasi pendidikan tinggi kita terhadap dunia kerja ini kemudian memunculkan masalah baru; soal pengangguran yang semakin tahun semakin meningkat. Dalam hasil suatu studi proyeksi yang diadakan ketika mempersiapkan Repelita V yang lalu disimpulkan bahwa jika dunia pendidikan kita tetap berjalan sebagaimana yang ada sekarang, akhir Repelita V akan terdapat surplus tamatan pendidikan sebanyak 614,2 ribu, seterusnya 1 juta lebih pada akhie Repelita VI, dan 1,7 juta pada akhir Repelita VII (Tilaar, 1992, 152).

Bahkan, dilihat dari poros pendidikan dasar - pendidikan tinggi, ada kecenderungan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin tinggi pula peluangnya untuk jadi penganggur. Kelebihan lulusan pendidikan tinggi ini cenderung semakin berlipat-lipat dari Repelita ke Repelita.

Tentang lemahnya pembinaan moral keagamaan di perguruan tinggi, bisa dibuktikan dengan banyaknya penyelewengan, kolusi, korupsi --yang menurut Sumitro sampai mencapai 30 % dari dana pembangunan-- yang dilakukan oleh "orang-orang besar" yang notabene pernah dididik di lembaga perguruan tinggi. Juga bisa dilihat dari seringnya muncul kasus kumpul kebo, narkoba, maraknya budaya sontek-menyontek ketika ulangan, menjiplak skripsi, jual-beli nilai atau yang lain yang tidak sesuai dengan moral akademis dan moral agama.

Dari situ, apa yang dinamakan nilai-nilai keihlasan dalam menuntut ilmu akhirnya juga menjadi terasa hambar. Kegiatan kuliah tidak lagi didasarkan pada niat yang murni untuk meningkatkan kualitas dan potensi diri sebagai aktualisasi ibadah, tapi telah bergeser kearah tujuan-tujuan lain yang lebih prakmatis dan duniawi. Akibatnya, mereka masuk kuliah bukan untuk mencari ilmu, tetapi hanya mengejar nilai formalitas; angka-angka atau selembar ijazah, yang cara mendapatkannya bisa dengan jalan pintas sebagaimana yang banyak terjadi dalam kasus pendidikan kita.

Lembaga Pesantren.

Sementara itu, lembaga pesantren, yang oleh banyak kalangan dinilai sebagai lembaga pendidikan nomor tiga --setelah lembaga pendidikan umum dan agama, dari MIN sampai IAIN-- ternyata mempunyai banyak kelebihan dalam bidang pembentukan moral, yang itu justru sangat dibutuhkan dalam masa-masa kegersangan ruhani seperti saat ini. Di pesantren, nilai-nilai keihlasan --yang di dunia perguruan tinggi telah banyak bergeser ke arah materialistik-- justru tumbuh dengan subur. Dalam pandangan mereka, belajar mengajar, bukan semata demi mengejar prestasi duniawi, tetapi lebih merupakan salah satu dari realisai ibadah.

Di samping itu, pesantren juga punya nilai lebih dalam soal kemandirian dalam kewirausahaan. Para santri punya gairah yang kuat untuk mandiri, sehingga dalam soal pengangguran yang telah mencapai ambang mengkhawatirkan dewasa ini, karena banyaknya sarjana yang tidak mendapat lahan kerja, justru para santri tidak ada yang menganggur. Mereka bisa bekerja apa saja, tanpa pilih-pilih, asal halal. Dan dengan modal semangat seperti itu, bisa dilihat akhirnya banyak santri yang tidak hanya mampu menciptakan lapangan kerja yang baik untuk diri dan keluarganya, tetapi juga untuk masyarakat lain.

Terbentuknya sifat dan sikap yang bagus dalam pribadi para santri tersebut adalah karena adanya sistem dan kondisi yang kondusif dalam pesantren. Dalam kehidupan pesantren, para santri --secara tidak langsung-- telah dilatih untuk mandiri, dibiasakan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, sehingga tumbuh sikap tidak menggantungkan diri pada orang lain.

Disamping itu, pengajaran pesantren lebih menekankan kemampuan aplikasi, kemampuan menterjemahkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari, yang dalam pesantren dikenal dengan istilah ilmu manfaat. Keberhasilan seorang santri tidak diukur dari sisi banyaknya ilmu atu jumlah kitab yang telah dikaji melainkan pada kemampuan dan keberhasilannya dalam mengaplikasikan ilmunya di masyarakat, yang itu sekaligus merupakan berkah atau barokah. Karena itu, setiap santri berusaha mendayagunakan semua ilmunya bila telah keluar, dan karena itu mengapa santri mempunyai "etos kerja" yang lebih baik dibanding lulusan perguruan tinggi; santri lebih bisa diterima (berguna) di masyarakat.

Penyebab Mutu Rendah

Rendahnya kualitas PT kita seperti di atas, sehingga selal tertinggal oleh perguruan tinggi negara-negara jiran, jika diamati, salah satunya adalah dikarenakan minimnya dana pendidikan yang berikan pemerintah. Tahun 1994/1995, dunia pendidikan di Indonesia hanya mendapat jatah 3,9% dari APBN (JP/7/01/94), pada tahun ini bahkan lebih minim, 4,3%. Sementara itu, di Malaysia, Korea Selatan, dan Filipina, lembaga pendidikan mendapat alokasi dana sebesar 30 % dari APBN (Studwick, 1991).

Kondisi seperti ini tidak bisa dibiarkan. Dalam memasuki era global dan pasar bebas ini, di mana persaingan semakin tajam dan kualitas produk termasuk produk perguruan tinggi semakin menjadi tuntutan, mau tak mau, lembaga perguruan tinggi harus mau dan mampu bersaing dengan lembaga-lembaga di luar negeri, minimal tidak kalah dengan lembaga pendidikan negara tetangga. Untuk bisa meningkatkan kualitas atau agar lembaga pendidikan mampu mengejar ketertinggalannya, maka diperlukan tambahan dana yang besar untuk pendidikan, minimal empat kali dari yang ada sekarang.

Tentang penyebab lemahnya pembentukan dan pembinaan moral keagamaan di perguruan tinggi, karena tidak adanya keseimbangan antara muatan agama dan pengetahuan umum dalam kurikulum pendidikan. Di Perguruan tinggi, untuk mencapai sarjana S1, seseorang harus menempuh sekitar 160 SKS, dan hanya 2 SKS yang berupa pendidikan atau pengetahuan keagamaan. Itupun sudah untuk pengetahuan agama yang amat luas; aqidah, syariah dan ahlak.

Dalam perbandingan seperti itu, sudah barang tentu akan sulit bagi perguruan tinggi untuk mampu menelurkan sarjana-sarjana yang utuh sebagaimana yang diamanatkan GBHN. Bila kita tengok kembali tujuan pendidikan nasional terakhir, kurikulum yang ada di perguruan tinggi saat ini, juga lembaga-lembaga di bawahnya, berarti patut ditinjau kebali, khususnya kurikulum lokalnya. Memang ada perguruan tinggi yang memberikan tambahan pendidikan keagamaan sendiri secara khusus, seperti perguruan tinggi yang dikelola al-Maarif seperti Unisma Malang, Universitas Muhamadiyah, atau yang lain. Di sana pendidikan agama mencapai 8 SKS. Namun, di sini kita juga masih patut bertanya, apakah itu sudah mencukupi? Mengingat, dalam perguruan tinggi-perguruan tinggi tersebut kurang adanya penekanan soal pengamalan keagamaan pada waktu-waktu yang lain.

Bukankah banyak juga sarjana yang mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang keagamaan dan mereka dahulu di didik di perguruan tinggi umum? Secara kasuistik, memang tidak bisa dipungkiri adanya kenyataan seperti itu. Saat ini, tidak jarang kita temui tokoh-tokoh yang mempunyai pengetahuan Iptek tinggi sekaligus pengetahuan agama yang mendalam dan mereka pada mulanya menempuh pendidikan di perguruan tinggi umum (bukan pesantren). Tidak jarang ditemukan seorang professor atau Doktor di berbagai bidang keilmuan yang ternyata memiliki kedalaman ilmu agama. Sehingga lantas sering terjadi ada professor yang sekaligus seorang ustad atau ustadzah. Banyak ilmuan yang tampil sebagai penceramah agama di berbagai tempat.

Namun, hal itu bukan berarti materi pendidikan agama di perguruan tinggi telah mampu mengembleng seorang mahasiswa menjadi ahli dan bermoral agama yang kuat. Sebab, jika ada guru besar yang juga seorang ustad, ternyata hal itu karena adanya gemblengan agama yang demikian insentif dalam keluarga atau lingkungannya.

Unggulan.

Untuk mengatasi berbagai kelemahan dan ketertinggalan pendidikan kita dibanding pendidikan di Negara-negara tetangga, perlu adanya perguruan tinggi khusus yang mampu membekali sains dan teknologi tinggi kepada mahasiswanya, di samping penanaman moral keagamaan yang mendalam. Atau sebuah perguruan tinggi unggulan yang bernafaskan moral pesantren (PTU-MP)

Selama ini –walau mutunya masih kalah bersaing, bahkan tertinggal jauh dari lembaga pendidikan yang ada di luar negeri— dunia perguruan memiliki keunggulan dalam bidang penguasaan Iptek. Sedang pondok pesantren, sebagaimana diuraikan, memiliki keunggulan bisang pembinaan pribadi yang beriman dan bertaqwa. Di samping itu, juga dalam sikap kemandirian dan keihlasan yang demikian intensif dalam menuntut dan mengaji ilmu. Perguruan tinggi unggulan yang diharapkan mampu memenhi tuntutan GBHN tersebut adalah sebuah perguruan tinggi yang mengabungkan kelebihan-kelebihan perguruan tinggi dengan kelebihan-kelebihan pesantren, dengan system dan pengelolaan khusus.

Namun demikian, yang perlu diperhatikan, PTU ini tidak berniat menelorkan sarjana yang menguasai pengetahuan umum sekaligus agama. Tetapi, sarjana yang menguasai Iptek sekaligus berperilaku agamis. Soal perilaku dan sikap inlah yang dipentingkan. Bukan sekedar penguasaan terhadap ilmu-ilmu agama. Karena itu, dalam kurikulum PTU itu nantinya, tidak semata-mata dengan menambahkan materi-materi agama dalam jumlah besar dengan perbandingan 50-50 misalnya. Tidak. Materi agama bahkan hanya sekitar 30 SKS saja. 160 SKS lainnya tetap dengan ilmu-ilmu pengetahuan umum.

Lalu baaimana dengan model kurikulum seperti itu PTU mampu membentuk sarjana yang berperilaku agamis? Perilaku manusia sangat dipengaruhi lingkungannya. Karena itu, untuk menciptakan sarjana yang berkepribadian santri, maka para mahasiswa PTU ini akan dididik dalam lingkungan pesantren. Kasarnya, mereka di asramakan. Sehingga, dengan demikian, pembinaan mahasiswa dalam berbagai aspek kehidupan dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Begitu pula aktivitas ekstrakurikulernya.

Namun, model asrama yang dimaksudkan disini bukanlah sekedar asrama sebagaimana yang sering dijumpai di kota-kota, atau di instansi-instansi tertentu. Sistem asrama atau pemindikan bagi segenap mahasiswa PTP ini harus diupayakan sedemikian rupa sehingga mampu meniru dan menumbuhkan "dimensi positip" pesantren, baik segi kegiatan maupun pembinaannya. Misalnya dalam soal kegiatan salat jamaah sehari-harinya, tahajud atau yang lain, sehingga dari sana bisa tumbuh rasa keihlasan, hubungan yang harmonis antara santri (mahasiswa) dengan kyai (dosen), antara mahasiswa dengan mahasiswa, juga sikap kemandirian.
Dengan format seperti itu, PTU akan tampil dengan sosok baru, lembaga pendidikan tinggi yang relatif lebih komplet dibanding lembaga pendidikan lainnya. Dan jika gagasan ini bisa direalisasikan, maka tujuan pembangunan nasional; menciptakan manusia Indonesia yang adil dan makmur, kiranya akan cepat terwujud.

Biaya Investor

Untuk mewujudkan PTU, jelas membutuhkan dana yang sangat besar. Untuk itu, pengelolalannya ini diserahkan kepada investor, bisa dari dalam negeri atau luar negeri (investor asing). Gagasan untuk menyerahkan pengelolaan PTU kepada investor (asing) ini didasarkan atas beberapa alasan. Pertama, saat ini kita tidak mampu menaikkan anggaran dana pendidikan sampai minimal 30% dari APBN, untuk mengejar ketertinggalan dengan Negara-negara tetangga. Padahal, lembaga pendidikan kita sangat membutuhkan dana tersebut untuk mengejar keteringgalan tersebut.

Kedua, untuk menghemat biaya dan menjaga moral plus nasionalisme. Jika pemuda kita sekolah di PTU dalam negeri, karena mtunya yang tidak kalah dengan luar negeri, maka berarti dapat menghemat biaya pendidikan bila dibanding dengan sekolah di sana (luar). Minimal biaya hidup lebih ringan di samping rasa nasionalismenya tidak akan luntur dan pembinaan moralnya terjamin.

Ketiga, bisa untuk menarik devisa. Bila pendidikan kita bermutu karena adanya dana dari investor sehingga mampu membuka kelas-kelas internasional berarti pemasukan devisa bagi negara. Australia secara sadar menjual jasa pendidikannya keluar negeri sehingga ribuan mahasiswa datang ke sana, dan Australia sempat meraih devisa ketiga besarnya dari sektor industri jasa pendidikan ini.

Keempat, bisa merangsang perkembangan pendidikan di tanah air. Dengan adanya peran investor sehingga PTU memiliki mutu dan peralatan yang lebih lengkap di sini, maka mau tidak mau, hal itu merangsang lembaga-lembaga pendidikan yang ada untuk lebih meningkatkan kualitasnya, bila mereka ingin tetap eksis.

================
Bisnis Online yang Paling Banyak Bonusnya? klik disini
================

0 komentar

Tujuan Pendidikan Harus Tauhid

Berbicara tentang tujuan pendidikan, para akademisi dan praktisi pendidikan sering merujuk pada pendapat para filosof dengan harapan hasil konklusi para filosof yang diyakini sangat mengerti tentang filsafat ilmu itu dapat mencerahkan proses pendidikan dan membantu memahami hakekat pendidikan hingga ke akar-akarnya. Dengan cara itu, muncul berbagai batasan tentang pendidikan dan tujuannya. Ada yang menyebut bahwa tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia. Tujuan pendidikan adalah membekali anak didik jiwa mandiri, membentuk manusia yang utuh, mengantarkan peserta didik menggapai masa depan, memfasilitasi mereka masuk ke dunia kerja, dan tujuan-tujuan lain yang beragam mulai yang kongkrit, normatif hingga yang tidak jelas atau sulit dipahami maksudnya.

Saat Al-Quran kali pertama turun ke bumi, Nabi Muhammad telah diperintah: Bacalah dengan Asma Tuhan yang telah menciptakanmu. Dia menciptakan manusia dari segumpal daging. Bacalah demi Tuhan Yang Paling Mulia. Dia memberi ilmu melalui Al-Qolam. Dia memberitahu manusia apapun yang belum diketahuinya.
Surat Al-Alaq ayat 1 hingga 5 di atas menyebut kata kunci: membaca, menulis, mengajar atau memberi ilmu. Kata-kata ini selalu dikaitkan dengan dunia pendidikan sehingga tidak mengherankan jika pendidikan selalu dijadikan landasan hidup manusia. Baik buruknya tingkah manusia juga dihubungkan dengan pendidikan. Maka, lembaga dan praktisi pendidikan seringkali menjadi kambing hitam tatkala alumnusnya atau manusia berbuat negatif. Ada teorisme, kurikulum pesantren diawasi. Koruptor menjamur, muncul usulan untuk memasukkan materi korupsi ke dalam muatan kurikulum. Segala fenomena kehidupan dan tingkah pola manusia, selalu dirujuk pada pendidikan. Apa benar, demikian berat tanggungjawab para penyelenggara lembaga pendidikan? Jika memang iya, berarti memang ada yang salah di sana? Lalu apa yang salah itu, padahal para pakar yang terlibat juga tidak sedikit, bahkan para profesional dan interdisipliner ikut berpartisipasi dalam merumuskan tentang pendidikan?

Kembali kepada ayat-ayat Al-Quran diatas, di sana telah jelas bahwa pendidikan (baca-tulis) harus seiring dengan asma Allah. Itu artinya, tujuan pendidikan harus bermula dan juga bermuara pada tauhidullah. Yakni, mengesakan Allah, mengenal-Nya, mendekati-Nya dan mencinta-Nya. Sebab, hakekat pendidikan atau hak pemberian ilmu yang benar dan bermanfaat adalah berasal dari Allah. Dialah yang mengajar manusia. Dialah yang mampu mengentaskan manusia dari kebodohan. Untuk itu, pendidikan perlu 2 hal, yaitu: proses mengenalkan Allah pada peserta didik dan proses mengenalkan anak didik terhadap diri mereka sendiri. Bahwa di dalam diri manusia yang terbentuk dari daging itu telah tersimpan di sana potensi, soft skill, syakilah, bakat dan potensi tauhid yang harus dicari, diteliti, diketahui dan didayagunakan.

Ali bin Abu Thalib berkata: Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya (Man Arafa Nafsahu, Arafa Rabbahu). Tapi, saya lebih salut dengan pendapat Abu Bakar yang menyatakan: Barangsiapa mengenal Tuhannya, maka ia akan mengenal Tuhannya (Man Arafa Rabbahu, Arafa Rabbahu). Menurut saya, tidak ada yang salah dari dua konklusi tersebut. Justru, kedua ungkapan ini saling melengkapi sebab pada akhirnya tujuan pendidikan memang harus sampai pada pengenalan yang sesungguhnya terhadap Allah, Sang Maha Pencipta. Dengan kata lain, jika proses pendidikan berlangsung di sebuah lembaga seperti Perguruan Tinggi, Sekolah/Madrasah, Ponpes, Majlis Taklim atau dimanapun tempatnya, lalu proses pendidikan yang ada di sana tidak berakhir pada tauhid dan peserta didiknya tetap tidak mengenal Allah, maka jelas proses pendidikan itu telah gagal total. Akibat kesalahan dalam menentukan tujuan pendidikan yang tidak bermuara pada tauhid, maka lulusan lembaga pendidikan hanya terdiri dari manusia-manusia kufur yang ingkar pada ajaran Allah dan nikmat-nikmatnya. Pendidikan yang tidak bertujuan tauhid hanya akan mewisuda sarjana yang tidak memiliki keteguhan hati, ketenangan jiwa dan sikap pesimis dalam menatap masa depan. Tidak sedikit para mahasiswa yang takut diwisuda karena dalam pandangannya telah terbayang nasib pengangguran, malu kepada keluarga dan rekan-rekannya, takut hidup miskin, khawatir tidak punya penghasilan tetap dan sikap-sikap lain yang menjadi ciri-ciri manusia kufur, manusia yang seakan-akan tidak memiliki tuhan.

Dulu, saat di pesantren, para kiai selalu merusaha mengenalkan Allah kepada para santrinya sehingga para santri tetap bersikap kokoh dan mandiri saat boyong. Para kiai dulu paling risau jika santrinya belum mengenal Allah. Tentang prospek duniawi dan materialistik sama sekali tidak masuk dalam kamus pendidikan berbasis tauhid. Pernah ada seorang kiai menguji 40 santrinya supaya masing-masing menyembelih seekor ayam di tempat manapun di dunia ini yang tidak diketahui siapapun. Akhirnya, semua santri berhamburan menyebar ke seluruh penjuru untuk melaksanakan perintah itu. Ada yang mengeksekusi ayam sambil bersembunyi di toilet, di dalam gua, di bawah kolong tempat tidur dan dimanapun yang tampak sepi.

Akhirnya, semua santri kembali menghadap kiai sambil membawa sembelihan ayam itu. Wajah mereka tampak bahagia karena merasa tugas sang kiai telah dijalankan dengan baik dan mereka yakin tidak diketahui siapapun. Akan tetapi rupanya ada seorang santri yang datang terlambat dan tangannya tetap memegang seekor ayam yang masih hidup. Sambil tergopoh-gopoh, santri itu memohon maaf kepada kiai karena ia tidak mampu melaksanakan perintah itu. Ia beralasan bahwa dimanapun ia pergi dan bersembunyi, Allah selalu tahu apa yang akan diperbuatnya. Akhirnya, sang kiai berkata: “Hanya kamu seorang yang lulus, lainnya gagal. Hanya kamu yang benar-benar mengenal Allah Yang Maha Melihat, Maha Mengawasi dan Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Kiai itu bahagia sebab salah satu muridnya telah berhasil mencapai maqam makrifat, walaupun secara kuantitas, kiai itu masih tampak sedih karena mayoritas muridnya belum berhasil mengenal Allah dengan sesungguh-sungguhnya.

Dari kisah itu bisa dipahami bahwa pendidikan yang bertujuan final pada pengenalan terhadap Allah akan membentuk sikap jujur sehingga manusia tidak bermental korupsi. Tujuan itu akan membentuk manusia berhati nurani sebab sekalipun membunuh telah diperintah tapi akal mampu menasehati bahwa Allah tidak tidur. Sikap jujur, mandiri, berani, amanah dan cerdas yang dimiliki santri itu adalah berkat sang kiai mampu mendemontrasi metode yang efektif dalam memperkenalkan Allah.

Bukankah tujuan agama yang diajarkan Nabi Muhammad berpangkal dan bermuara pada tauhid? Nabi dinilai sukses tatkala beliau hanya dalam kurun 23 tahun telah mampu membuka mata hati manusia agar bisa membaca kemahabesaran Allah lalu umat manusia berbondong-bondong menyerahkan dirinya kepada Allah. Jadi, jika lembaga pendidikan tidak mampu memperkenalkan Allah kepada anak didiknya, maka penyelenggara pendidikan itu harus bertanggungjawab kepada Allah sebab ia telah menyia-nyiakan hidup anak didiknya untuk mempelajari segala hal yang justru menjauhkan dirinya dari Allah. Nabi bersabda: Barangsiapa ilmunya bertambah, tapi hidayahnya tidak, maka ia akan kian bertambah jauh dari Allah.

================
Penasaran Dengan Bisnis Online yang Paling Banyak Bonusnya? klik disini
================

0 komentar

Benang Bintik Khas Kalteng

benang bintik

Berbekal pengalaman membatik dari sang ayah, Dimyati (65), dan pengalaman kerja di toko batik di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Anang Risqiyanto (35) asal Pekalongan, Jawa Tengah, melihat peluang mengembangkan produksi batik khas Kalimantan Tengah. Batik khas yang biasa dikenal dengan benang bintik Kalimantan Tengah.

”Sekitar tiga tahun saya bekerja pada bagian pewarna di toko batik. Penghasilan per bulan Rp 2 juta, sedangkan kebutuhan hidup kian bertambah. Saya mengundurkan diri dan mencoba usaha mandiri karena masih sedikit perajin batik di Palangkaraya. Umumnya batik Kalteng dipesan dan dijual di Kalimantan, tapi produksinya di Pekalongan,” kata Anang pada awal Februari 2014 lalu.

Pada tahun 2008, Anang bersama Paramita (24), istrinya, yang juga pernah bekerja di toko batik di Jalan Ahmad Yani, Palangkaraya, merintis usaha produksi batik dengan modal Rp 1,5 juta. ”Ada kenalan pedagang batik yang memberi kepercayaan kepada saya untuk membuat batik. Mereka meminjamkan 13 canting cap, sebuah ender atau wajan, dan 300 meter kain. Dengan upah Rp 17.000 per meter, saya mulai menabung untuk menambah modal,” ucap Anang yang datang ke Kalimantan tahun 2005.

Dari kerja sama sekitar dua tahun, produksi benang bintik Anang mulai dikenal orang. Anang pun memohon izin usaha ke kelurahan dan mendaftarkan usahanya ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Palangkaraya dengan nama usaha Kerajinan Benang Bintik Paramita.

”Sedikit demi sedikit saya bisa membeli canting cap serta menyisihkan uang untuk membeli tanah, juga rumah,” kata Anang yang sejak tahun 2008 mengontrak rumah untuk tempat tinggal dan usaha di Jalan Rajawali 08, Palangkaraya.

Setelah nama usahanya didaftarkan, kesempatan mengikuti pameran dan pelatihan pengembangan usaha mulai berdatangan. Anang mengikuti sejumlah pameran, antara lain Pameran Produk Unggulan Kalteng 2010 di Palangkaraya, Expo Kalteng 2011 di Palangkaraya, dan Pameran Dinas Perindustrian dan Perdagangan di Batam, Kepulauan Riau, tahun 2010. ”Setiap kali pameran, pendapatan mencapai Rp 2 juta hingga Rp 7 juta. Pesanan terus meningkat,” ujarnya.

Sejak tahun 2008 hingga 2010, pemasukannya dalam sebulan berkisar Rp 12 juta hingga Rp 15 juta dengan rata-rata pendapatan bersih Rp 4 juta. Sejak mengikuti pameran tahun 2010, pemasukan Anang setiap bulan lebih dari Rp 20 juta dengan pendapatan bersih di atas Rp 6 juta.

”Memang tidak selalu mendapatkan sebanyak itu, tergantung pada jumlah pesanan yang ada. Dulu per bulan pesanan paling banyak sepanjang 300 meter. Setelah tahun 2010, pesanan kadang mencapai 500 meter hingga 1.000 meter per bulan,” kata ayah dua anak itu.

Kerja sama dengan ayah

Bahan baku, seperti kain dan canting, diperolehnya dari Jawa. Dia terus menjalin kerja sama dengan sang ayah di Pekalongan untuk mendapatkan bahan baku kain. ”Banyak desain khas Kalteng saya peroleh dari para pemesan. Mereka datang dan membawa desain dan motif, lalu saya sedikit modifikasi,” ujar Anang.

Desain itu lalu dikirimkan ke Pekalongan untuk dibuatkan canting cap. Harganya berkisar Rp 200.000 hingga Rp 300.000 setiap cap. ”Motif batang garing atau pohon kehidupan menjadi kekhasan dari batik Kalteng,” ujarnya. Anang juga mengembangkan desain batik berupa rumah betang, talawang, pusaran air, dan ikan.

Para pemesan antara lain pegawai instansi pemerintahan. Misalnya, pesanan seragam Musabaqah Tilawatil Quran Kabupaten Pulang Pisau pada tahun 2010 sepanjang 500 meter serta Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional sebanyak 250 meter pada tahun 2013. Selain itu, Kantor Pajak Palangkaraya memesan batik sepanjang 250 meter pada tahun 2013 dan Wanita Katolik Republik Indonesia sekitar 200 meter. Demikian juga Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia memesan 1.000 meter batik motif batang garing untuk seragam wali kota seluruh Indonesia.

Untuk menyelesaikan pesanan batik itu, setiap hari Anang dan Paramita dibantu seorang pekerja yang tinggal di rumah mereka. Kebutuhan hidup dan tempat tinggal dipenuhi Anang dan per bulan Anang memberi gaji bersih Rp 400.000. Saat pesanan lebih dari 500 meter, Anang memanggil dua karyawan lain dari Kabupaten Pulang Pisau, kampung halaman Paramita.

”Kadang kala mereka tinggal di sini tiga minggu sampai satu bulan, tergantung banyaknya pesanan dan rumitnya motif yang diminta,” kata Anang yang juga mempekerjakan seorang penjahit di sekitar rumahnya.

Sejumlah pelatihan diikuti Anang dan Paramita agar lebih tangguh dan berkualitas. Salah satunya, pelatihan kewirausahaan untuk industri kecil dan menengah yang diselenggarakan Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia yang bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kalteng pada Juni 2011.

Untuk mengikuti perkembangan teknologi informasi masa kini, Anang juga mengikuti pelatihan situs web (website) industri kecil menengah enam daerah yang diselenggarakan Kementerian Perindustrian pada September 2011. Ia juga mengikuti pelatihan pemasaran produk usaha kecil menengah (UKM) melalui internet yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika pada Maret 2013 dan pelatihan pengeditan video untuk promosi produk UKM pada September 2013 yang diadakan Kementerian Komunikasi dan Informatika.

”Dari pelatihan itu, saya diajari bagaimana mempromosikan usaha melalui Facebook dan website,” kata Anang, pemilik akun Facebook Benang Bintik Paramita sebagai media pemesanan batik.

Siap melatih

Dari hasil menabung sejak tahun 2008, Anang dan Paramita mampu membeli tanah seluas 600 meter persegi di Jalan Badak, Gang Kakap, Palangkaraya. Di sana, Anang sedang membangun rumah dan sekaligus tempat kerja untuk membatik. ”Sekitar enam bulan lagi rumah itu akan selesai. Saya berencana membuka pelatihan membatik bagi siapa pun yang berminat karena di sini sulit sekali mencari tenaga kerja yang terampil membatik,” kata Anang. Dia mengaku pernah memberikan pelatihan membatik selama dua hari kepada 40 ibu rumah tangga dalam Gerakan Organisasi Wanita di Kabupaten Pulang Pisau tahun 2010.

Selain kesulitan mencari tenaga kerja, Anang pun mengaku kesulitan mendapatkan modal dari sejumlah bank. ”Beberapa bank menawarkan pinjaman modal Rp 50 juta dengan jaminan sertifikat tanah. Hanya, saya belum punya tanah saat itu sehingga belum bisa mendapatkan pinjaman,” ungkapnya.

Dia bersyukur akhirnya bisa mendapat pinjaman Rp 10 juta dari Taspen dengan jaminan BPKB sepeda motor. ”Pinjaman ini untuk membeli kain sebagai persediaan,” ucapnya.

================
Bisnis Online yang Paling Banyak Bonusnya? klik disini
================

0 komentar

Kapan Waktu Terbaik Pelesir ke Belitung?

belitung

Wisata di Belitung identik dengan wisata bahari. Ya, Belitung memang kawasan kepulauan yang dikepung oleh lautan. Karena sebagian besar atraksi wisata yang ditawarkan adalah pantai dan laut, maka waktu terbaik untuk datang ke Belitung adalah dengan menghindari musim hujan.

Di musim hujan, laut cenderung tak bersahabat. Pun sekadar bersantai di tepi pantai pun susah. Selain hujan terus menerus, angin yang kencang dan gelombang tinggi bisa membahayakan perjalanan Anda melintasi laut. Musim keramau di antara bulan April hingga Agustus, merupakan pilihan terbaik untuk berkunjung ke Belitung. Terutama di bulan Mei hingga Juli.

Di bulan-bulan tersebut, laut tenang sehingga aman untuk melaut. Juga, langit cerah tanpa awan, yang tampak hanya langit biru. Tentu saja, matahari akan terasa lebih panas. Pertimbangkan juga dalam pemilihan hari. Hindari musim padat kunjungan atau masa liburan sekolah dan akhir tahun.

Belitung sudah menjadi destinasi wisata favorit di Indonesia. Sehingga di hari-hari libur, harga penginapan dan tiket pesawat melonjak tinggi.

Tak hanya harga yang menjadi mahal, tetapi ketersediaan kamar penginapan maupun kursi pesawat yang sulit dicari. Di musim liburan, hotel dan pesawat penuh. Begitu pula saat mencari mobil sewaan.

Hal sama juga berlaku untuk akhir pekan, apalagi jika akhir pekan yang panjang yaitu hari Jumat juga kebetulan libur. Jika memungkinkan, pergilah di hari kerja. Karena selain Belitung lebih sepi dari turis, harga juga lebih murah.

================
Bisnis Online yang Paling Banyak Bonusnya? klik disini
================

0 komentar

Taman Nasional Ujung Kulon Terbuka bagi Wisatawan

badak jawa

PANDEGLANG - Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) Pandeglang, Banten, terbuka bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke kawasan tersebut, dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

"Siapa pun boleh berkunjung ke kawasan TNUK, yang penting aturan yang ada dipatuhi demi kelestarian lingkungan," kata Kepala Balai TNUK Pandeglang, Haryono di Pandeglang, Kamis (27/2/2014).

TNUK merupakan habitat badak jawa atau badak bercula satu yang harus dipelihara kelestariannya, dan kawasan itu juga ditetapkan sebagai tempat eko wisata.

Namun, menurut Haryono, pengunjung yang datang ke taman nasional tersebut jangan berpikir untuk bisa dengan mudah melihat badak jawa yang merupakan hewan sangat dilindungi itu.

"Badak itu sulit ditemui. Hewan itu memiliki penciuman tajam, dan ketika mengetahui ada manusia datang mereka akan langsung melarikan diri," katanya.

Selain itu, lanjut Haryono, berdasarkan hasil monitoring hewan langka yang spesiesnya hanya ada di TNUK, tidak ada di negara lain itu, banyak melakukan aktivitas pada malam hari.

"Badak banyak beraktivitas pada malam hari. Pada siang hari justru kurang, ini berbeda dengan hewan lain seperti banteng," katanya.

Haryono juga menyatakan, berdasarkan hasil monitoring 2013, populasi badak jawa di TNUK sebanyak 58 ekor.

"Dari hasil monitoring yang kita lakukan selama 2013 diketahui kalau jumlah badak jawa yang hudup di kawasan TNUK 58 ekor, yakni delapan anak dan 50 ekor badak remaja dan dewasa," katanya.

Haryono memaparkan, dari delapan anak badak itu, sebanyak tiga di antaranya merupakan betina dan lima pejantan. Sedangkan dari 50 ekor badak jawa remaja dan dewasa, sebanyak 20 betina dan 30 jantan.

Teknik monitoring yang dilakukan untuk mengetahui populasi badak jawa, yakni dengan memasang kamera video di semenanjung kawasan TNUK.

"Sebanyak 120 unit kamera video kita pasang dalam kegiatan monitoring tersebut. Pemasangan dilakukan dengan mengikatnya pada batang pohon pada lokasi yang sering dilewati dan didatangi badak, seperti padang pengembalaan dan kubangan," katanya.

Kamera video yang dipasang sudah didesain sedemikian rupa sehingga bisa berfunsi pada malam hari, dan kalau ada gerakan di sekitarnya akan aktif dengan sendirinya.

0 komentar

Jembatan Ampera Dioptimalkan untuk Pariwisata

jembatanampera

PALEMBANG - Wali Kota Palembang Romi Herton mengatakan pihaknya akan mengoptimalkan Jembatan Ampera untuk obyek wisata, sehingga nantinya tidak lagi dilalui kendaraan roda empat.

"Proses menuju Jembatan Ampera menjadi obyek wisata andalan kini sedang disiapkan dengan rencana pembangunan sarana penyeberangan lain yaitu Jembatan Musi IV dan VI," katanya di Palembang, Kamis (27/2/2014) ketika diminta tanggapan terkait dengan prediksi Jembatan Ampera hanya bertahan 10 tahun lagi.

Menurut Romi, jembatan yang menjadi bangunan bersejarah menghubungkan Kota Palembang dua bagian yakni Seberang Ulu dan Seberang Ilir itu merupakan "heritage" sehingga harus dipertahankan.

Pembangunan Jembatan Musi IV dan Musi VI menjadi langkah menuju realisasi optimalisasi jembatan yang dibangun tahun 1962 berfungsi sebagai obyek wisata.
Romi mengatakan, konsepnya jembatan yang kini masih menjadi andalan utama sarana penyeberangan dalam Kota Palembang tersebut akan menjadi area wisata, dengan disiapkan taman-taman dan fasilitas pendukung lainnya.

"Wisatawan maupun masyarakat Palembang bisa menikmati suasana dengan duduk santai atau memancing di jembatan itu," ujarnya.

Dia menjelaskan, nantinya hanya kendaraan bermotor roda dua yang diperbolehkan melintas. Sedangkan mobil sama sekali tidak boleh menyeberangi jembatan yang dibangun pada kepemimpinan Presiden Soekarno itu.

Romi menambahkan, pembangunan Jembatan Musi IV dijadwalkan mulai Juli dengan diawali pemasangan tiang pancang. "Pembangunan Jembatan Musi IV didanai APBN sedangkan pemkot dan pemprov berpartisipasi dalam pembebasan lahan," katanya.

0 komentar

Pantai Pandawa, Keindahan Tersembunyi di Bali Selatan

pantaipandawa

Memang sudah tidak diragukan lagi bahwa Pulau Bali menyimpan keindahan yang seakan tidak ada habisnya. Deretan kegiatan agama dan budaya telah dilengkapi dengan keindahan bentang alamnya yang memukau, terutama pantai.

Nah, apabila Anda sudah mengenal Pantai Kuta atau Pantai Dreamland, kini Anda perlu menyambangi satu lagi pantai yang begitu elok dan terus dikembangkan menjadi tujuan wisata bahari. Nama pantainya adalah Pandawa, dan kadang dikenal pula dengan nama Pantai Kutuh.

Pantai Pandawa berlokasi di Bali Selatan, tepatnya di Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. Dahulu pantai ini dikenal sebagai Secret Beach karena lokasinya yang berada di belakang tebing-tebing tinggi ditumbuhi oleh semak belukar.

Pantai yang hanya berjarak sekitar 3 km dari Nusa Dua ini sebenarnya sudah lama dikenal, tetapi karena akses menuju pantai cukup sulit menjadikan pantai ini sepi dari kunjungan wisatawan.

Melihat potensi keindahan yang dimiliki oleh pantai ini, beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Badung sudah membuka akses berupa jalan sepanjang lebih kurang 1,5 km menuju pantai yang melewati tebing-tebing kapur tinggi. Kondisi jalanan menuju lokasi pantai ini begitu unik dan megah karena diapit tebing-tebing yang telah dibelah.

Adapun nama Pantai Pandawa diambil dari nama tokoh pewayangan Panca Pandawa. Oleh karena itu, ketika memasuki kawasan pantai, Anda akan disambut oleh patung Pandawa Lima, yaitu Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Kelimanya diukir dengan indah dan, uniknya, patung-patung tersebut disimpan di dalam tebing-tebing kapur. Anda dapat melihat kelima patung tersebut secara bersamaan dan berurutan dari bawah pantai ke arah barat.

Keindahan pantainya sendiri tidak perlu diragukan lagi. Pesona pasir putihnya terhampar dari ujung ke ujung, airnya jernih dan bersih, serta deburan ombaknya mengalun di kejauhan. Harmonisasi berbagai keindahan tersebut siap menenteramkan hati Anda.

0 komentar

Mendidik Itu Memberi Contoh Dan Membiasakan Secara Istiqomah

Tatkala banyak lulusan lembaga pendidikan dirasakan kurang sesuai dengan harapan, seperti misalnya berperilaku menyimpang, tidak mampu bekerja, suka hura-hura, dan lain-lain, kiranya perlu dilihat kembali tentang bagaimana pendidikan itu dijalankan. Di sekolah, para siswa diajari biologi, kimia, fisika, sosiologi, bahasa inggris, bahasa indonesia, agama, dan lain-lain. Bahan pelajaran itu sudah ditentukan, termasuk cara mengajarkan dan bahkan buku yang harus diajarkan.

Manakala bahan pelajaran itu sudah diterangkan oleh semua guru yang bertugas dan waktu yang disediakan sudah habis, maka dilakukan penilaian melalui evaluasi atau ujian. Para siswa yang mampu menjawab sebagaimana target yang ditentuan dianggap lulus, sebaliknya mereka yang belum mampu menjawab soal-soal yang diberikan dianggap gagal. Pengertian pendidikan menjadi sangat sederhana, yaitu sekedar mengajarkan sekelompok pengetahuan yang dianggap penting itu.

Melihat kenyataan itu, sebenarnya ada sesuatu yang masih dilupakan dan justru merupakan hal penting, yaitu memberi contoh dan membiasakan. Perilaku manusia sebenarnya terbentuk dari contoh-contoh dan kebiasaan itu. Kedua orang tua ketika di pagi-pagi mendengar adzan subuh dan segera bangun, mengambil air wudhu, dan kemudian datang ke masjid, sholat berjama’ah, serta tidak lupa mengajak anak-anaknya, maka orang tua yang bersangkutan telah menjalankan proses pendidikan.

Sebaliknya, manakala orang tua tatkala mendengar suara adzan subuh, mereka tetap saja meneruskan tidurnya dan hal itulah yang menjadi kebiasaannya, maka disadari atau tidak, yang bersangkutan telah memberi contoh negatif kepada keluarganya. Keluarga itu tidak akan mungkin berhasil membentuk perilaku sebagai seorang muslim ideal. Manakala di antara salah seorang anaknya tidak meniru perilaku orang tuanya, melainkan ia segera datang ke masjid, maka bisa jadi, anaknya itu meniru tetangga atau gurunya di sekolah.

Mendidik adalah kegiatan memberi contoh dan membiasakan itu. Pertanyaannya adalah, bagaimana kepala sekolah dan guru-gurunya di sekolah telah menunaikan tugas-tugas itu. Manakala guru hanya sekedar mengajar biologi, dan yang lain mengajar kimia, fisika, sosiologi, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, agama, dan lain-lain, maka sebenarnya, hal itu masih ada sesuatu yang kurang. Dalam kontek pendidikan yang perlu dipertanyakan adalah siapa yang memberi contoh dan membiasakan terhadap para siswa agar berperilaku sebagaimana yang diharapkan itu. Manakala tidak ada, maka pantas saja para siswa setelah lulus masih berperilaku sembarangan. Hal itu disebabkan oleh karena mereka di sekolah tidak mendapatkan contoh dan juga tidak dibiasakan melakukan sesuatu yang diinginkan itu. Artinya, mereka sudah diajar tetapi belum dididik.

Jika demikian itu halnya, maka artinya pada umumnya anak bangsa ini sudah diajar tetapi belum dididik. Para siswa, setelah lulus, sekalipun hingga tingkat sekolah menengah atas, dan bahkan sampai perguruan tinggi sekalipun, tatkala mereka belum mampu bekerja adalah hal wajar. Mereka memang belum mendapatkan contoh dan pembiasaan untuk mampu bekerja dan bahkan juga berperilaku sebagaimana yang diharapkan itu. Mereka sudah lulus IPA, IPS, bahasa, atau apa saja, tetapi belum diberi ketrampilan untuk bekerja atau berperilaku yang seharusnya sehari-hari. Dalam Bahasa sekarang, mereka belum memiliki soft skill.

Alumni pondok pesantren, terkait dengan nilai pendidikan ini memiliki keunggulan. Mereka bertempat tinggal di lingkungan pondok. Sehari-hari oleh kyai pengasuhnya pada waktu shalat lima waktu, mereka diajak shalat berjama’ah, membaca al Qur’an, dan bahkan pada malam hari dibangunkan untuk shalat tahajud dan kemudian mendoakan kepada kedua orang tuanya. Selain itu, beberapa pesantren juga mengajari santrinya berwirausaha, sebagai petani, peternak, atau juga membuka usaha. Konsep pendidikan di pondok pesantren ternyata lebih utuh. Para santri tidak saja diajari tentang pengetahuan yang harus dikuasai, tetapi juga diberikan contoh dan dibiasakan untuk berperilaku sebagaimana yang diharapkan.

Saya pernah datang ke Maroko. Di negara itu terdapat sebuah etnis, bernama Susi. Anehnya, dari etnis itu sulit dicari lulusan sekolah, sekalipun hanya sekedar Sekolah Dasar. Anak-anak ketika sudah mampu berhitung, membaca, dan menulis, banyak yang meninggalkan sekolah. Mereka tidak merasa perlu menunggu ujian sekolah dan juga ijazah. Anak-anak yang meninggalkan bangku sekolah itu selanjutnya segera bergabung dengan orang tuanya untuk berlatih bekerja. Mereka mengikuti pendidikan, contoh dalam pembiasaan, di rumah atau lingkungannya masing-masing. Ternyata dengan cara itu, di masyarakat Susi tidak ada pengangguran dan juga orang miskin. Gambaran itu terasa berbalik dengan di negara kita, yaitu banyak orang memiliki ijazah, dan juga bahkan gelar akademik yang kadang cukup banyak, tetapi menganggur dan juga tidak kaya.

Hal yang menarik lagi, Raja Maroko, sebagai upayanya untuk meningkatkan perekonomian di kerajaannya itu, pernah menunjuk seorang dari etnis Susi menjadi perdana menteri. Oleh karena mencari orang yang berijazah kesulitan, maka ditunjuk siapa saja, asalkan berasal dari etnis dimaksud. Akhirnya, nama yang diajukan sekalipun tanpa berbekalkan ijazah diterima. Ternyata perdana menteri dimaksud berhasil memperbaiki ekonomi di kerajaan itu. Tanpa sekolah, perdana menteri dimaksud sudah melewati proses pendidikan, yaitu diberi contoh dan dibiasakan.

Belajar dari pemikiran dan kenyataan tersebut, sebenarnya untuk memperbaiki pendidikan bangsa ini, kiranya tidak perlu harus meniru Etnis Susi, tetapi sekolah perlu mengembangkan ketauladanan dan pembiasaan perilaku ideal sebagaimana yang diinginkan. Memperbaiki pendidikan hanya sekedar mengambil kebijakan berupa mengubah kurikulum dan mempertahankan ujian nasional, sekalipun harus mengeluarkan dana besar, kiranya tidak banyak hal yang bisa diharapkan terhadap generasi ke depan.

===================

Rekomendasi Bisnis Online Terbaru 2014 klik disini

===================

0 komentar
 
Support : Aditya Nusantara | Berita Terbaru | Berita Kampus
Copyright © 2014. IMAKA MALANG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger