Featured Post Today
print this page
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Fakultas Ekonomi UIN Malang Siapkan Sumber Daya Ulul Albab

yudisium

Fakultas Ekonomi (FE) UIN Maliki Malang telah melepas mahasiswanya yang sudah berhasil menyelesaikan studi.

Tepat hari Rabu, FE melangsungkan yudisium bagi 130 mahasiswa, meliputi 53 orang dari jurusan Manajemen, 48 orang dari jurusan Akuntansi, dan 29 orang dari Program Diploma III Perbankan Syariah (15/10). Bertempat di Aula Rumah Singgah Pasca Sarjana UIN Maliki, yudisium ini dipimpin langsung oleh Dekan FE Dr. H. Salim Al Idrus, MM, M. Ag.

Dalam rangkaian yudisium ini, FE menghadirkan Dra. Umi Hidayati dari Universitas Negeri Malang (UM). Pembekalan yang ia sampaikan mengenai Menyiapkan Sumber Daya yang Ulul Albab. Menurutnya, hal-hal yang perlu disiapkan, yakni sikap, perilaku, dan performa untuk menjadi pelamar kerja yang mengetahui potensinya sendiri.

Tak hanya itu, dalam sambutannya, Wakil Dekan Bidang Akademik Dr. Hj. Ilfi Nurdiana, S. Ag, M. Si memberikan motivasi kepada peserta yudisium. Ia memberikan ilustrasi tentang filsafat sebuah pensil. Pensil bisa dimanfaatkan apabila sudah diraut dan dipegang dengan banyak jari. “Sama halnya dengan mahasiswa, bahwasanya sebelum benar-benar terjun ke dunia kerja, ia harus melalui perkuliahan formal yang membutuhkan sebuah perjuangan,” ungkapnya. Ia pun mengimbuhkan bahwasanya belajar tidak cukup hanya di dunia perkuliahan saja, namun ketika di dunia kerja pun tetap belajar dari lingkungan sekitar, layaknya sebuah pensil yang harus diraut kembali ketika tumpul.

Jika melihat pencapaian prestasi mahasiswa FE, tampaknya tahun ini meningkat. Hal ini terbukti dengan hasil pencapaian IPK cumlaud yang lebih banyak daripada sebelumnya dari semua jurusan, yakni 5 orang dari jurusan manajemen, 24 orang dari jurusan akuntansi, dan 11 orang dari Prodi Diploma III Perbankan Syariah. Mahasiswa berprestasi terbaik pun dari program S1 FE ialah Habib Arizal Pratama dari jurusan akuntansi yang berhasil meraih IPK tertinggi di fakultas.

Di akhir wawancara, Ilfi pun berharap mahasiswa yang telah berhasil lulus bisa terserap di dunia kerja, bahkan juga menyerap tenaga kerja. “Tak hanya melamar pekerjaan, namun kami harap mereka bisa membuka lapangan pekerjaan dan menjadi enterpreneur sejati yang lebih kreatif. Dari situlah nantinya skill mereka akan terasah,” pungkasnya ketika ditemui Gema dikantornya.

sumber : UIN Malang

0 komentar

5 Hal yang Harus Dilakukan Orangtua Saat Bayi Menangis Tanpa Sebab

anak nangis

Bayi Anda sudah kenyang, sudah tidur, dan sudah mandi sekaligus wangi, lalu mengapa tak juga kunjung berhenti menangis? Jangan-jangan ada yang salah dengan perawatan yang Anda berikan.  

Tenang saja, Anda jangan langsung menyalahkan diri sendiri. Selama tangisan bayi tersebut tidak diikuti dengan keluhan medis yang terlihat pada fisik, maka bisa jadi bayi Anda tengah mencari perhatian. Berikut lima langkah dalam meredam tangisan tanpa sebab bayi yang baru lahir:

Berikan dot
Menurut penelitian, mengedot bisa membuat jantung bayi berdetak stabil, menenangkan perut dan kaki bayi yang bergerak serta menegang saat menangis. Disarankan untuk memberikan bayi dot atau jari Anda sendiri (pastikan dalam keadaan bersih dan steril), ini adalah cara umum untuk menghentikan tangis bayi yang pecah tanpa sebab.

Berikan pelukan dan kehangatan
Bayi yang baru lahir mengalami masa penyesuaian suhu tubuh dengan kondisi sekitar. Ini wajar terjadi, mengingat selama sembilan bulan bayi terproteksi dengan nyaman dalam kandungan ibu. Maka dari itu, saat bayi baru lahir terus menangis, padahal sudah menyusu dan tidur dengan cukup, ini tandanya mereka merasa kurang hangat atau nyaman dengan lingkungan sekitar. Disarankan untuk menyelimuti bayi dengan selimut yang tebal dan hangat agar kembali tenang. Selain itu, menimang sembari mendekapnya di dada dapat menciptakan rasa hangat dan menenangkan bayi dalam seketika.

Perdengarkan musik
Redakan tangis bayi Anda dengan menyalakan musik instrumental yang lembut, menyanyikan lagu nina bobo, dan menggendong bayi sembari ditimang-timang. Cobalah beberapa eksperimen dengan memperdengarkan sejumlah jenis musik untuk mengetahui mana yang dapat segera menenangkan bayi Anda.

Udara terbuka
Terkadang bayi menangis karena merasa bosan, maka dari itu cobalah untuk meredam jeritan tangis bayi Anda dengan cara membuka pintu kamar atau menggendongnya di udara terbuka. Saat melakukan hal itu, jangan lupa sembari bercerita mengenai lingkungan sekitar, entah langit yang berwarna biru, orang yang sedang sibuk berjalan, atau hal-hal lain yang terlihat kasatmata oleh Anda.

Pijatan
Umumnya bayi senang akan sentuhan tulus dan penuh kasih sayang dari orangtua dan saudara dekat lainnya. Anda tak perlu khawatir, apakah ini bakal membuat bayi Anda sakit atau salah urat, karena selama pijatan yang Anda berikan ringan, lembut, dan dilakukan secara perlahan, hal tersebut akan menciptakan rasa tenang pada bayi.

sumber : Kompas.

0 komentar

Di Jepang, Hubungan Orangtua-Anak Semakin Dekat berkat Pekerjaan Rumah Tangga

orangtua dan anak

Tugas rumah tangga atau pekerjaan domestik terkadang hanya dilakukan oleh orangtua atau malah dilimpahkan kepada asisten rumah tangga. Namun, di Jepang, pekerjaan domestik dimanfaatkan sebagai aktivitas yang mempererat hubungan antar-anggota keluarga.

Penulis buku Parenting Without Borders: Surprising Lessons Parents Around the World Can Teach Us, Christine Gross-Loh, mengisahkan mengenai pengalamannya tentang tradisi masyarakat Jepang yang memanfaatkan pekerjaan domestik untuk mempererat hubungan keluarga.

Gross-Loh bertemu dengan sang suami di pedesaan di pegunungan Jepang, saat keduanya menjadi mahasiswa di salah satu universitas di Jepang. Setelah berkeluarga, pekerjaan sang suami menuntut mereka untuk memboyong keluarganya dan menetap selama lima tahun di Negeri Sakura tersebut.

"Salah satu aspek budaya Jepang yang sangat membuat kami terkesan adalah betapa dekatnya hubungan keluarga. Kami menyadari, salah satu cara untuk dekat ialah dengan melibatkan anak-anak kami dalam pekerjaan domestik," ujar Gross-Loh seperti dikutip Parenting.

Lebih lanjut, Gross-Loh menjelaskan, orangtua dan guru di Jepang sangat percaya bahwa anak-anak mereka memiliki banyak kemampuan yang dapat memudahkan hidup kaum renta. Di Jepang, anak usia lima tahun diwajibkan untuk menyiapkan makanan untuk orangtua dan kakek nenek mereka.

"Guru anak saya secara rutin memberi tugas berupa menuliskan lima hal yang dilakukan anak untuk membantu keluarganya hari ini. Anak-anak Jepang menyiapkan bekal sekolahnya sendiri dan menyapu di rumah sepulang sekolah. Ini dilakukan setiap hari," ungkap Gross-Loh.

Menurut Gross-Loh, kedekatan dalam keluarga tidak hanya ditunjukkan dengan pelukan, rangkulan, atau menuliskan pesan pada bekal sekolah. Bagaimana anak mengerjakan tugas domestik adalah salah satu cara dalam membentuk kedekatan tersebut.

"Kami sama-sama memainkan peran untuk saling merawat satu sama lain, di mana pun kami berada," kata dia.

sumber : Kompas

0 komentar

Cucu Petani Jadi Wisudawan Terbaik IPB

Taman IPB

Berhasil menamatkan studi dan meraih gelar sarjana merupakan sebuah kepuasaan tersendiri bagi seorang mahasiswa. Apalagi ditambah dengan gelar lulusan terbaik yang dianugerahkan pada proses wisuda.

Kebanggan tersebut yang dirasakan oleh salah seorang wisudawan terbaik Institut Pertanian Bogor (IPB) pada wisuda periode Juni 2014, yakni Ahmad Solikhin. Lulusan terbaik Fakultas Kehutanan IPB itu mengaku, prestasi yang diraihnya saat ini menjadi bukti jika keterbatasan finansial bukan penghalang untuk memberikan hasil terbaik.

"Sebagai cucu dari seorang petani, keterbatasan finansial selama menempuh kuliah di IPB bukan menjadi halangan untuk mencapai mimpi. Karena di kampus pertanian ini tersedia banyak beasiswa," ujar Ahmad, seperti dikutip dari siaran pers, Senin (30/6/2014).

Selama mengikuti perkuliahan di IPB, dia mendapatkan banyak ilmu. Terutama untuk bidang studi yang digelutinya, yaitu pertanian tropika. Oleh karena itu, Ahmad berharap dapat mengaplikasikan semua ilmu yang diperoleh untuk menghadapi berbagai persoalan di masyarakat kelak.

"Tidak hentinya, ilmu dan teknologi di bidang pertanian tropika terutama kehutanan yang diberikan selama di IPB, telah membuka mata saya lebar-lebar akan eksistensinya di Indonesia dan dunia. Sebagai sarjana, merupakan kesempatan emas untuk mengamalkan ilmu dan skill yang dimiliki kepada masyarakat," ungkapnya.

Kebersamaan dengan segenap civitas academica IPS selama beberapa tahun terakhir merupakan kesempatan berharga bagi Ahmad. Selain itu, wadah untuk mengukir prestasi secara akademik dan non-akademik, lingkungan sosial IPB juga memberikan banyak pengalaman berharga baginya.

"IPB telah banyak memberikan warna dan arti dalam kehidupan saya. Nuansa kampus yang religius, fasilitas belajar mengajar yang memadai, keragaman budaya, dan keaktifan organisasi mahasiswa telah banyak memberikan kesempatan untuk memperoleh ilmu, pengalaman, dan skill yang luar biasa. Selama di IPB, moral saya dididik untuk menerapkan kejujuran, misalnya ujian tidak mencontek dan memiliki integritas yang baik," tutup Ahmad.

0 komentar

Raeni, Wisudawan Terbaik Unnes & Becak Sang Ayah

Raeni

SEMARANG - Datang ke lokasi wisuda bersama orangtua tercinta adalah tradisi bagi para wisudawan di berbagai kampus. Bagi Raeni, ini berarti menumpang becak yang digenjot sang ayah, Mugiyono.

Tidak ada raut malu di wajah wisudawan terbaik di Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu. Raeni tersenyum sumringah di atas becak sang ayah hingga ke lokasi wisuda. Pemandangan ini pun menyita perhatian para keluarga wisudawan dan puluhan wartawan di kampus Unnes.

Gadis berkerudung ini lulus dari jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Unnes. Sejak semester pertama, peraih Bidikmisi ini membuktikan, keterbatasan ekonomi bukan halangan meraih prestasi. Dia beberapa kali meraih nilai indeks prestasi (IP) sempurna, 4,00. Hingga akhir masa studinya, Raeni mempertahankan prestasi tersebut dan mengantongi nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) akhir 3,96.

Lulus kuliah S-1 bukan berarti perjalanan Raeni terhenti. Faktanya, Raeni menunjukkan tekad baja agar bisa menikmati masa depan yang lebih baik dan membahagiakan keluarganya.

"Selepas sarjana, saya ingin melanjutkan kuliah lagi. Penginnya melanjutkan (kuliah) ke Inggris. Ya, kalau ada beasiswa lagi," kata Raeni seperti dinukil dari laman Unnes.

Sang ayah pun mendukung sepenuh hati keinginan Alumnus SMK 1 Kendal yang ingin menjadi guru itu. Bahkan, Mugiyono rela mengajukan pensiun dini dari perusahaan kayu lapis agar mendapatkan pesangon.

Sebagai gantinya, Mugiyono pun mulai mengayuh becak sejak 2010. Setiap hari, dia mangkal di Kelurahan Langenharjo, Kendal; tidak jauh dari rumahnya.

"Sebagai tukang becak, penghasilan saya tidak menentu, sekira Rp10 ribu hingga Rp50 ribu. Karena itu, saya juga bekerja sebagai penjaga malam sebuah sekolah dengan gaji Rp450 ribu per bulan," ujar Mugiyono.

Menurut Rektor Unnes, Prof. Dr. Fathur Rokhman, M.Hum., pencapaian Raeni membuktikan, anak dari keluarga kurang mampu tidak memiliki halangan untuk bisa berkuliah dan berprestasi. Salah satu contohnya adalah Raeni.

Tidak hanya itu, Fathur meyakini, dalam waktu dekat, kaum dhuafa akan bangkit melalui pendidikan. Keyakinan Fathur cukup  masuk akal mengingat setiap tahun ada 50 ribu mahasiswa tidak mampu yang menerima Bidikmisi. Unnes sendiri menyalurkan setidaknya 1.850 Bidikmisi setiap tahun dan menyediakan 26 persen dari total jumlah mahasiswa mereka untuk para siswa dari keluarga tidak mampu.

"Kami sangat bangga dengan apa yang diraih Raeni. Anak-anak dari keluarga miskin akan segera tampil menjadi kaum terpelajar baru. Mereka akan tampil sebagai eksekutif, intelektual, pengusaha, bahkan pemimpin republik ini," kata Fathur.

sumber : Kompas

0 komentar

Lilik, Anak Petani yang Lulus Cumlaude

Lilik

SURABAYA - Semakin banyak pemuda Indonesia yang berhasil mematahkan ungkapan keterbatasan ekonomi menjadi penghambat berprestasi. Lilik Endrawati menambah panjang daftar tersebut. Berasal dari keluarga petani, dia berhasil menambatkan pendidikan sarjana di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Lilik mengaku tidak pernah menyangka bisa mendapatkan peringkat terbaik di tingkat Fakultas Ilmu Sosial (FIS) pada wisuda Unesa kali ini. Dia berhasil meraih gelar S.Sos dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,74 dengan predikat cumlaude.

Meski meraih peringkat terbaik, Lilik justru selalu mengingatkan diri untuk rendah hati dan bersyukur atas prestasi tersebut. "Kunci suksesnya karena usaha dan doa. Terutama doa orangtua saya di sana," kata Lilik, seperti dikutip dari laman Unesa.

Gadis berkulit sawo matang itu meraih gelar sarjana dengan skripsi yang berjudul "Analisis Diskursus Media pada Kasus Hubungan Seks Incest" dengan masa kuliah delapan semester. Sadar penghasilan orangtuanya sebagai petani pas-pasan, mahasiswa asal Tuban itu mencari sendiri biaya untuk perkuliahannya.

Bekerja untuk memenuhi biaya kuliah serta tekun belajar untuk meraih nilai terbaik tidak menghentikan Lilik untuk aktif dalam organisasi. Selama kuliah ia juga aktif dalam beberapa organisasi yakni sekertaris Dewan Legislatif Mahasiswa (DLM) FIS dan pengelolahan jurnal ilmiah tingkat prodi Sosiologi.

Dia percaya, keterlibatan dalam organisasi dapat membentuk karakter diri yang bermanfaat ketika kelak terjun ke dunia kerja. "Kita harus menimba ilmu juga dalam bidang organisasi untuk menambah pengalaman pribadi dan membentuk karakter diri," urai dara kelahiran 17 Juli 1991 itu.

sumber : Okezone

0 komentar

Dari Apem ke Kursi Dokter Gigi

Setyaningsih

YOGYAKARTA - Kalau dilihat dari harganya, Rp1.000, kue apem sangatlah murah. Tapi bagi Setyaningsih, penganan khas yang dibuat dari tepung beras itu menjadi motivasinya dalam meraih gelar dokter gigi.

Ning, begitu dia akrab disapa, akan segera mewujudkan mimpinya tersebut. Saat ini, dia sedang menjalani pendidikan profesi dokter gigi (koasistensi) di Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Gadjah Mada (UGM).

"Sekarang baru jalan delapan bulan, pendidikannya tinggal tujuh bulan lagi," ujar Ning, seperti dilansir laman UGM, Senin (30/6/2014). 

Gadis 22 tahun itu kuliah di FKG UGM melalui jalur Program Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu (PBUTM) UGM tahun 2009. Serupa dengan Bidikmisi, mahasiswa yang diterima lewat PBUTM juga tidak perlu membayar uang kuliah hingga akhir masa studi.

Masykuri (74), sang ayah hanyalah buruh tani. Dan Painem (64), sang ibu, menjual kue apem berkeliling pasar di Salatiga, Jawa Tengah. Penghasilan kedua orangtuanya tentu sangat tidak mencukupi kebutuhan hidup Ning selama kuliah. Ning masih harus dibantu saudara-saudaranya untuk memenuhi biaya makan dan sewa kos.

Gadis berkerudung ini teringang pesan sang ayah agar dia tidak memikirkan biaya, yang penting adalah sekolah. Tidak jarang, kata Ning, orangtuanya harus meminjam uang ke tetangga untuk membiayai kebutuhan sekolah anak-anaknya. Pernah juga sang ayah menebang pohon kelapa di belakang rumah dan dijual untuk membayar uang sekolah.

Kerja keras dan kesungguhan orangtua menyekolahkan anak-anaknya inilah yang memotivasi Ning untuk melakukan yang terbaik. Dia mampu lulus menjadi Sarjana Kedokteran Gigi dalam waktu tiga tahun 10 bulan.

Selain Ning, tiga kakaknya juga berhasil meraih gelar sarjana dan satu orang memegang gelar diploma.

"Hanya satu yang tidak selesai kuliah dan dua orang lainnya hanya tamat SMA," imbuh gadis yang ingin menjadi dokter spesialis itu.

Ning mengaku, beasiswa dari UGM sangat meringankan beban ayah dan ibunya. Namun, Ning tidak hanya mengandalkan beasiswa. Dia juga mengajar les tiga kali seminggu untuk membantu kebutuhan sehari-harinya.

Di usia senjanya, sang ayah pun lebih banyak beristirahat di rumah. Sementara ibunya masih menjajakan ratusan kue apem seharga Rp1.000 per biju di pasar Salatiga.

"Kalo pulang ke rumah, saya sering membantu ibu buat apem," ujar Ning.

sumber : http://kampus.okezone.com/read/2014/06/30/373/1005852/dari-apem-ke-kursi-dokter-gigi

0 komentar
 
Support : Aditya Nusantara | Berita Terbaru | Berita Kampus
Copyright © 2014. IMAKA MALANG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger