Featured Post Today
print this page
Latest Post

UIN Maliki Lepas 1106 Wisudawan

wi8suda-18-okt

IMAKA MALANG - Gemuruh nyanyian kebangsaan Indonesia Raya pagi itu menggema di ruangan pertemuan gedung Sport Center UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sebanyak 3500 wisudawan dan wali wisudawan serentak menyanyikan lagu Indonesia Raya (18/10).

Acara formal yang dimulai tepat pukul 08.00-12.00 WIB itu diwarnai wajah sumringah dan senyuman dari para wisudawan dan orang tua wali wisudawan. Dalam kesempatan itu, Rektor UIN Maliki Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo menyampaikan bahwa UIN Maliki tidak bertujuan untuk mencetak lulusannya menjadi PNS. Lebih dari itu, lulusan UIN Maliki harus menjadi pemimpin di setiap lini yang ada. Baik di ranah pemerintahan maupun swasta. “UIN Maliki menginginkan lulusannya menjadi pemimpin bukan PNS,” harapnya.

Rektor UIN Maliki menegaskan bahwa kelompok intelektual yang hari ini diwisuda telah berhak menyandang gelar sarjana sesuai dengan bidang keilmuannya masing-masing. Bagi wisudawan yang hari ini dikukuhkan untuk terus berkarya dan melakukan pengabdian serta menjaga tali silaturrahim dimanapun mereka berada. “Dengan ilmu yang telah diraih, maka gunakan itu untuk terus berkarya dan mengabdikan diri kepada masyaskat,” harapnya.

Menurut Prof. Mudjia, Era kompetisi saat ini manusia akan selalu dihadapkan pada dua pilihan yaitu menang atau kalah, dan tentunya semua orang ingin menang dan sukses dalam segala hal. “Keinginan itu harus dibarengi dengan perjuangan keras tanpa henti untuk mencapai cita-cita yang diharapkan,” ungkapnya serius.

Oleh karena itu, pak Rektor, mengajak para wisudawan untuk terus berjuang mancapai impian tersebut. Mahasiswa yang memiliki keinginan yang kuat dengan disertai usaha yang kuat akan memberikan modal bagi lulusan yang bisa dibanggakan untuk mengusi era saat ini.

sumber : UIN MALANG

0 komentar

WISUDA OKTOBER: Prosesi Simple Namun Penuh Makna

wisuda-oktober-2014

IMAKA MALANG - Rapat Terbuka Senat Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Tahun Ajaran 2014-2015 kembali digelar (18/10).

Bertempat di gedung terluas di Kampus Ulul Albab, Sport Center (SC) acara penuh makna ini berlangsung. Dihadiri oleh 1.106 wisudawan, ribuan wali wisudawan dan keluarga wisudawan dari seluruh pelosok nusantara bahkan luar negeri acara tahunan ini berlangsung dengan penuh khidmat. Acara yang menjadi tanda berakhirnya masa studi baik di jenjang D3, S1, S2, dan S3 ini bisa jadi hanya sekali seumur hidup.

Konsep integrasi yang ditawarkan oleh UIN Maliki Malang dalam mencetak kader bangsa selalu menjadi trend. Pasalnya konsep yang menggabungkan antara dua unsur penting dalam satu sosok karakter mahasiswa adalah hal urgen yang diperlukan untuk menghadapi era globalisasi. Kedua unsur tersebut adalah Ma’had al-Jami’ah sebagai basis kedalaman spiritual dan keagungan akhlak. Serta kampus sebagai basis pengembangan keluasan ilmu pengetahuan dan kematangan profesional. Integrasi kedua unsur ini ditambah dengan kemampuan bilingual akan menjadi senjata ampuh untuk menghadapi era globalisasi.

Jumlah wisudawan yang besar merupakan sebuah bentuk kesyukuran tersendiri bagi kampus yang dipimpin oleh Mudjia Rahardjo ini, namun di sisi lain juga terdapat sebuah masalah yang menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. Dengan jumlah wisuda yang banyak ini maka akan dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk merampungkan prosesi tahunan ini. “Maka dengan memperhatikan hal ini ada sebuah terobosan baru untuk wisuda Oktober 2014 ini, yaitu pemindahan tali kucir wisuda yang hanya dilakukan secara simbolis,” terang Abadi Wijaya, salah satu panitia Rapat Terbuka Oktober 2014. Sehingga pemindahan tali kucir ini akan diwakilkan kepada salah seorang wisudawan. Tentunya hal ini menjadi sebuah strategi baru panitia untuk memangkas waktu prosesi yang terlalu lama.

sumber : UIN Malang

0 komentar

Fakultas Ekonomi UIN Malang Siapkan Sumber Daya Ulul Albab

yudisium

Fakultas Ekonomi (FE) UIN Maliki Malang telah melepas mahasiswanya yang sudah berhasil menyelesaikan studi.

Tepat hari Rabu, FE melangsungkan yudisium bagi 130 mahasiswa, meliputi 53 orang dari jurusan Manajemen, 48 orang dari jurusan Akuntansi, dan 29 orang dari Program Diploma III Perbankan Syariah (15/10). Bertempat di Aula Rumah Singgah Pasca Sarjana UIN Maliki, yudisium ini dipimpin langsung oleh Dekan FE Dr. H. Salim Al Idrus, MM, M. Ag.

Dalam rangkaian yudisium ini, FE menghadirkan Dra. Umi Hidayati dari Universitas Negeri Malang (UM). Pembekalan yang ia sampaikan mengenai Menyiapkan Sumber Daya yang Ulul Albab. Menurutnya, hal-hal yang perlu disiapkan, yakni sikap, perilaku, dan performa untuk menjadi pelamar kerja yang mengetahui potensinya sendiri.

Tak hanya itu, dalam sambutannya, Wakil Dekan Bidang Akademik Dr. Hj. Ilfi Nurdiana, S. Ag, M. Si memberikan motivasi kepada peserta yudisium. Ia memberikan ilustrasi tentang filsafat sebuah pensil. Pensil bisa dimanfaatkan apabila sudah diraut dan dipegang dengan banyak jari. “Sama halnya dengan mahasiswa, bahwasanya sebelum benar-benar terjun ke dunia kerja, ia harus melalui perkuliahan formal yang membutuhkan sebuah perjuangan,” ungkapnya. Ia pun mengimbuhkan bahwasanya belajar tidak cukup hanya di dunia perkuliahan saja, namun ketika di dunia kerja pun tetap belajar dari lingkungan sekitar, layaknya sebuah pensil yang harus diraut kembali ketika tumpul.

Jika melihat pencapaian prestasi mahasiswa FE, tampaknya tahun ini meningkat. Hal ini terbukti dengan hasil pencapaian IPK cumlaud yang lebih banyak daripada sebelumnya dari semua jurusan, yakni 5 orang dari jurusan manajemen, 24 orang dari jurusan akuntansi, dan 11 orang dari Prodi Diploma III Perbankan Syariah. Mahasiswa berprestasi terbaik pun dari program S1 FE ialah Habib Arizal Pratama dari jurusan akuntansi yang berhasil meraih IPK tertinggi di fakultas.

Di akhir wawancara, Ilfi pun berharap mahasiswa yang telah berhasil lulus bisa terserap di dunia kerja, bahkan juga menyerap tenaga kerja. “Tak hanya melamar pekerjaan, namun kami harap mereka bisa membuka lapangan pekerjaan dan menjadi enterpreneur sejati yang lebih kreatif. Dari situlah nantinya skill mereka akan terasah,” pungkasnya ketika ditemui Gema dikantornya.

sumber : UIN Malang

0 komentar

5 Hal yang Harus Dilakukan Orangtua Saat Bayi Menangis Tanpa Sebab

anak nangis

Bayi Anda sudah kenyang, sudah tidur, dan sudah mandi sekaligus wangi, lalu mengapa tak juga kunjung berhenti menangis? Jangan-jangan ada yang salah dengan perawatan yang Anda berikan.  

Tenang saja, Anda jangan langsung menyalahkan diri sendiri. Selama tangisan bayi tersebut tidak diikuti dengan keluhan medis yang terlihat pada fisik, maka bisa jadi bayi Anda tengah mencari perhatian. Berikut lima langkah dalam meredam tangisan tanpa sebab bayi yang baru lahir:

Berikan dot
Menurut penelitian, mengedot bisa membuat jantung bayi berdetak stabil, menenangkan perut dan kaki bayi yang bergerak serta menegang saat menangis. Disarankan untuk memberikan bayi dot atau jari Anda sendiri (pastikan dalam keadaan bersih dan steril), ini adalah cara umum untuk menghentikan tangis bayi yang pecah tanpa sebab.

Berikan pelukan dan kehangatan
Bayi yang baru lahir mengalami masa penyesuaian suhu tubuh dengan kondisi sekitar. Ini wajar terjadi, mengingat selama sembilan bulan bayi terproteksi dengan nyaman dalam kandungan ibu. Maka dari itu, saat bayi baru lahir terus menangis, padahal sudah menyusu dan tidur dengan cukup, ini tandanya mereka merasa kurang hangat atau nyaman dengan lingkungan sekitar. Disarankan untuk menyelimuti bayi dengan selimut yang tebal dan hangat agar kembali tenang. Selain itu, menimang sembari mendekapnya di dada dapat menciptakan rasa hangat dan menenangkan bayi dalam seketika.

Perdengarkan musik
Redakan tangis bayi Anda dengan menyalakan musik instrumental yang lembut, menyanyikan lagu nina bobo, dan menggendong bayi sembari ditimang-timang. Cobalah beberapa eksperimen dengan memperdengarkan sejumlah jenis musik untuk mengetahui mana yang dapat segera menenangkan bayi Anda.

Udara terbuka
Terkadang bayi menangis karena merasa bosan, maka dari itu cobalah untuk meredam jeritan tangis bayi Anda dengan cara membuka pintu kamar atau menggendongnya di udara terbuka. Saat melakukan hal itu, jangan lupa sembari bercerita mengenai lingkungan sekitar, entah langit yang berwarna biru, orang yang sedang sibuk berjalan, atau hal-hal lain yang terlihat kasatmata oleh Anda.

Pijatan
Umumnya bayi senang akan sentuhan tulus dan penuh kasih sayang dari orangtua dan saudara dekat lainnya. Anda tak perlu khawatir, apakah ini bakal membuat bayi Anda sakit atau salah urat, karena selama pijatan yang Anda berikan ringan, lembut, dan dilakukan secara perlahan, hal tersebut akan menciptakan rasa tenang pada bayi.

sumber : Kompas.

0 komentar

Di Jepang, Hubungan Orangtua-Anak Semakin Dekat berkat Pekerjaan Rumah Tangga

orangtua dan anak

Tugas rumah tangga atau pekerjaan domestik terkadang hanya dilakukan oleh orangtua atau malah dilimpahkan kepada asisten rumah tangga. Namun, di Jepang, pekerjaan domestik dimanfaatkan sebagai aktivitas yang mempererat hubungan antar-anggota keluarga.

Penulis buku Parenting Without Borders: Surprising Lessons Parents Around the World Can Teach Us, Christine Gross-Loh, mengisahkan mengenai pengalamannya tentang tradisi masyarakat Jepang yang memanfaatkan pekerjaan domestik untuk mempererat hubungan keluarga.

Gross-Loh bertemu dengan sang suami di pedesaan di pegunungan Jepang, saat keduanya menjadi mahasiswa di salah satu universitas di Jepang. Setelah berkeluarga, pekerjaan sang suami menuntut mereka untuk memboyong keluarganya dan menetap selama lima tahun di Negeri Sakura tersebut.

"Salah satu aspek budaya Jepang yang sangat membuat kami terkesan adalah betapa dekatnya hubungan keluarga. Kami menyadari, salah satu cara untuk dekat ialah dengan melibatkan anak-anak kami dalam pekerjaan domestik," ujar Gross-Loh seperti dikutip Parenting.

Lebih lanjut, Gross-Loh menjelaskan, orangtua dan guru di Jepang sangat percaya bahwa anak-anak mereka memiliki banyak kemampuan yang dapat memudahkan hidup kaum renta. Di Jepang, anak usia lima tahun diwajibkan untuk menyiapkan makanan untuk orangtua dan kakek nenek mereka.

"Guru anak saya secara rutin memberi tugas berupa menuliskan lima hal yang dilakukan anak untuk membantu keluarganya hari ini. Anak-anak Jepang menyiapkan bekal sekolahnya sendiri dan menyapu di rumah sepulang sekolah. Ini dilakukan setiap hari," ungkap Gross-Loh.

Menurut Gross-Loh, kedekatan dalam keluarga tidak hanya ditunjukkan dengan pelukan, rangkulan, atau menuliskan pesan pada bekal sekolah. Bagaimana anak mengerjakan tugas domestik adalah salah satu cara dalam membentuk kedekatan tersebut.

"Kami sama-sama memainkan peran untuk saling merawat satu sama lain, di mana pun kami berada," kata dia.

sumber : Kompas

0 komentar

Saintek Gelar Workshop Analis Statistik Bagi Mahasiswa

pamflet

IMAKA MALANG - Lagi, Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek ) adakan workshop bagi mahasiswa, kali ini yaitu workshop analisis statistik mahasiswa dengan mengusung tema Pelatihan Peningkatan Kemampuan Analisis Statistik di Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang.

Acara bertempat di Auditorium Lt.4 Fakultas Saintek itu menghadirkan Dr. Sri Harini (Dosen Matematika UIN Maliki Malang) dan Dr. Suci Astutik (Dosen Prodi Statistika Universitas Brawijaya) sebagai pemeteri (11/10).

Pemateri pertama, Dr. Sri Harini menyamapikan tentang analisis regresi logistik dan stastitik non parametik. Wakil Dekan I Bidang Akademik itu menjelaskan mengenai penerapan langsung statistik non parametik yang terdiri dari uji bertanda wilcoxon, uji mann-whitney, anova kruskal wallis (RAL), dan anova friedman (RAK) dengan menggunkan aplikasi Predictive Analystiic Software (SPSS).  “Analisis statistik ini tidak hanya untuk memudah pembahasan uji coba penelitian tetapi uji untuk pre test uji coba sehingga hasil  penelitian yang kita dapatkan nantinya bisa memuaskan dan sesuai dengan teori yang ada,” terang dosen Matematika itu kepada seluruh audien.

Sementara pemateri kedua, Dr. Suci Astutik menjelaskan mengenai Multivariative Analysis of Variance (Manova) dengan SPSS, perbedaan pengunaan Manova dan Anova. Selanjutnya beliau menjelaskan mengenai konsep dasar manova yang terdiri dari manova untuk klasifikasi satu arah dan manova untuk klasifikasi dua arah.

sumber : UIN Malang

0 komentar

Habaib, Kiai dan Cendekiawan Gelar Forum Peduli Bangsa di UIN Maliki

ulama

GEMA—Lagi, Senin (13/10) suasana di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Maliki) mendadak berubah. Hal itu disebabkan para Habaib, Kiai, Ulama’ dan para Cendikiawan berkumpul di UIN Maliki untuk membahas persoalan bangsa yang terjadi baru-baru ini.

Misalnya saja banyaknya ormas Islam yang melakukan tindakan anarkis dan lain sebagainya.

Lebih dari 70 para ulama’ tersebut memadati gedung pertemuan Rektorat Lt.5. Pertemuan yang bertemakan forum peduli bangsa itu dibuka dengan lantunan shalawat dan tahlilan dan dilanjutkan dengan pembahasan seputar ukhwah islamiyah di Indonesia serta tugas para alim ulama’.

Hadir sebagai tamu keohormatan yaitu, Habib Soleh Al Jufri, KH. Ali Akbar, KH. Mahfudz Shobari, KH. Azwar Anas, Dr. M. Abdurrahman Al Idrus serta Rektor UIN Maliki Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo bererta para pejabat tinggi UIN Maliki lainnya.

Tepat pukul. 10.30 WIB, acara diskusi kebangsaan itu dibuka langsung oleh Prof. Dr. H. Mudjia. Melalui sambutan singkatnya, beliau menyampaikan seputar prestasi yang diraih UIN Maliki. kampus yang dibangun atas dasar dua budaya ini, yaitu budaya pesantren dengan budaya kampus menjadikan UIN Maliki sebagai satu-satunya kampus Islam terdepan di Indonesia. Untuk itu, UIN Maliki terus berupaya untuk mengembangkan program ma’had dan PKPBA serta Hai’ah Tahfidzil Quran (HTQ) UIN Maliki. “Sebagai Universitas, kampus ini mengembagnkan berbagai disiplin ilmu yang terbagi dalam enam fakultas,” urainya.

Saat ini, kata dia, UIN Maliki terus berupaya untuk mengembangkan kampus Islam ini untuk menjadi yang terdepan, untuk itu, dalam pertemuan ulama’ dan cendikiawan di UIN Maliki ini sekaligus mohon doa dan restunya dari para Habaib, Kiai dan para Alim Ulama’ agar cita-cita UIN Maliki menuju kampus kelas dunia atau yang akrab disebut World Class University (WCU) senantiasa dirahmati dan diberi kemudahan oleh Allah SWT. “Melalui forum Ulama’ ini saya memohon doa dan restunya agar UIN Maliki menjaidi kampus Islam terbaik dunia,” harapnya.

Sementara itu, Dr. M. Abdurrahman al Idrus dalam sambutannya mengajak semua para Ulama’ yang hadir untuk terus berupaya meningkatkan ukhwah Islamiyah antara umat Islam. Dewasa ini, umat islam telah dinodai dengan terjadinya pergolatan politik yang menyebabkan pecahnya persatuan umat Islam. Entah itu persoalan politik, soaisal budaya ataupun persoalan kelompok ormas Islam yang suka melakukan tidakan anarkis. “Tugas Ulama’ tidak hanya menyebarkasn hukum syariat Islam saja. Akan tetapi menjaga keutuhan dan keharmonisan tali persaudaraan antar umat juga menjadi tugas wajib para Ulama’” katanya.

Membiarkan umat terjerumus dalam kesesatan merupakan dosa besar, sehingga semua elemen tatanan masyarakat harus saling bekerjasama untuk memerangi ketidak benaran yang tengah terjadi, sehingga Ulama’ dan umat ada sinergitas yang tinggi untuk senantiasa menjadikan umat ini menuju umat yang baldatun toyibatun warobbun ghafur.  “Sekelompok umat Islam sudah pasti ada yang melakukan penyelewengan dan fitnah. Akan tetapi para Ulama tidak boleh bingung dan risau memikirkan persolan politik, dan perbedaan madzhab seperti itu, yang terpenting Ulama tetap saling menjaga keutuhan umat Islam agar tetap bersatu dalam kesatuan yang utuh,” pesannya.

sumber : UIN Malang

0 komentar

LPM Sinkronkan SOP di UIN Maliki

LPM

IMAKA MALANG - Lagi, upaya meningkatkan pelayanan kepada mahasiswa yang berkualitas Lembaga Penjaminan Mutu kali ini mengadakan pertemuan khusus bagi seluruh Kabag, Kasubbag, dan para staf di tingkatan Rektorat, Fakultas, Lembaga, Unit hingga Pascasarjana.

Acara yang berlangsung sehari itu dikhusukan untuk mensinkronkan Standar Oprasional Prosedur (SOP) di UIN Maliki (19/7).

Hadir sebagai pemateri tunggal staf ahli LPM UIN Maliki Rosihan. Dalam kesempatan itu, laki-laki berkacamata itu menghimbau kepada seluruh satker yang ada di UIN Maliki mulai dari tingkatan Rektorat, fakultas, unit, lembaga maupun pascasarna untuk senantiasa mensinkronkan kembali SOP yang dijalankan. Pasalnya, di lapangan masih ditemukan kendala-kendala yang dialami mahasiswa sebagai stake holder kampus hijau ini mengalami kebingungan.

Misalnya saja persoalan pembetulan nilai yang kerap terjadi menjelang masuknya semester baru. Banyak mahasiswa yang melakukan komplain terhadap nilai yang dirasa salah. Sehingga, hal ini perlu dicermati dan ditangani dengan penuh hati-hati dan teliti. Proses pembetulan ini, kata dia, tentu saja membutuhkan proses yang lumayan panjang yaitu dimulai dari pengajuan dari mahasiswa yang kompalin pada dosennya masing-masing kemudia dilanjutkan pada prosedur administrasi yang belaku di fakultas hingga akhirnya diproses di BAAK pusat. “Kejadian seperti ini di sering dialampi oleh mahasiswa kita,bahkan hampir tiap semester selalu ada,” keluhnya.

Sementara itu, Kepala BAAK, Endah, menyampaikan bahwa upaya BAAK dalam mensinkronkan dengan pihak fakultas telah dilakukan, dan SOP yang dijalankan sudah mengacu pada ketentuan dasar hukum di universitas ini. Dosen Psikologi Industri itu juga menyampaikan bahwa pihaknya sudah berupaya untuk senantiasa memperbaiki SOP yang dinilai kurang maksimal dalam memberikan pelayanan kepada mahasiswa. “Misalnya saja mahasiswa baru yang hendak menggunakan haknya di perpus, namun karena belum meiliki KTM pihak BAAK juga telah menyiapkan kartu tanda sementara yang dilengkapi dengan barcode yang teregister di Perpustakaan UIN Maliki, sehingga sambil menunggu KTM maba jadi mereka tetap bisa mengakses buku di Perpustakaan pusat UIN Maliki,” terangnya.

0 komentar

Cucu Petani Jadi Wisudawan Terbaik IPB

Taman IPB

Berhasil menamatkan studi dan meraih gelar sarjana merupakan sebuah kepuasaan tersendiri bagi seorang mahasiswa. Apalagi ditambah dengan gelar lulusan terbaik yang dianugerahkan pada proses wisuda.

Kebanggan tersebut yang dirasakan oleh salah seorang wisudawan terbaik Institut Pertanian Bogor (IPB) pada wisuda periode Juni 2014, yakni Ahmad Solikhin. Lulusan terbaik Fakultas Kehutanan IPB itu mengaku, prestasi yang diraihnya saat ini menjadi bukti jika keterbatasan finansial bukan penghalang untuk memberikan hasil terbaik.

"Sebagai cucu dari seorang petani, keterbatasan finansial selama menempuh kuliah di IPB bukan menjadi halangan untuk mencapai mimpi. Karena di kampus pertanian ini tersedia banyak beasiswa," ujar Ahmad, seperti dikutip dari siaran pers, Senin (30/6/2014).

Selama mengikuti perkuliahan di IPB, dia mendapatkan banyak ilmu. Terutama untuk bidang studi yang digelutinya, yaitu pertanian tropika. Oleh karena itu, Ahmad berharap dapat mengaplikasikan semua ilmu yang diperoleh untuk menghadapi berbagai persoalan di masyarakat kelak.

"Tidak hentinya, ilmu dan teknologi di bidang pertanian tropika terutama kehutanan yang diberikan selama di IPB, telah membuka mata saya lebar-lebar akan eksistensinya di Indonesia dan dunia. Sebagai sarjana, merupakan kesempatan emas untuk mengamalkan ilmu dan skill yang dimiliki kepada masyarakat," ungkapnya.

Kebersamaan dengan segenap civitas academica IPS selama beberapa tahun terakhir merupakan kesempatan berharga bagi Ahmad. Selain itu, wadah untuk mengukir prestasi secara akademik dan non-akademik, lingkungan sosial IPB juga memberikan banyak pengalaman berharga baginya.

"IPB telah banyak memberikan warna dan arti dalam kehidupan saya. Nuansa kampus yang religius, fasilitas belajar mengajar yang memadai, keragaman budaya, dan keaktifan organisasi mahasiswa telah banyak memberikan kesempatan untuk memperoleh ilmu, pengalaman, dan skill yang luar biasa. Selama di IPB, moral saya dididik untuk menerapkan kejujuran, misalnya ujian tidak mencontek dan memiliki integritas yang baik," tutup Ahmad.

0 komentar

Raeni, Wisudawan Terbaik Unnes & Becak Sang Ayah

Raeni

SEMARANG - Datang ke lokasi wisuda bersama orangtua tercinta adalah tradisi bagi para wisudawan di berbagai kampus. Bagi Raeni, ini berarti menumpang becak yang digenjot sang ayah, Mugiyono.

Tidak ada raut malu di wajah wisudawan terbaik di Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu. Raeni tersenyum sumringah di atas becak sang ayah hingga ke lokasi wisuda. Pemandangan ini pun menyita perhatian para keluarga wisudawan dan puluhan wartawan di kampus Unnes.

Gadis berkerudung ini lulus dari jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Unnes. Sejak semester pertama, peraih Bidikmisi ini membuktikan, keterbatasan ekonomi bukan halangan meraih prestasi. Dia beberapa kali meraih nilai indeks prestasi (IP) sempurna, 4,00. Hingga akhir masa studinya, Raeni mempertahankan prestasi tersebut dan mengantongi nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) akhir 3,96.

Lulus kuliah S-1 bukan berarti perjalanan Raeni terhenti. Faktanya, Raeni menunjukkan tekad baja agar bisa menikmati masa depan yang lebih baik dan membahagiakan keluarganya.

"Selepas sarjana, saya ingin melanjutkan kuliah lagi. Penginnya melanjutkan (kuliah) ke Inggris. Ya, kalau ada beasiswa lagi," kata Raeni seperti dinukil dari laman Unnes.

Sang ayah pun mendukung sepenuh hati keinginan Alumnus SMK 1 Kendal yang ingin menjadi guru itu. Bahkan, Mugiyono rela mengajukan pensiun dini dari perusahaan kayu lapis agar mendapatkan pesangon.

Sebagai gantinya, Mugiyono pun mulai mengayuh becak sejak 2010. Setiap hari, dia mangkal di Kelurahan Langenharjo, Kendal; tidak jauh dari rumahnya.

"Sebagai tukang becak, penghasilan saya tidak menentu, sekira Rp10 ribu hingga Rp50 ribu. Karena itu, saya juga bekerja sebagai penjaga malam sebuah sekolah dengan gaji Rp450 ribu per bulan," ujar Mugiyono.

Menurut Rektor Unnes, Prof. Dr. Fathur Rokhman, M.Hum., pencapaian Raeni membuktikan, anak dari keluarga kurang mampu tidak memiliki halangan untuk bisa berkuliah dan berprestasi. Salah satu contohnya adalah Raeni.

Tidak hanya itu, Fathur meyakini, dalam waktu dekat, kaum dhuafa akan bangkit melalui pendidikan. Keyakinan Fathur cukup  masuk akal mengingat setiap tahun ada 50 ribu mahasiswa tidak mampu yang menerima Bidikmisi. Unnes sendiri menyalurkan setidaknya 1.850 Bidikmisi setiap tahun dan menyediakan 26 persen dari total jumlah mahasiswa mereka untuk para siswa dari keluarga tidak mampu.

"Kami sangat bangga dengan apa yang diraih Raeni. Anak-anak dari keluarga miskin akan segera tampil menjadi kaum terpelajar baru. Mereka akan tampil sebagai eksekutif, intelektual, pengusaha, bahkan pemimpin republik ini," kata Fathur.

sumber : Kompas

0 komentar
 
Support : Aditya Nusantara | Berita Terbaru | Berita Kampus
Copyright © 2014. IMAKA MALANG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger